Friday, September 3, 2010

Cinta yang Memberi


       Ada seorang gadis cantik bernama Bunga yang diculik, diperkosa dan dianiaya sampai ia kehilangan ingatan. Ia menjadi korban am-nesia. Pada suatu hari, ia menghilang dari rumah. Ia menjadi pelacur jalanan di suatu kota. Ia lupa pada ayah dan ibunya. Ia lupa pada kam-pung halamannya, bahkan ia lupa pada namanya sendiri.
       Namun bapaknya telah berusaha mati-matian untuk me-nemukannya. Sang bapak mencari dia dari kota ke kota menyusuri semua jalanan dan pasar, memeriksa semua tempat pertokoan bah-kan tempat-tempat pelacuran. Tetapi tidak menemukan putrinya. Berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sang bapak terus mencari putrinya yang hilang.
Pada suatu hari ketika ia sedang berjalan-jalan menyusuri pe-labuhan, sang bapak melihat seorang wanita malang dengan pakaian compang-camping dan wajah rusak. Firasat kebapakannya me-ngatakan bahwa wanita malang itu adalah putrinya. Ia mendekati wanita malang itu dan bertanya: “Siapa namamu?” wanita itu me-nyebutkan namanya. Ternyata bukan bunga nama putrinya. Tetapi bapak tadi berkata lagi, “boleh saya melihat lengan tangan  kirimu?” wanita itu memperlihatkan semua lengan kirinya. Bapak itu ter-sentak “Engkau Bunga anakku, engkau Bunga anakku, di lenganmu ada tanda kehitaman Engkau Bungan anakku apa kau ingat?
Wanita itu memandang pria tua di depannya dengan heran, lalu tiba-tiba berseru: Bunga! Kabut yang menyelimuti ingatannya selama ini tiba-tiba tersibak. Ia ingat kembali namanya. Ia ingat kembali bapaknya. Sebentar kemudian ia sudah tenggelam dalam pelukan bapaknya.
Mungkin seperti itulah Allah mencari kita, kalau kita menghilang dariNya. Allang seolah-olah senantiasa mengejar kita dengan kasih-Nya yang tak pernah luntur.
Injil Lukas 15: 1-32 menampilkan sebuah refleksi perenungan iman dalam sastra yang sungguh indah. Tiga perumpamaan tentang domba yang hilang, dirham yang terselip dan anak yang hilang. Se-bagai gembala yang baik, Allah mencari dan mengambil resiko untuk menambahkan satu domba yang hilang sehingga yang hilang bisa kembali ke lingkungannya sendiri. Berlawanan dengan pandangan para pemimpin, ahli Kitab Suci dan orang Farisi yang menjauhkan orang-orang berdosa, Yesus menampilkan peng-gembalaan Allah yang bersifat mencari yang hilang.
Gambaran sejajar dengan gembala baik, adalah perempuan pemilik dirham yang hilang itu dengan kesabaran dan ketelitian membersihkan seluruh rumahnya untuk menemukan dirham yang terselip dalam rumahnya. Uang sedikit yang menjadi miliknya itu harus dicari. Demikian Allah berkarya untuk menemukan orang yang berdosa.
Akhirnya Yesus mengumpamakan Allah seperti seorang bapak yang tetap mengasihi anaknya, walaupun anak itu melarikan diri dari rumah dan dengan demikian menghinanya. Bapak menantikan  anakNya dengan ketekunan bahwa anak itu akan kembali, karena kasih tetap menunggunya. Ia telah memberikan kepercayaan kepada anaknya, tetapi sekaligus juga menimbulkan harapan bila anaknya gagal. Kepercayaan bapak tidak percuma. Dalam penderitaan dan kegagalan anak itu menjadi dewasa dan berani mengambil keputusan: kembali kepada bapak! Apapun yang terjadi ia telah melihat cakrawala baru dalam hidupnya. Tetapi anak sulung tidak mampu memahami kasih ba-paknya seperti adiknya. Ia hanya sanggup meng-gerutu dan tidak sanggup bergembira bersama.
Allah menunjukan dalam diri Yesus Kristus, perhatianNya kepada pendosa. Bagaimana kasih dan kerahimannya bisa dirasakan oleh manusia, yakni dari pergaulan yang pribadi. Allah mau mendidik manusia menemukan kedasaran untuk membangun kembali hidupnya di hadirat Allah. Yang hilang dicari dengan sekuat tenaga dan resiko: sedangkan yang menghilang di-nanti dengan sepenuh kesebaran dan di-perlakukan sebagai anak yang pantas di-kasihi. Latar belakan pemikiran seperti ini mem-bantu kita untuk merenungkan kedalaman tawaran kasih kerahiman Allah dalam hidup orang beriman.
Yesus yang hendak menjalankan kehendak BapaNya, melihat tugasnya untuk menjadi bapak yang baik pula dan sebetulnya juga diharapkan menjadi tuga Gereja, tugas sebagai umat Allah, tugas kita! Apakah sanggup menerima orang yang gagal, bergaul dengan mereka yang drop out dan tersingkir dari pergaulan umum? Ataukah kita bersikap seperti anak sulung itu, yang menganggap dirinya sebagai teladan tetapi hanya pandai menggerutu dan tidak mampun memahami kasih Allah yang memiliki jalan berliku!



Siswanto
Ketua Komisi Kateketik
Keuskupan Tanjung Selor
Tinggal di Paroki Katedral St. Marai Assumpta
Tanjung Selor


No comments:

Post a Comment