Monday, January 25, 2010

“HENDAKNYA MERAYAKAN EKARISTI DENGAN BAIK DAN MEWUJUDKANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI ”


Segenap umat Katolik di wilayah keuskupan Tanjung Selor yang terkasih.
Hari Rabu Abu tahun ini akan jatuh pada tanggal  9 Maret  2011. Mulai hari itu semua orang Katolik mema-suki masa Prapaska, menyambut Hari Raya Paska. Untuk mempersiapkan Hari Raya itu dengan baik diperlukan persiapan yang baik yaitu dengan laku tobat. Selama masa itu, pertobatan dilakukan secara khusus dengan ungkapan khusus pula yaitu berpantang dan berpuasa.  Namun yang paling penting untuk kita tingkatkan adalah mengarahkan kembali dan mendekatkan hidup kita kepada Allah, dan meninggalkan sifat, sikap dan  perilaku yang tidak baik. Selama tahun 2011 ini kita ingin meningkatkan pemahaman dan keterlibatan kita dalam Ekaristi dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian hidup beragama dan iman  kita semakin kokoh seperti rumah yang dibangun  di atas batu.
Salah satu ciri khas kita orang katolik adalah merayakan Ekaristi. Dalam Perayaan Eakristi kita merayakan misteri keselamatan kita umat manusia. Di dalamnya kita kenangka npuncak karya penyelamatan Tuhan  bagi semua orang yaitu, sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.
Memperhatikan, memahami dan mengambil bagian secara baik dalam perayaan Ekaristi sangatlah bermanfaat bagi hidup iman kita. Dalam Ekaristi banyak  sekali simbol, ada sikap, tindakan, warna dan lain-lain. Sangatlah perlu dan bermanfaat bagi setiap orang katolik untuk mengerti arti dan maknanya. Selain itu, perlu juga memahami bagian-bagiannya. Dengan demikian, kita semakin mengerti apa yang kita  lihat dan lakukan selama Ekaristi. Dalam Surat Gembala saya tahun lalu saya katakan bahwa tidak sedikit orang katolik yang melakukan kewajibannya, termasuk Ekaristi, namun tidak mengerti arti dan maknanya.
Ekaristi dimulai dengan menandai diri kita dengan Tanda Salib seraya mengucapkan “Dalam nama Bapa dan Potera dan Roh Kudus” Kita sampaikan pujian kepada Alah tritunggal yang Mahakudus, sumber dan teladan sempurna cinta kasih. Tiga pribadi tetapi satu Allah. Kita mulai Ekaristi dengan mengakui bahwa kita orang berdosa. Kita diingatkan bahwa kita semua adalah orang berdosa. Kita ungkapkan kerendahan hati kita di hadapnNya. Mengakuim kekurangan merupakan sikap dasar yang tepat untuk mengakui  kesucian Allah dan kerahimanNya yang memanggil kita untuk bertobat. Memperbaiki diri dari hari ke hari.
Kitapun diharapkan membuka hati untukmemndenagrkan Firman Tuhan yang menjadi peganan hidup kita karena kita percaya dengan mendengarkan Sabda tuhan dan melaksanakannya kita akan mendapatkan kebahagiaan sejati. Dalam liturgi Ekaristi kitarayakan Yesus yang adalah Imam Agung yang mempersembahkan persembahan yang sempurna dan sekaligus menjadi persembahan. Ia mempersembahkan diri secara utuh kepada Bapa dan manusia dengan sengsara wafat dan kebangkitanNya. Ia berbuat demikian karena cintaNya kepada umat manusia. Dengan kata-katanya: “Inilah tubuhKu yang diserahkan bagimu. Inilah darahKu yang ditumpahkan demi pengampunan dosa.” Ia menyerahkan Diri seutuhnya dan  sehabis-habisnya bagi kita. Maksudnya agar kita mendaptkan pengampunan dan diselamatkan.
Maka, saat itu merupakan saat yang sakral, waktu yang suci saat Tuhan yang hadir di tengah umatNya dan menyerahkan diri karena cinta kasihNya.
Tindakan-Nya hadir dan menyattkan cinta kasihNya diwujudkan dengan Komuni. Maka sangatlah wajar bila untk itu setiap orang yang maumenyambut komuni mesti berpantas diri. Orang yang berada dalam situasi dosa berat tidak diperkenankan menerimanya.
Pada akhir Ekaristi setiap orang yang ikut serta mendapat berkat Tuhan dan diutus untuk memberi kesaksian melalui hidup sehari-hari dan mewartkan kasih Allah ini kepada sesama yang merupakan kabar sukacita.
Apa yang kita rayakan dalam Ekaristi mesti mewujud dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, saya mengajak segenap pasangan suami-isteri dan mereka yang mempersiapkan hidup berkeluarga untuk  belajar dan mengerti serta mendalami arti dan tujuan hidup berkeluarga menurut ajaran Gereja Katolik. Dengan mengerti dan memahami makna dan arti hidup berkeluarga itu mereka yang mempersiapkan diri untuk menikah akan tahu luhurnya nilai pernikahan, konsekuensi dan kewajibannya bila kelak telah menjadi suami isteri dan hidup berkeluarga. Pasangan suami-isteri akan mengetahui lebih baik Ajaran dan Tradisi Gereja Katolik untuk melihat dan menilai situasi hidup keluarga agar dapat mengembangkannya. Pasangan suami isteri diharapkan semakin bertumbuh dalam iman akan Allah yang telah menyatukan mereka, sehingga ikatan perkawinan tetap kokoh dan tak terpisahkan sampai akhir hayat.
Selain perlu mengetahui ajaran Gereja Katolik mengenai hidup berkeluarga, orang tua juga mesti mengetahui dan mengerti ajaran Gereja dan Tradisi Katolik lainnya. Pengetahuan dan pemahaman akan hal itu amat berguna bagi perkembangan hidup iman mereka sendiri dan merupakan bekal yang baik dalam mendidik anak-anak dalam hidup iman. Bagaimana mungkin orang tua dapat mendidik anak-anak secara Katolik kalau mereka sendiri tidak mengerti dan memahami Ajaran dan Tradisi Gereja Katolik. Perlu diingat bahwa keluarga merupakan sekolah utama dalam mengembangkan kepribadian dan tempat belajar utama dan pertama bagi anak-anak dalam hal kasih dan wahana untuk menghayati kasih sejati.
Sebagai buah kasih suami-isteri, anak-anak dalam keluarga mesti menerima kasih dari orang tua. Salah satu bentuk utama kasih itu adalah memberikan dan mewariskan yang terbaik, yaitu iman. Anak-anak perlu mendapatkan pendidikan agama yang cukup sehingga hidup iman berkembang dan diharapkan menjadi orang Katolik yang baik. Perlulah disadari bahwa penanggungjawab utama pendidikan bagi anak-anak adalah orang tua. Merekalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anak. Peran itu tidak tergantikan dan tidak dapat diambil alih oleh orang-orang lain dan tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada pihak lain.  Diharapkan dengan mengetahui Ajaran dan Tradisi Gereja Katolik, dalam diri anak-anak tumbuh rasa bangga sebagai orang katolik dan dengan demikian akan terus  memperkembangkan hidup iman mereka. Kalau demikian, akan kokohlah hidup iman mereka dan tidak mudah goyah.
Salah satu bentuk pendidikan yang sangat berdaya guna bagi anak anak adalah ajakan dengan sekaligus memberi teladan. Mengenai hal itu telah saya sampaikan dalam Surat Gembala Prapaska tahun 2009, ”teladan merupakan ajakan yang paling baik.” …”anak adalah peniru yang hebat. Apa yang dilakukan oleh orang tua atau orang dewasa akan diikuti dan dicontoh. Selain itu, masa anak-anak merupakan masa yang paling baik untuk menanamkan kebiasaan yang akan mengesan dan berakar dalam hidup selanjutnya.” Bentuk pendidikan awal yang paling baik kiranya justru keteladanan.
 Sebagai persekutuan yang hidup dalam kebersamaan, keluarga-keluarga mesti dijiwai dan dibimbing oleh aturan tak tertulis “memberi secara sukarela” Pemberian dengan sukarela itu diwujudkan dengan perjumpaan dan dialog dengan keluarga lain, kesiapsediaan membantu tanpa pamrih, pemberian dengan murah hati dan kesetiakawanan yang mendalam. Syukurlah masyarakat kita masih tetap menjunjung tinggi tradisi yang berkaitan dengan itu. Bila ada warga sekampung menderita sakit, warga setempat berusaha sedapat mungkin untuk membantu. Membukakan ladang, membantu dalam bentuk dana, memberi perhatian khusus merupakan tradisi yang menunjukkan kekesiapsediaan, pemberian yang murah hati serta wujud kesetiakawanan itu. Dalam hidup iman, itu berarti warga stasi atau paroki mesti mengembangkan kepedulian dan ikut bertanggungjawab akan hidup iman saudara-saudara seiman, khususnya yang sedang mengalami tantangan dan kesulitan serta keraguan sehingga mulai menjauh dari Gereja Katolik. Membiarkan mereka yang sakit dalam hidup iman dan keagamaannya  berjuang sendiri atau bahkan jatuh,  berarti mengingkari tanggung jawab dan kesetiakawanan kita dengan saudara-saudari seiman.
Demikian pula setiap keluarga mesti memberi perhatian kepada keluarga lain. Kepada yang sedang menghadapi masalah dan berada dalam kesulitan termasuk dalam hal iman, perlulah diberi bantuan. Keluarga membantu keluarga. Untuk menumbuhkan sikap dan mendorong untuk saling membantu ini, perlulah dibentuk Tim Kerasulan Keluarga di setiap stasi.  Dengan adanya Tim itu diharapkan semangat “Keluarga membantu Keluarga” semakin berkembang sehingga hidup keluarga-keluarga katolik semakin baik karena saling membantu dan memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi.  
Semoga semangat hidup Keluarga Kudus Nasareth tempat Yesus berkembang, dan yang merupakan teladan keluarga-keluarga Katolik, selalu menjiwai kita dalam menghayati hidup sesuai dengan Ajaran dan Tradisi Gereja Katolik. Asuhan Keluarga Kudus Nasareth senantiasa menyertai seluruh keluarga Katolik di Keuskupan kita.
  
Tanjung Selor, 25 Januari 2010.


Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF
                                                                                                               Uskup Keuskupan Tanjung Selor



No comments:

Post a Comment