Monday, December 3, 2018

December 03, 2018

SEJARAH PAROKI SANTO PETRUS SUNGAI KAYAN-MARA 1

KOMSOS: Menurut sejarah awal berdirinya  Paroki St. Petrus Sungai Kayan Mara 1, perlu dilihat paroki induk, Yakni Tarakan. Perusahan minyak  di Tarakan menjadi daya tarik orang-orang dari luar Kalimantan untuk datang mengadu nasib di Kalimantan. Berhubung di antara para pekerja ada orang-orang beragama Katolik, mulailah didirikan sebuah Gereja di sana. Pelayanan mereka diemban oleh para misionaris MSF. Ketika itu, wilayah gereja Tarakan meliputi pulau wilayah berau, Bulungan dan Malinau.

Pada masa awal gereja dirintis di Tarakan, wilayah Bulungan masih identik dengan kesultanan Bulungan. Pada era tahun 60-an, di Kesultanan ada upaya-upaya untuk menggabungkan diri dengan Malaysia dan menamai wilayah mereka dengan nama Bultika. Adapun Bultika adalah kependekan dari Bulungan, Tidung dan Kayan. Ketiganya adalah Suku-Suku yang hidup di wilayah Kesultanan Bulungan. Bultika disokong oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang saat itu menjadi partai kuat Indonesia. Orang kayan tidak simpatik dengan Bultika.

Selepas peristiwa G30S PKI, beberapa orang kesultanan ditangkap dan kandaslah cita-cita Kesultanan untuk membentuk Bultika dan bergabung dengan Malaysia. Pemerintah Indonesia semakin kuat bercokol di wilayah Kesultanan. Tata pemerintah Kesultanan mulai kehilangan taringnya. Pada saat itulah, pemerintah Indonesia menujuk Bapak Winokan untuk mengurus pemerintah di wilayah Bulungan. Praktis ia menjadi semacam Bupati. Bapak Winokan adalah seorang Penganut Aliran katolik.

Berhubungan pasca G30S PKI, pemerintah mewajibkan setiap warga Negara Indonesia untuk memeluk satu dari lima agama yang diakui oleh pemerintah, Bapak Winokan menyerukan apa yang dikehendaki oleh pemerintah itu. Maka, suatu ketika sampailah Winokan ke wilayah pedelaman di tepian sungai kayan yang sudah memeluk agama Kristen Protestan kemah Injil.

Dalam salah satu kujungannya ke long Tungu pada 1966, berjumpalah ia dengan Wang Apui. Wang Apui tadinya adalah pemeluk Agama Kristen Protestan kemah injil. Karena menikah dengan wanita yang memeluk agama adat, ia tidak lagi bisa mengikuti peribadatan di gereja. Bapak Winokan mulai menawarkan Wang Apui agar memeluk satu dari lima agama resmi. Wang Apui memilih katolik. Karena Bapak Winokan juga orang katolik, ia berpesan kepada Wang Apui agar suatu saat, bila ke Tanjung Selor mampir ke rumahnya untuk sedikit diberi pengertian tentang agama Katolik.

Sampai dengan 1970-an, Winokan adalah satu dari segelintir umat katolik di Tanjung Selor. Dari winokanlah, Wang Apui mengetahui bahwa orang-orang Timor umumnya beragama katolik. Waktu itu, Banyak orang-orang Timor yang mencari kulit biawak di sepanjang Sungai Kayan. Interaksi  dengan orang-orang Timor pelan-pelan menjadi sebuah evangelisasi.

Mulailah kemudian mertua Wang Apui, Juk long, tertarik pada agama Katolik. Tiga orang Timor yang amat berperan dalam peristiwa-pristiwa awal masuknya agama katolik di sungai kayan adalah Tobias Tapun, Paulus making dan Paulus Kopong. Ketiga orang itu membawa Wang Apui ke Tarakan untuk menemui Pastor Dedekom, MSF dan Pastor Van de Graaf, MSF. Mereka mengutarkan bahwa orang-orang kayan khususnya Kayan Gaai di long Tungu, tertarik untuk menjadi Katolik. Saat itu pula wang Apui dibaptis, ia adalah orang kayan pertama yang dibaptis menjadi Katolik. Peristiwa ini terjadi pada Hari Raya Natal 1969. 

Sejak itu, Pastor Dedekom, MSF mulai mengadakan tourney ke wilayah Long tungu. Mulailah ia berkatekese di sana, mempermandikan orang, dan meneguhkan pasangan-pasangan yang menikah secara adat. Gereja katolik di long Tungu diketuai oleh Juk long dan wang Apui menjadi sekretaris sekaligus wakilnya. Pribadatan yang diadakan di sana dipimpin oleh Wang Apui.

Seiring dengan terjalinnya relasi Long Tungu dan Mara Satu, agama Katolik pun mulai masuk ke Mara Satu. Yang tinggal di Mara Satu adalah orang-orang Kayan Mapan. Suatu ketika, beberapa orang Kayan Mapan pergi ke Long Tungu menemui Juk long dan beberapa orang Timor untuk menanyakan perihal agama Katolik. Orang-orang Kayan Mapan ingin agar ada orang dari Long Tungu yang mengajar agama Katolik di Mara Satu. Atas petunjuk orang-orang Long Tungu, Nyuk Wan, satu dari orang Kayan Mapan yang ke Long Tungu, pergi ke baratan untuk menemui Paulus Making yang bersedia menjadi pengajar agama. Maka mulailah sejak tahun 1971 itu Paulus Making mengajar agama di Mara Satu. Ia mengajar di rumah panjang kepunyaan Nyuk Wan, Usat Ului dan Dimoi. Di rumah itu pula diadakan ibadat. Pada tahun yang sama Pastor Dedekom,MSF membaptis orang-orang Kayan Mapan dan Meneguhkan  pernikahan mereka secara Katolik.

Masih di tahun 1971, orang-orang Filipina datang ke Mara Satu dan mendirikan PT Kayan River Timber Product (KRTP). Karena banyak orang Filipina yang Katolik, Pastor Suyono, MSF memberikan jatah rutin turne ke Mara Satu. Dia tinggal di Tarakan. Rute perjalanannya meliputi Long Tungu, Mara Satu dan Tanjung Selor. KRTP banyak memberi bantuan berupa akomodasi dan transportasi untuk turne Pastor Suyono, MSF.

Karena dirasa perlu, umat Mara Satu mendirikan Gereja dengan bantuan kayu dari KRTP. Secara swadaya mereka juga mengambil batang nibung dari rawa-rawa untuk keperluan pembangunan. Setelah ada Gereja, Long Tungu sering ikut bergabung untuk Perayaan-perayaan Hari Raya. Tidak lama sesudahnya, dibangun gereja di Mara Dua oleh KRTP. Hingga saat itu, pastor dari Tarakan melayani wilayah sungai kayan: Long Tungu, Mara Dua, Stasi Mara Satu dan Stasi Tanjung Selor.

Setelah berdiri selama empat tahun, pada tahun 1975 umat di Mara Satu ingin memiliki gereja yang lebih baik. Saat itu sedang restlemen penduduk. Umat Mara banyak berkontak dengan MF Simamora, kembali bantuan KRTP mengucur dan terbangunlah gereja baru di Mara Satu.

Setahun kemudian, Anas Simamora mengadakan pelatihan doa atas ijin dari Pastor Raimundu Prawiro suyono, MSF. Dari pastor itu, Ia mendapat bantuan beras 100 Kg. Peserta pelatihan datang dari Long Tungu, Long Lembu, Mara Satu dan Antutan. Pelatihan mencakup pula bahan penataran P4 dan keterampilan menjahit untuk para pemudi.

Selanjutnya, di Long Lembu mengusahakan adanya sebuah gereja di sana. Atas saran Anas Simamora, mereka juga mendapatkan rekomendasi dari MF Simamora untuk meminta bantuan dari KRTP.

Sekitar tahun 1977, ada pemekaran paroki Tarakan menjadi Malinau ,Mara Satu (Sungai Kayan) dan Berau. Mara Satu dilayani oleh Para Pastor OMI yang tadinya bertugas  di Laos. Pastor Angello, OMI dan Pastor Natalino Belingheri, OMI adalah pastor yang menjabat sebagai pastor paroki Mara Satu. Inilah kali pertama ada pastor paroki di Mara Satu. Keduanya tinggal di rumah Alung Ajang, kepala desa walupun ketika itu ia belum Katolik. Semenjak menjadi paroki, Mara Satu mendapat beberapa pelatihan untuk memimpin ibadah atau pun kaum muda yang langsung ditangani dari Samarinda. Wilayah Paroki Sungai Kayan meliputi Mara Satu, Antutan, Tanjung Selor, Long tungu, Long lembu, Long Telenjau, Pimping dan Apo kayan.    

Tahun 1985 ada mutasi para pastor. Paroki Mara Satu ditangani Pastor Antonio Bocchi, OMI. Pastor Antonio Bocchi, OMI memindahkan pusat paroki Ke Tanjung Selor supaya dekat dengan pusat pemerintah. Saat Pastor Maratmo, MSF bertugas di paroki ini, ia tinggal di Mara Satu sehingga tetap ada satu pastor yang diam di  Mara. Sewaktu Pastor Antonio Bocci. OMI pindah ke Tarakan, Pastor Maratmo, MSF juga melayani wilayah MaraSatu aja.(Sumber: Wang Apui dan Anas simamora).

Pada Tahun 1996 paroki sungai kayan dipecah menjadi dua paroki, yaitu paroki sungai kayan sendiri dan paroki Santar Maria Assumpta Tanjung Selor. Dilanjut perkembangan berikutnya, Paroki Sungai Kayan sendiri dipecah lagi pada tahun 1988, yakni paroki Sungai Kayan dan Paroki Santo Lukas Apo Kayan. Setelah dilayani Pastor Maratmo, MSF, pelayanan dilanjutkan Pastor V. P. Bangun Wahyu Nugroho, Pr dan Pastor Kanisius Kopong Daten, Pr. Karya pelayanan kedua Pastor ini untuk sementara bukan hanya wilayah sungai kayan tetapi juga beberapa stasi dari Paroki Tanjung Selor dan satu wilayah dari Paroki Tidung Pala. Dengan demikian, karya pelayanan Paroki Sungai Kayan juga mencakup tiga Paroki dengan 4 kecamatan, di tiga wilayah sungai kayan besar (Sungai kayan, Sungai Pimping, Sungai sekatak). 

Setelah pembagian pelayanan yang lebih jelas dan ada pemekaran paroki sekatak (2003), paroki Mara Satu ini mempunyai wilayah sepanjang sungai kayan, yang meliputi dua kecamatan, yaitu Kecamatan Long Peso dan kecamatan Tanjung Palas Barat. Jumlah stasi 8 yaitu Mara Satu, Long Sama, Long Beluah, Long Lembu, Kampung Agung, Long Telenjau, Benyaung, dan Long Peso. Juga penambahan stasi-stasi baru yakni, naha aya dan Long Tungu. Maka saat ini, di Paroki Mara Satu terdapat 10 Stasi.

Pastor-Pastor yang pernah melayani di Paroki Santo Petrus Mara Satu selain yang sudah disebut di atas adalah Pastor Derik, Pr (2003-2004), Pastor Tri Wahyono, Pr (2003-2004), Pastor Jhon pareira, Pr (2003-2004), Pastor L.F Gino, MSC (2004-2005), Pastor Leonardus MT.Kusuma, MSF (2005-2014), Pastor Jayeng siswoputro, MSF (2010-2011), Pastor Edi Sulistiyo, MSF (2011-2017), Pastor TRI, MSF 2011 sampai sekarang.

Karya Pelayanan melalui Jalur Sungai Kayan Dan Darat

Karya Pelayanan melalui Jalur Sungai

Karya Pelayanan melalui Jalur Darat

Data Statistik Umat Pada Tahun 2018

No
Nama Stasi
Jumlah KK
Jumlah Jiwa
Keterangan
1
St. Petrus Mara Satu
97
387

2
St. Stepanus Long Sam
42
162

3
St.Yosep Long Beluah
50
300

4
St.Paulus Long Lembu
50
175

5
St. Kanisus Long Tungu
6
23

6.
St. Matius Kampung Agung
14
49

7
Tritunggal Maha Kudus Long Telenjau
24
63

8
St. Maria Gutawan/Beruhun
16
60

9
St. Yohanes naha Aya
5
25

10
Keluarga Kudus Long Bia
18
99

11
Long Lian
1
8

12
St. Anna Long Yin
31
144


Total
391 KK
1495 Jiwa



Karya Pelayanan

Dalam karya pelayanan, Paroki St. Petrus bersifat pastoral parokial yang menitik beratkan pada pembangunan umat setempat terutama dalam bidang pendalaman iman. Katekese umat menjadi sarana yang penting dalam memahami ajaran Gereja Katolik bagi umat. Tidak hanya dalam pendalaman iman, tetapi paroki juga memberikan pelayanan dalam hal pendidikan. Pelayanan itu dalam bentuk sarana, di mana bagunan Gereja yang lama kini digunakan untuk pendidikan anak usia dini (PAUD) dan bantuan perlengkapan alat-alat belajar. Ada juga pelayanan kesehatan, pastor dan petugas kesehatan mengunjungi umat stasi-stasi untuk mengadakan pemeriksaan serta pengobatan.

Kegiatan pastoral keluarga, (pendampingan keluarga) dalam rangka meningkatkan peran pentingnya keluarga dalam Gereja. Umat paroki St. Petrus Mara Satu mengadakan rekoleksi keluarga tahunan yang diadakan pada tanggal 30 desember, bertepatan dengan Hari Raya Pesta Keluarga Kudus. Dalam kegiatan ini, pastor paroki mendatangkan nara sumber Pastor atau dokter, sehingga umat dapat memahami arti perkawinan secara sungguh-sungguh terkhusus perkawinan gerejawi.

Tantangan yang masih dijumpai dalam pelayanan di paroki ini adalah menyangkut medan karya yang masih menggunakan transportasi sungai sehingga memakan biaya yang cukup besar, sedangkan transportasi darat belum maksimal. Jalan masih dalam kondisi kurang memungkinkan, terlebih bila pada musim penghujan jalan yang licin, serta rawan longsor yang sedikit tidak menjamin kelancaran perjalanan.

Sasaran utama pelayanan sekarang ditujukan kepada kemandirian umat sebagai gereja kecil di tengah-tengah masyarakat yang penuh dengan perubahan dan hidup bersama umat gereja lain dan juga agama lain.

Wilayah Paroki St. Petrus Sungai Kayan

Paroki St.Petrus, memiliki wilayah di sepanjang sungai kayan, yang meliputi  tiga  kecamatan. Antara lain kecamatan Tanjung Palas barat, bertempat di desa Long Beluah, Kecamatan Peso hilir, bertempat di Long Tungu dan  kecamatan Peso, yang berada di desa Long Peso di hulu Sungai Kayan. Jumlah keseluruhan stasi ada sebelas yaitu, stasi St. Stepanus (long sam), St. Yosep (long Beluah), St. Paulus (Long Lembu), St. Gregorius (Long Tungu), St. Matius (Kampung Agung/KM 5), Tritunggal maha Kudus (Long  Telanjau), Keluarga Kudus (Long Bia), St. Hilarius (Long Leju), St. Maria La Salette (Sungai Berhun), dan Sta. Anna (Naha Aya).

Sunday, June 3, 2018

June 03, 2018

THEME SONG JAMNAS SEKAMI KEUSKUPAN TANJUNG SELOR 2018, BERBAGI SUKACITA INJIL DALAM KEBHINNEKAAN BY KORY

BERBAGI SUKACITA INJIL DALAM KEBHINNEKAAN
CIPT./ARR.: KORY





HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO

AKU KAMU KITA MEMANG TAK SAMA
WARNA WARNI RAGAM SUKU BUDAYA
DI SELURUH PENJURU NUSANTARA
KITA SATU DALAM NAMA YESUS

HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO

AKU KAMU PUNYA TUGAS YANG SAMA
TEBARKAN KASIH SUKACITA ALLAH
DENGAN SEMANGAT 2D2K
DOA DERMA KURBAN DAN KESAKSIAN

JANGAN ADA RAGU, SIAP TUK DIUTUS
INILAH SEKAMI, KEUSKUPAN TANJUNG SELOR

REFREIN:
BERSUKALAH ... DALAM MELAYANI
WARTAKANLAH ... SUKACITA INJIL
DALAM PERBEDAAN DALAM KERAGAMAAN
SEKAMI SELALU JADI ...
JADI TERANG

HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO

BERSUKALAH ... DALAM MELAYANI
WARTAKANLAH ... SUKACITA INJIL
DALAM PERBEDAAN DALAM KERAGAMAAN
SEKAMI SELALU JADI ...
JADI TERANG
JADI TERANG ....
JADI TERANG
June 03, 2018

Kegiatan Pra JAMNAS Sekami 2018 dan Pembekalan Animator, Animatris dan Sekami Remaja Keuskupan Tanjung Selor

KTS-KKI: SEKAMI - Beberapa hari ini, tepatnya di Rumah Bina Emaus Keuskupan Tanjung Selor, Kalimantan Utara, dipenuhi oleh keceriaan anak-anak remaja dan animator animatris dari berbagai paroki di wilayah Keuskupan Tanjung Selor.


Tepatnya pada tanggal 30 Mei - 3 Juni 2018, dipandu oleh Sr. Gerarda, Bruder Sigit dan Kak Kory sekaligus sebagai animator dari Paroki Nunukan, diadakan pembekalan bagi Animator dan Animatris serta perwakilan remaja dari setiap paroki-paroki di wilayah Keuskupan Tanjung Selor. Paroki yang ikut terlibat adalah Paroki Katedral St. Maria Asumpta Tanjung Selor, Paroki St. Yosef Pekerja Juata Tarakan, Paroki St. Maria Imakulata Tarakan, Paroki Mensalong dan St. Gabriel Nunukan, Paroki St. Lukas Apokayan, Paroki Tanjung Redeb, Paroki St. Petrus Sungai Kayan dan Paroki St. Carolus Sekatak. Setiap Paroki tersebut mengirimkan 1 animator atau animatris dan 2 remaja (Kecuali Paroki St. Petrus Sungai Kayan yang mengirimkan 3 remaja tanpa animator/animatris dan paroki Katedral St. Maria Asumpta yang mengirimkan 1 animatris dan 3 remaja).



Kegiatan dibuka dengan perkenalan dari seluruh animator dan animatris serta remaja, diselingi dengan latihan gerak dan lagu. Acara hari pertama ditutup dengan doa Rosario Misioner.



Pada hari kedua, kegiatan diawali dengan Misa Pagi yang dipersembahkan oleh Vikjen KTS Alex Palino MSC, kemudian sarapan pagi dan outbond di bawah pengarahan dan bimbingan Bruder Sigit. 



Salah satu permainan yang paling seru bagi peserta dan juga sebagai permainan atau game terakhir adalah permainan Kolam Betesda, di mana para Remaja dan Animator animatris berjibaku mengisi air ke dalam pipa yang bolong-bolong. Di sini, semua peserta dituntut untuk saling bekerja sama dan saling memperkatikan kebutuhan satu dan yang lainnya. Kegiatan ditutup dengan sharing bersama dan dilanjutkan dengan GL dan evaluasi. Acara hari kedua ditutup dengan doa Rosario Misioner.



Kegiatan hari ke tiga antara lain Misa Pagi dipersembahkan oleh Pastor Libertus Suyono MSF, diskusi kelompok, sharing kitab suci dan kreasi seni di mana setiap kelompok menampilkan Yel Yel hasil diskusi kelompok. Selanjutnya kegiatan GL dan diakhiri dengan Jungle Survival. 



Hari ke empat diawali dengan Misa Pagi, dilanjutkan dengan sharing pengalaman terkait kegiatan Jungle Survival sebelumnya. Kegiatan di hari ini antara lain GL, pemantapan Yel Yel dan Theme Song, serta ditutup dengan ibadat Taize. Namun, sebelum ibadat Taize, pada pukul 17.00, semua peserta mendapatkan sapaan dari Yang Mulia Bapa Uskup Keuskupan Tanjung Selor yang baru saja terpilih, MGR Paulinus Yan Olla, MSF.



Kegiatan ditutup dengan Misa perutusan bersama Bapa Uskup dan farewell bagi semua peserta untuk kembali ke Paroki masing-masing. (JMalino)

Tuesday, May 15, 2018

May 15, 2018

Merajut Kebangsaan, Membendung Teroris di Bumi Kalimantan Utara

Merajut Kebangsaan, Membendung Teroris di Bumi Kalimantan Utara - Dengan semakin maraknya aksi terorisme yang menghantui Bangsa kita, Indonesia, seperti yang terjadi di bumi Surabaya, di mana terdapat 3 gereja yang menjadi sasaran bom bunuh diri serta Markas Kepolisian, maka hendaknya kita, sebagai bagian dari NKRI yang berada dalam Kebhinnekaan, terus mendorong ikatan persauradaan, merajut jiwa kebangsaan dan silatuhrahmi, sehingga bibit-bibit terorisme dapat kita cegah sedini mungkin.

Dan salah satu hal yang perlu dilakukan oleh para pemuka agama dan pemerintahan adalah saling sinergi membangun bangsa dengan terus menggalakkan persatuan dan kesatuan umat dan bangsa. Berikut ini adalah beberapa gambaran dari kegiatan "Merajut Kebangsaan, Membendung Teroris di Bumi Kalimantan Utara" bersama pemangku pemerintahan Provinsi Kalimantan Utara dan Tokoh Keagamaan dari Katolik yang langsung dihadiri oleh Uskup Baru Keuskupan Tanjung Selor, Mgr DR Paulinus Yan Olla, MSF.





Demikian beberapa foto yang sempat diabadikan selama kegiatan "Merajut Kebangsaan, Membendung Teroris di Bumi Kalimantan Utara" tersebut. 

Monday, May 14, 2018

May 14, 2018

Vesper Solemnis Menjelang Tahbisan Uskup Tanjung Selor Mgr. Paulinus Yan Olla, MSF

Salam sahabat KTS, beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 5 Mei 2018, dilaksanakan Pentahbisan Uskup Baru Keuskupan Tanjung Selor terpilih, Yaitu Mgr DR Paulinus Yan Olla, MSF. Berikut adalah salah satu rangkaian video foto yang diunggah ke laman Youtube oleh P Anggras Prijatno.
Demikian, video-video dan foto-foto lainnya akan kami sertakan pada artikel selanjutnya.