Sunday, January 13, 2019

January 13, 2019

Uskup Rayakan Natal Pertamanya di Bunyu | Pilihlah Pemimpin Yang Melayani Dengan Totalitas

Pilihlah Pemimpin Yang Melayani Dengan Totalitas
====Uskup Rayakan Natal Pertamanya di Bunyu===

Walaupun jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, namun Umat Katolik di Stasi Santa Maria  Ratu Rosario Pulau Bunyu merayakan sukacita Natal dengan penuh gembira dan Khidmat. Pasalnya, perayaan Natal 24 – 25 Desember 2018 dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Tanjung Selor Mgr. DR Paulinus Yan Ola, MSF.  Perayaan Natal tahun ini mengusung tema “Yesus Kristus Hikmat Allah Bagi Kita”. Menurut uskup, tema tersebut sesuai Tema Natal Konfrensi Wali Gereja (KWI) dan Persatuan Gereja Indonesia (PGI). 


Inti dari tema ini, pesan uskup adalah ada keprihatinan mengenai bagaimana Natal dirayakan dalam perspektif suatu pembelaan terhadap Hak- Hak Azasi Manusia. Terutama untuk melihat bagaimana manusia itu bisa diperlakukan dan di penuhi tuntutan- tuntutan dasarnya. “Jadi hak-hak Mendasar yang tidak bisa di dalam hidup berbangsa dan bernegara seperti, penghormatan kepada hak-hak manusia itu masuk dalam persepektif Allah yang begitu menghargai manusia dan segala yang di ciptakan, sehingga rela menjadi manusia,” pesan uskup dalam khotbanya. Lanjut uskup yang merayakan Natal pertamanya di Bunyu ini,  selain hak azasi manusia, ada juga unsur Hikmat Allah. Apabila unsur ini dihubungkan dengan Tahun Politik, maka tahun dimana para umat Allah menggunakan hak suaranya untuk pemilihan legislatif dan pemilihan Presiden dan Wakil presiden, maka disitu Umat Kristiani diajak untuk melihat calon-calon pemimpin yang bersikap dan bertindak  yang di inspirasi oleh Yesus Kristus. Pemimpin dimana mau merelahkan seluruh hidup-nya yang isi dengan totalitas pelayanan kepada bangsa dan negara. Pada selah-selah perayaan natal di stasi yang merupakan wilayah kerja Paroki Santo Joseph Pekerja Juata ini, uskup juga membaptis 4 orang. Pembabtisan ini merupakan aturan dan tradisi gereja katolik dalam penerimaan seseorang menjadi anggota gereja katolik.

Dalam lawatan uskup yang tiba di Pelabuhan Tidung Bunyu, Minggu (23/12/2018)  disambut meriah para umat katolik, Pastor Paroki Gereja Santo Joseph Pekerja Juata,  Pastor Rohmadi Mulyono  MSF, serta pengurus gereja.  Selanjutnya Mgr. Paulinus yang baru dithabiskan 5 Mei 2018 di Lapangan Agathis Tanjung Selor, diarak dari dermaga pulau penghasil minyak di Kalimantan Utara ini, menuju gereja katolik di Jl Bunyu Raya, dengan tarian dan budaya Jawa.

Ketua Dewan Stasi Santa Maria  Ratu Rosario Pulau Bunyu, Vincet Lena, menyampaikan bahwa, umat di stasi Bunyu sangat bersyukur dan bersukacita.  “Kunjungan dan perayaan natal yang dipimpin bapak uskup ini merupakan suatu Berkat serta Rahmat bagi kami umat,” tutupnya.(Wishok)










January 13, 2019

Pentahbisan Gereja Katolik Santo Gabriel Nunukan

Pentahbisan Gereja Katolik Santo Gabriel Nunukan
“Tempat ini telah Kupilih dan Kukuduskan, supaya nama-Ku tinggal di sini sepanjang masa “ (2 Taw.7:16)

Hari minggu tanggal 07 Oktober 2018 menjadi hari bersejarah bagi  umat katolik di Nunukan, kota perbatasan di Kalimantan Utara. Harapan dan semangat memiliki gedung gereja baru sudah terwujud. Semangat itu nampak terlihat dua minggu menjelang acara pentahbisan. Semua umat baik tua dan muda berbondong-bondong, bahu membahu membantu panitia mempersiapkan segala sesuatu untuk acara tersebut, mulai dari membersihkan dan meratakan jalan dan halaman gereja; mendirikan tenda, memasang sound system gereja, lampu dalam gereja sampai persiapan liturgis pentahbisan (koor dan petugas lainnya). Semuanya serba sibuk dan antusias mempersiapkan acara ini.
Hari minggu pagi tepat pkl.07.30 wita Uskup Tanjung Selor, Mgr. Dr.Paulinus Yan Olla,MFS tiba bersama rombongan para pastor didampingi Pastor Paroki Nunukan, Pastor Antonio M. Razolli,OFMConv di pintu gerbang gereja katolik. Bapak Uskup dan rombongan di sambut oleh perwakilan umat yang mengenahkan pakaian adat beberapa etnis sabagai symbol kebhinekaan dan kemajemukan umat yang ada di paroki St.Gabriel Nunukan. Bapak uskup langsung dikalungkan bunga dan kalung khas dayak sebagai symbol kekuatan dan pemersatu bagi semua umat di wilayah perbatasan Kalimantan utara. Rombongan Uskup diarak menunju rumah pastoran untuk persiapan misa pentahbisan. Semua umat terlihat riang gembira, suka cita menyambut kehadiran uskup yang pertama kali datang di Nunukan setelah ditahbiskan menjadi uskup.

MisaPentahbisan dimulai tepat pkl.08.00 wita. Dimulai dengan perarakan dari rumah pastoran, tarian perarakan oleh  anak-anak komuni pertama yang mengenahkan kostum serba putih, mengiringi rombongan Uskup, para pastor, misdinar, lektor dan petugas lainnya menuju pintu utama gereja. Awal dari prosesi pentahbisan dimulai. Di depan pintu utama gereja, Pastor paroki Santo Gabriel Nunukan, yang didampingi Ketua Panitia Pembangunan dan Kontraktor bangunan gereja, mewakili semua umat katolik Nunukan memohon kepada Uskup agar mentahbiskan gereja katolik agar bisa digunakan untuk tempat memuliahkan Tuhan. “Dengan ini saya atas nama umat katolik Paroki Santo Gabriel Nunukan, panitia pembangunan dan bapa kontraktor, saya serahkan gereja ini agar bapa uskup mentahbiskannya dan menambah sedikt berkat untuk kita umat semua supaya dalam memuliahkan Allah kita menemukan kesatuan yang oke punya dengan Kristus. Sekian.” ungkap Pastor Antonio dalam kata pembukaannya. Kunci pintu gereja utama diserahkan ke tangan bapa uskup oleh kontraktor gereja, Bapa Sundi Sinar Agung. Bapa Uskup mengunting pita dan sambil memberi tanda kemenangan Kristus bapa uskup berkata,”saudara-saudari terkasih, kita berkumpul di sini untuk mempersembahkan gedung gereja katolik Santo Gabriel Nunukan Keuskupan Tanjung Selor ini, secara meriah kita persembahkan kepada Tuhan, maka marilah kita memohon kepada Allah Tuhan kita agar kita berkenan memberkati gedung ini. Tuhan sendiri membantu kita dengan rahmat-Nya agar kita tetap setia dalam iman kita dalam gereja-Nya sesuai dengan bimbingan Roh-Nya yang sudah kita terima. Marilah umat silakan untuk masuk di gereja kita ini”. Bapa uskup membuka pintu utama dan mengajak semua umat masuk ke dalam gereja. Umat bertepuk tangan riang gembira dan suka cita. Dalam homilinya, bapa uskup menyampaikan ungkapan rasa kegembiraan Umat paroki santo Gabriel Nunukan “pada hari ini kita melihat suasana yang penuh kegembiraan. Kegembiraan yang diungkapkan dengan berbagai cara yang berbeda-beda”. Lebih lanjut bapa uskup menyatakan bahwa tradisi gereja katolik menegaskan gereja memiliki makna yang lebih dalam, tidak hanya sekedar satu bangunan fisik tetapi kesatuan orang-orang beriman. Arti gereja sendiri Ecslesia adalah orang-orang yang mendengar suara Tuhan. Diakhir Homilinya,Bapa uskup menegaskan bahwa Gereja katolik menjadi Eclesia Domestica (Gereja Rumah Tangga) maka sekalipun gedung gereja ini roboh, tetapi keluarga katolik kuat, tidak akan menangisinya karena imannya sangat kuat. “Batu-batu ini tersusun atas dasar iman umat katolik di Nunukan ini” pungkas bapa uskup. Setelah homily, Bapa uskup memberkati Altar, Tabernakel, mimbar bacaan dan 12 tiang penyangga utama gereja.

Acara selanjutnya setelah perayaan misa yaitu penandatanganan prasasti. Didamping oleh Pastor Paroki, Ketua Panitia Pembangunan, Bapa andreas Pendai dan Kontraktor bangunan, Bapa Sundi Sinar Agung, bapa uskup menandatangani prasasti. Setelah penandatanganan prasasti, bapa uskup menutup dengan berkat meriah. Umat pun bersuka cita dengan selasainya upacara misa pentahbisan tersebut. Ungkapan kegembiraan umat dipadukan dalam acara resepsi bersama yang dihadiri oleh semua lapisan masyarakat dan instansi pemerintah Kabupaten Nunukan. Bupati Nunukan, Hj.Asmin Laura Hafid langsung menghadiri acara ini. Dalam sambutannya Bupati Nunukan sangat berharap agar suasan kehidupan antar umat beragam tetap terjaga dan terjalin dengan baik. “Mari saling menghargai perbedaan itu” kata Ibu Laura. Kemeriahan acara ini tidak berhenti sampai siang itu. Pada malam hari, pesta dilanjutkan dengan hiburan umat/rakyat yang dimerihkan oleh artis local bertarif nasional. Mereka adalah Mario G.Klau, finalis Voice of Indonesia, Babo dan Rif Fals, ketiganya putra asli NTT yang diundang langsung oleh Takimaka Entertain.

Perjuangan untuk membangun gereja katolik baru membutuhkan energy, waktu dan dana yang tidak sedikt. Butuh waktu enam tahun untuk mewujudkan mimpi itu. Berawal dari peletakan batu pertama pada tanggal 24 maret 2012 oleh Bupati Nunukan saat itu, Drs.Basri dan Uskup Tanjung Selor, Mgr. Yustinus Hardjosusanto,MSF, umat paroki santo Gabriel Nunukan mulai membangun gereja katolik yang baru. Hanya modal semangat gotong royong dengan partisipasi iuran pembangunan setiap keluarga 1000 rupiah setiap hari, kami dapat mendirikan bangunan megah dengan struktur bangunan yang unik dan gereja terbesar di Kalimantan Utara dengan luas bangunan 1.500 M2 dan menampung umat sebanyak 2000 umat. Semangat yang sangat luar biasa datang dari Pastor Antonio M. Razzoli, seorang pastor dari ordo Fransiskan Conventual (OFMConv) yang menjadi pastor paroki Santo Gabriel Nunukan sejak tahun 2012. Struktur bangunan unik dan menggunakan batu alam adalah hasil karya Pastor Antonio. Dalam wawancara khusus dengan pastor berbadan tinggi besar ini, kami mendapatkan cerita tentang nilai filosofis dari bangunan gereja ini. Kalau kita melihat dari luar, bangunan gereja ini berbentuk bundar/bulat. Pastor Antoni menjelaskan bahwa itu sebenarnya adalah sebuah titik awal membentuk lingkaran dan lingkaran awal adalah di panti imam. Kemudian membentuk 7 lingkaran tangga koor dan diding jendela yang melambangkan 7 sakramen suci dalam gereja katolik. Kemudian di atas altar itu terpancar cahaya matahari dari atas melambangkan bahwa cahaya kehidupan yang kita butuhkan untuk menerangi kehidupan kita itu datang dari langit, datang dari surga dan datang dari Allah sendiri. Inspirasi Pastor paroki menggunakan batu alam untuk dinding bangunan karena batu itu melambangkan keabadian. Altar dan mimbar bacaan juga dari batu alam menyatakan bahwa ungkapan iman kita menghargai hasil karya ciptaan Allah untuk  kita gunakan sebagai saran memuliahkan Allah sendiri. Di Indonesia, baru dua bangunan gereja dengan model seperti ini yaitu di Kefamenanu, NTT dan Nunukan, Kalimantan Utara. Diakhir wawancara Pastor Antonio menyatakan kesan dan harapan untuk umat katolik yang ada di Nunukan. “Partisipasi dan suasana menunjukan kegembiraan umat. Maka saya mengajak umat semua untuk semakin hari semakin menghormati gereja ini sebagai 100 % Rumah Doa. Bagaimana umat beriman bertemu memuliahkan Allah di dalam kebersamaanpesan Pastor. Kado istimewa juga buat umat paroki Santo Gabriel Nunukan karena pada tahun ini merayahkan Hari Ulang Tahun Paroki ke-34 pada tanggal 29 September 2018 yang lalu.

Penulis: Arsenius Sele,S.Pd
Ketua DPP St.Gabriel Nunukan
Sumber:File dokomentasi Panitia Pentahbisan Gereja

Monday, December 3, 2018

December 03, 2018

SEJARAH PAROKI SANTO PETRUS SUNGAI KAYAN-MARA 1

KOMSOS: Menurut sejarah awal berdirinya  Paroki St. Petrus Sungai Kayan Mara 1, perlu dilihat paroki induk, Yakni Tarakan. Perusahan minyak  di Tarakan menjadi daya tarik orang-orang dari luar Kalimantan untuk datang mengadu nasib di Kalimantan. Berhubung di antara para pekerja ada orang-orang beragama Katolik, mulailah didirikan sebuah Gereja di sana. Pelayanan mereka diemban oleh para misionaris MSF. Ketika itu, wilayah gereja Tarakan meliputi pulau wilayah berau, Bulungan dan Malinau.

Pada masa awal gereja dirintis di Tarakan, wilayah Bulungan masih identik dengan kesultanan Bulungan. Pada era tahun 60-an, di Kesultanan ada upaya-upaya untuk menggabungkan diri dengan Malaysia dan menamai wilayah mereka dengan nama Bultika. Adapun Bultika adalah kependekan dari Bulungan, Tidung dan Kayan. Ketiganya adalah Suku-Suku yang hidup di wilayah Kesultanan Bulungan. Bultika disokong oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang saat itu menjadi partai kuat Indonesia. Orang kayan tidak simpatik dengan Bultika.

Selepas peristiwa G30S PKI, beberapa orang kesultanan ditangkap dan kandaslah cita-cita Kesultanan untuk membentuk Bultika dan bergabung dengan Malaysia. Pemerintah Indonesia semakin kuat bercokol di wilayah Kesultanan. Tata pemerintah Kesultanan mulai kehilangan taringnya. Pada saat itulah, pemerintah Indonesia menujuk Bapak Winokan untuk mengurus pemerintah di wilayah Bulungan. Praktis ia menjadi semacam Bupati. Bapak Winokan adalah seorang Penganut Aliran katolik.

Berhubungan pasca G30S PKI, pemerintah mewajibkan setiap warga Negara Indonesia untuk memeluk satu dari lima agama yang diakui oleh pemerintah, Bapak Winokan menyerukan apa yang dikehendaki oleh pemerintah itu. Maka, suatu ketika sampailah Winokan ke wilayah pedelaman di tepian sungai kayan yang sudah memeluk agama Kristen Protestan kemah Injil.

Dalam salah satu kujungannya ke long Tungu pada 1966, berjumpalah ia dengan Wang Apui. Wang Apui tadinya adalah pemeluk Agama Kristen Protestan kemah injil. Karena menikah dengan wanita yang memeluk agama adat, ia tidak lagi bisa mengikuti peribadatan di gereja. Bapak Winokan mulai menawarkan Wang Apui agar memeluk satu dari lima agama resmi. Wang Apui memilih katolik. Karena Bapak Winokan juga orang katolik, ia berpesan kepada Wang Apui agar suatu saat, bila ke Tanjung Selor mampir ke rumahnya untuk sedikit diberi pengertian tentang agama Katolik.

Sampai dengan 1970-an, Winokan adalah satu dari segelintir umat katolik di Tanjung Selor. Dari winokanlah, Wang Apui mengetahui bahwa orang-orang Timor umumnya beragama katolik. Waktu itu, Banyak orang-orang Timor yang mencari kulit biawak di sepanjang Sungai Kayan. Interaksi  dengan orang-orang Timor pelan-pelan menjadi sebuah evangelisasi.

Mulailah kemudian mertua Wang Apui, Juk long, tertarik pada agama Katolik. Tiga orang Timor yang amat berperan dalam peristiwa-pristiwa awal masuknya agama katolik di sungai kayan adalah Tobias Tapun, Paulus making dan Paulus Kopong. Ketiga orang itu membawa Wang Apui ke Tarakan untuk menemui Pastor Dedekom, MSF dan Pastor Van de Graaf, MSF. Mereka mengutarkan bahwa orang-orang kayan khususnya Kayan Gaai di long Tungu, tertarik untuk menjadi Katolik. Saat itu pula wang Apui dibaptis, ia adalah orang kayan pertama yang dibaptis menjadi Katolik. Peristiwa ini terjadi pada Hari Raya Natal 1969. 

Sejak itu, Pastor Dedekom, MSF mulai mengadakan tourney ke wilayah Long tungu. Mulailah ia berkatekese di sana, mempermandikan orang, dan meneguhkan pasangan-pasangan yang menikah secara adat. Gereja katolik di long Tungu diketuai oleh Juk long dan wang Apui menjadi sekretaris sekaligus wakilnya. Pribadatan yang diadakan di sana dipimpin oleh Wang Apui.

Seiring dengan terjalinnya relasi Long Tungu dan Mara Satu, agama Katolik pun mulai masuk ke Mara Satu. Yang tinggal di Mara Satu adalah orang-orang Kayan Mapan. Suatu ketika, beberapa orang Kayan Mapan pergi ke Long Tungu menemui Juk long dan beberapa orang Timor untuk menanyakan perihal agama Katolik. Orang-orang Kayan Mapan ingin agar ada orang dari Long Tungu yang mengajar agama Katolik di Mara Satu. Atas petunjuk orang-orang Long Tungu, Nyuk Wan, satu dari orang Kayan Mapan yang ke Long Tungu, pergi ke baratan untuk menemui Paulus Making yang bersedia menjadi pengajar agama. Maka mulailah sejak tahun 1971 itu Paulus Making mengajar agama di Mara Satu. Ia mengajar di rumah panjang kepunyaan Nyuk Wan, Usat Ului dan Dimoi. Di rumah itu pula diadakan ibadat. Pada tahun yang sama Pastor Dedekom,MSF membaptis orang-orang Kayan Mapan dan Meneguhkan  pernikahan mereka secara Katolik.

Masih di tahun 1971, orang-orang Filipina datang ke Mara Satu dan mendirikan PT Kayan River Timber Product (KRTP). Karena banyak orang Filipina yang Katolik, Pastor Suyono, MSF memberikan jatah rutin turne ke Mara Satu. Dia tinggal di Tarakan. Rute perjalanannya meliputi Long Tungu, Mara Satu dan Tanjung Selor. KRTP banyak memberi bantuan berupa akomodasi dan transportasi untuk turne Pastor Suyono, MSF.

Karena dirasa perlu, umat Mara Satu mendirikan Gereja dengan bantuan kayu dari KRTP. Secara swadaya mereka juga mengambil batang nibung dari rawa-rawa untuk keperluan pembangunan. Setelah ada Gereja, Long Tungu sering ikut bergabung untuk Perayaan-perayaan Hari Raya. Tidak lama sesudahnya, dibangun gereja di Mara Dua oleh KRTP. Hingga saat itu, pastor dari Tarakan melayani wilayah sungai kayan: Long Tungu, Mara Dua, Stasi Mara Satu dan Stasi Tanjung Selor.

Setelah berdiri selama empat tahun, pada tahun 1975 umat di Mara Satu ingin memiliki gereja yang lebih baik. Saat itu sedang restlemen penduduk. Umat Mara banyak berkontak dengan MF Simamora, kembali bantuan KRTP mengucur dan terbangunlah gereja baru di Mara Satu.

Setahun kemudian, Anas Simamora mengadakan pelatihan doa atas ijin dari Pastor Raimundu Prawiro suyono, MSF. Dari pastor itu, Ia mendapat bantuan beras 100 Kg. Peserta pelatihan datang dari Long Tungu, Long Lembu, Mara Satu dan Antutan. Pelatihan mencakup pula bahan penataran P4 dan keterampilan menjahit untuk para pemudi.

Selanjutnya, di Long Lembu mengusahakan adanya sebuah gereja di sana. Atas saran Anas Simamora, mereka juga mendapatkan rekomendasi dari MF Simamora untuk meminta bantuan dari KRTP.

Sekitar tahun 1977, ada pemekaran paroki Tarakan menjadi Malinau ,Mara Satu (Sungai Kayan) dan Berau. Mara Satu dilayani oleh Para Pastor OMI yang tadinya bertugas  di Laos. Pastor Angello, OMI dan Pastor Natalino Belingheri, OMI adalah pastor yang menjabat sebagai pastor paroki Mara Satu. Inilah kali pertama ada pastor paroki di Mara Satu. Keduanya tinggal di rumah Alung Ajang, kepala desa walupun ketika itu ia belum Katolik. Semenjak menjadi paroki, Mara Satu mendapat beberapa pelatihan untuk memimpin ibadah atau pun kaum muda yang langsung ditangani dari Samarinda. Wilayah Paroki Sungai Kayan meliputi Mara Satu, Antutan, Tanjung Selor, Long tungu, Long lembu, Long Telenjau, Pimping dan Apo kayan.    

Tahun 1985 ada mutasi para pastor. Paroki Mara Satu ditangani Pastor Antonio Bocchi, OMI. Pastor Antonio Bocchi, OMI memindahkan pusat paroki Ke Tanjung Selor supaya dekat dengan pusat pemerintah. Saat Pastor Maratmo, MSF bertugas di paroki ini, ia tinggal di Mara Satu sehingga tetap ada satu pastor yang diam di  Mara. Sewaktu Pastor Antonio Bocci. OMI pindah ke Tarakan, Pastor Maratmo, MSF juga melayani wilayah MaraSatu aja.(Sumber: Wang Apui dan Anas simamora).

Pada Tahun 1996 paroki sungai kayan dipecah menjadi dua paroki, yaitu paroki sungai kayan sendiri dan paroki Santar Maria Assumpta Tanjung Selor. Dilanjut perkembangan berikutnya, Paroki Sungai Kayan sendiri dipecah lagi pada tahun 1988, yakni paroki Sungai Kayan dan Paroki Santo Lukas Apo Kayan. Setelah dilayani Pastor Maratmo, MSF, pelayanan dilanjutkan Pastor V. P. Bangun Wahyu Nugroho, Pr dan Pastor Kanisius Kopong Daten, Pr. Karya pelayanan kedua Pastor ini untuk sementara bukan hanya wilayah sungai kayan tetapi juga beberapa stasi dari Paroki Tanjung Selor dan satu wilayah dari Paroki Tidung Pala. Dengan demikian, karya pelayanan Paroki Sungai Kayan juga mencakup tiga Paroki dengan 4 kecamatan, di tiga wilayah sungai kayan besar (Sungai kayan, Sungai Pimping, Sungai sekatak). 

Setelah pembagian pelayanan yang lebih jelas dan ada pemekaran paroki sekatak (2003), paroki Mara Satu ini mempunyai wilayah sepanjang sungai kayan, yang meliputi dua kecamatan, yaitu Kecamatan Long Peso dan kecamatan Tanjung Palas Barat. Jumlah stasi 8 yaitu Mara Satu, Long Sama, Long Beluah, Long Lembu, Kampung Agung, Long Telenjau, Benyaung, dan Long Peso. Juga penambahan stasi-stasi baru yakni, naha aya dan Long Tungu. Maka saat ini, di Paroki Mara Satu terdapat 10 Stasi.

Pastor-Pastor yang pernah melayani di Paroki Santo Petrus Mara Satu selain yang sudah disebut di atas adalah Pastor Derik, Pr (2003-2004), Pastor Tri Wahyono, Pr (2003-2004), Pastor Jhon pareira, Pr (2003-2004), Pastor L.F Gino, MSC (2004-2005), Pastor Leonardus MT.Kusuma, MSF (2005-2014), Pastor Jayeng siswoputro, MSF (2010-2011), Pastor Edi Sulistiyo, MSF (2011-2017), Pastor TRI, MSF 2011 sampai sekarang.

Karya Pelayanan melalui Jalur Sungai Kayan Dan Darat

Karya Pelayanan melalui Jalur Sungai

Karya Pelayanan melalui Jalur Darat

Data Statistik Umat Pada Tahun 2018

No
Nama Stasi
Jumlah KK
Jumlah Jiwa
Keterangan
1
St. Petrus Mara Satu
97
387

2
St. Stepanus Long Sam
42
162

3
St.Yosep Long Beluah
50
300

4
St.Paulus Long Lembu
50
175

5
St. Kanisus Long Tungu
6
23

6.
St. Matius Kampung Agung
14
49

7
Tritunggal Maha Kudus Long Telenjau
24
63

8
St. Maria Gutawan/Beruhun
16
60

9
St. Yohanes naha Aya
5
25

10
Keluarga Kudus Long Bia
18
99

11
Long Lian
1
8

12
St. Anna Long Yin
31
144


Total
391 KK
1495 Jiwa



Karya Pelayanan

Dalam karya pelayanan, Paroki St. Petrus bersifat pastoral parokial yang menitik beratkan pada pembangunan umat setempat terutama dalam bidang pendalaman iman. Katekese umat menjadi sarana yang penting dalam memahami ajaran Gereja Katolik bagi umat. Tidak hanya dalam pendalaman iman, tetapi paroki juga memberikan pelayanan dalam hal pendidikan. Pelayanan itu dalam bentuk sarana, di mana bagunan Gereja yang lama kini digunakan untuk pendidikan anak usia dini (PAUD) dan bantuan perlengkapan alat-alat belajar. Ada juga pelayanan kesehatan, pastor dan petugas kesehatan mengunjungi umat stasi-stasi untuk mengadakan pemeriksaan serta pengobatan.

Kegiatan pastoral keluarga, (pendampingan keluarga) dalam rangka meningkatkan peran pentingnya keluarga dalam Gereja. Umat paroki St. Petrus Mara Satu mengadakan rekoleksi keluarga tahunan yang diadakan pada tanggal 30 desember, bertepatan dengan Hari Raya Pesta Keluarga Kudus. Dalam kegiatan ini, pastor paroki mendatangkan nara sumber Pastor atau dokter, sehingga umat dapat memahami arti perkawinan secara sungguh-sungguh terkhusus perkawinan gerejawi.

Tantangan yang masih dijumpai dalam pelayanan di paroki ini adalah menyangkut medan karya yang masih menggunakan transportasi sungai sehingga memakan biaya yang cukup besar, sedangkan transportasi darat belum maksimal. Jalan masih dalam kondisi kurang memungkinkan, terlebih bila pada musim penghujan jalan yang licin, serta rawan longsor yang sedikit tidak menjamin kelancaran perjalanan.

Sasaran utama pelayanan sekarang ditujukan kepada kemandirian umat sebagai gereja kecil di tengah-tengah masyarakat yang penuh dengan perubahan dan hidup bersama umat gereja lain dan juga agama lain.

Wilayah Paroki St. Petrus Sungai Kayan

Paroki St.Petrus, memiliki wilayah di sepanjang sungai kayan, yang meliputi  tiga  kecamatan. Antara lain kecamatan Tanjung Palas barat, bertempat di desa Long Beluah, Kecamatan Peso hilir, bertempat di Long Tungu dan  kecamatan Peso, yang berada di desa Long Peso di hulu Sungai Kayan. Jumlah keseluruhan stasi ada sebelas yaitu, stasi St. Stepanus (long sam), St. Yosep (long Beluah), St. Paulus (Long Lembu), St. Gregorius (Long Tungu), St. Matius (Kampung Agung/KM 5), Tritunggal maha Kudus (Long  Telanjau), Keluarga Kudus (Long Bia), St. Hilarius (Long Leju), St. Maria La Salette (Sungai Berhun), dan Sta. Anna (Naha Aya).

Sunday, June 3, 2018

June 03, 2018

THEME SONG JAMNAS SEKAMI KEUSKUPAN TANJUNG SELOR 2018, BERBAGI SUKACITA INJIL DALAM KEBHINNEKAAN BY KORY

BERBAGI SUKACITA INJIL DALAM KEBHINNEKAAN
CIPT./ARR.: KORY





HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO

AKU KAMU KITA MEMANG TAK SAMA
WARNA WARNI RAGAM SUKU BUDAYA
DI SELURUH PENJURU NUSANTARA
KITA SATU DALAM NAMA YESUS

HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO

AKU KAMU PUNYA TUGAS YANG SAMA
TEBARKAN KASIH SUKACITA ALLAH
DENGAN SEMANGAT 2D2K
DOA DERMA KURBAN DAN KESAKSIAN

JANGAN ADA RAGU, SIAP TUK DIUTUS
INILAH SEKAMI, KEUSKUPAN TANJUNG SELOR

REFREIN:
BERSUKALAH ... DALAM MELAYANI
WARTAKANLAH ... SUKACITA INJIL
DALAM PERBEDAAN DALAM KERAGAMAAN
SEKAMI SELALU JADI ...
JADI TERANG

HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO
HEI YA WEYA WEYO HEI YA WEYO

BERSUKALAH ... DALAM MELAYANI
WARTAKANLAH ... SUKACITA INJIL
DALAM PERBEDAAN DALAM KERAGAMAAN
SEKAMI SELALU JADI ...
JADI TERANG
JADI TERANG ....
JADI TERANG