Friday, August 6, 2010

August 06, 2010

ARTI HIDUP





Apalah arti hidup jika tak mampu menghargai orang lain,,,
Apalah arti hidup jika tak mampu berbagi dengan sesama,,,
Apalah artinya hidup jika tak mampu memaafkan,,,
Apalah artinya hidup jika saling menyakiti,,,
Apalah artinya hidup jika tak mampu mengerti perasaan orang lain,,,
Apalah artinya hidup jika tak mampu menciptakan damai dengan diri sendiri,,,
Apalah artinya hidup jika tak mampu memilih,,,
Apalah artinya hidup jika tak mampu menentukan sikap dan pilihan,,,


Namun yang terpenting,,,apalah artinya hidup ini jika tak mampu mencintai,,,
Karena dengan mencintai aku mampu memaafkan hingga tak ada satu pun yang tersakiti,,,
Karena dengan mencintai aku mampu berdamai dengan diriku,,,
Karena dengan mencintai aku mampu memilih dan menentukan sikap,,,
Karena dengan mencintai,,,aku mampu menerimamu apa adanya,,,dengan segala amarah dan
kebencianmu terhadapku…aku akan tetap mencintaimu,,,


Tarakan, 6 Agustus 2010
By: MisZ QiK@

Tuesday, August 3, 2010

August 03, 2010

Memahami Makna Perayaan Ekaristi



Liturgi berarti perayaan atau kegiatan umat. Istilah liturgi berasal dari liturgia (Latin) atau leitourgia (Yunani). Dalam bahasa Yunani klasik leitourgia  terdiri dari dua kata: leitos (kata sifat laos yaitu bangsa) yang berarti ‘berhubungan dengan banyak orang dan ergon yang berarti kegiatan atau tindakan. Kata leitourgia  dipakai oleh orang Yunani untuk menunjukan:
1.       Kerja bakti, karya pelayanan untuk kepentingan umum
2.       Perayaan yang melibatkan banyak orang atau yang dihindari oleh banyak orang.
Biasanya menurut kebudayaan orang Yunani, kegiatan atau perayaan ini diawali dengan ibadat keagamaan seperti doa atau korban bakaran kepada para dewa dan dilanjutkan dengan kegiatan kerja. Misalnya seluruh kegiatan membangun bersama-sama sebuah tempat persembahan korban (kuil untuk dewa tertentu). Kegiatan ini dimulai dengan doa dan persembahan korban yang diteruskan dengan mengumpulkan bahan-bahan bangunan lalu membangun dasar dan mendirikan seluruh gedungnya. Seluruh kegiatan ini (leitourgia) bisa berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Dalam perkembangan lebih lanjut istilah leitourgia dipersempit artinya karena mengacu hanya pada ibadat keagamaan yang sebenarnya hanyalah awal dari suatu kegiatan perayaan umat.
Ketika dipakai dalam Gereja, istilah liturgi meliputi seluruh kegiatan umat beriman dalam hidupnya yang dijalankan untuk kepentingan banyak orang. kemudian sama seperti orang Yunani, orang kristen menggunakan istilah ini dalam arti sempit juga yaitu kegiatan ibadat yang resmi diakui oleh Gereja (lain dari devosi). Istilah ini menjadi populer sesudah Konsili Vatikan II. Dengan menggunakan istilah ini hendak digarisbawahi juga aspek ‘kegiatan atau tindakan umat’ dan ‘keberadaan dalam tindakan atau karya’. Upaya ini sangat membantu meningkatkan kesadaran dalam diri umat beriman untuk bersama-sama mengambil bagian aktif dalam liturgi. Partisipasi aktif dari umat amat perlu untuk mengatasi pandangan s dan praktek ibadat pra-Vatikan II yang melihat kegiatan-kegiatan perayaan dan pelayanan sakramen sebagai tindakan khusus para klerus (para petugas yang ditahbisakan: diakon,imam, uskup).
Dengan demikian ekaristi sebagai liturgi adalah satu kegiatan bersama dari seluruh umat beriman yang merayakannya demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan umat manusia atau demi kepentingan umum. Kalau orang datang ke tempat Perayaan Ekaristi dalam kesadaran hanya sebagai seorang pribadi (individu) dan bukan sebagai bagian dari persekutuan persaudaraan beriman maka bagi orang seperti ini berkuranglah nilai liturgis dari Ekaristi. Demikian pula bila orang datang untuk merayakan Ekaristis dengan maksud atau intensi melulu bersifat pribadi, demi kepentingan diri dan keluarga serta kenalan saja seraya mengabaikan kepentingan umum maka makna liturgis dari Ekaristi juga berkurang. Bisa saja orang sangat aktif mengambil bagian dalam Ekaristi, tetapi kesadaran dan maksudnya amat egoistis. Padahal kesadaran dan maksud liturgis bersifat altruistis, demi kepentingan banyak orang lain juga demi keselamatan dan kebahagiaan orang-orang yang sama sekali tidak dikenal atau tidak pernah dijumpai.
Sebagai ‘kegiatan’ (ergon dalam bahasa Yunani, actio atau actus dalam bahasa Latin). Ekaristi memberi peluang untuk bertindak, berkarya, turut terlibat mulai dari awal samapi akhirnya perayaan. Kegiatan aktif ini melibatkan seluruh diri manusia: anggota jasmani untuk mengambil sikap tertentu, mulut untuk berdoa, bernyanyi, mamakhlumkan dan mewartakan, telinga untuk mendengar, mata untu melihat dan memandang, hidung untuk mencium, lidah untuk mengecap makan dan minum, pikiran untuk memahami dan merenung, hati untuk meresapkan, untuk beriman, berharap dan mencintai. Demi kegiatan ini dibutuhkan beda. Namun benda (tanda, simbok) tanpa kegiatan kurang berarti. Benda sebagai materi yang dipakai dalam liturgi hanya sunggu bermakna bila mendorong seseorang untuk memberikan tanggapn, untuk terlibat. Apa arti sebuah salib bila tidak mendorong orang untuk merenungkan misteri Paskah, untuk memandangnya, menudukan kepala untuk menyembah atau berlutut di hadapannya? Bila hal itu dilakukan, jelas ada tanggapan aktif berkat kehadiran benda-tanda-simbol itu. Apa makna sebuah buka bacaan misa yang anggun bila tidak menarik perhatian orang untuk memasang telinga dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh pemakhluman sabda Tuhan dari kitab suci itu? apa makna hosti Kudus bila tidak menggugah orang untuk menyiapkan diri lalu bergerak datang menerima dan menyantapNya dengan khidmat untuk bersatu dengan Tuhan sendiri dan membiarkan diri diperbaharui dan dikuduskan? Bisa saja dalam liturgi orang lebih terpaku pada benda, materi, uang demi kepentingan pribadi dan bukan pada kegiatan atau karya demi kepentingan oarng banyak orang lian. Bagi orang seperti ini Ekaristinya kurang liturgis.
Kegiatan ini mempunyai kaitan erat dengan hidup dan karya di luarg perayaan ritual. Ekaristi tidak boleh dipandang melulu sebagai perayaan ritual yang terpisah dari hidup nyata. Sebagai liturgi, perayaan Ekaristi perlu diteruskan penghayatannya dalam kegiatan-kegiatan di tengah dunia, masyarakat dan keluarga. Misalnya dalam kegiatan persekutuan persaudaraan, kegitan pelayanan, pewartaan dan kesaksian hidup beriman. Kegiatan-kegiatan lain ini dilaksanakan dalam kaitan dengan Ekaristi.
Keterlibatan aktif dari seluruh umat dalam ekaristi merupakan suatu hal yang amat positif. Tidak boleh disangkal aspek ini. Patut diakui dan disyukuri sebagai anugerah. Namun tidak boleh dinomorsatukan tindakan atau karya manusia dalam liturgi Ekaristi. Kalau tindakan atau karya manusia dalam liturgi (Ekaristi) diutamanakn maka orang-orang yang ikut perayaan dapat mengandalkan kekuatan atau kemampuannya dalam ibadat dan dapat menggunakan liturgi sebagai sarana ampuh di tangannya untuk mempengaruhi atau mengubah Allah. Dengan kata lain liturgi (termasuk semua peralalatan, tanda, simbol dan doa) dipandang lebih sebagai sarana magis yang mempunyai kekuatan istimewa untuk menggerakan atau mengubah bahkan menobatkan Allah. Maka doa-doa yang diucapkan lebih bernada memohon, meminta, menuntut, mendesak, memaksa Allah agar memenuhi keinginan pribadi manusia pemohon. Bila hal ini terjadi terus menerus maka pada akhirnya orang-orang yang ikut atau pendoa akan sangat kecewa sebab Allah tidak dapat diubah atau ditobatkan oleh manusia. Kehendak, pikiran, rencana dan jalan-jalan Allah amat berbeda dengan yang dimiliki manusia.
Hendaknya diingat bahwa liturgi (ekaristi) yang pertama-tama hadir dan berkarya secar mengagumkan adalah Allah. Yang pertama dikenang dan dialami adalah Tuhan dan tindakanNya untuk menyelamatkan manusia. (Hal ini terungkap dengan sangat tepat dalam istilah Sakramen). Oleh karena itu tindakan liturgi dasar dari orang-orang yang ikut perayaan adalah bersyukur, memuji atau memuliakan Allah yang mahabaik, yang rela menyertai manusia dan setia mengasihinya samapi sehabis-habisnya.

Sumber: Kumpulan Tulisan Katekese Umat