Sunday, October 10, 2010





S
aat  lebaran yang lalu, kami rombongan keluarga Keuskupan bersilaturahmi untuk mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri kepada para pejabat yang me-rayakannya. Rombongan ini dipim-pin bapak Uskup, Mgr. Yustinus  Harjosusanto. Beberapa umat Katedral yang ikut: Pak Siswanto, Pak dan Ibu Lauren Nandek, Ibu Hendri. Bebe-rapa  suster (Sr. M. Clarine, OSF, Sr. M. Floriana, OSF, Sr. M. Magda SMSJ, Sr M. Stepani SMSJ dan Sr M. Jeane, SMSJ) ikut bersama dengan  P. Basilius Edy Wi-yanto, Pr mewakili keluarga pastoran katedral.

Kunjungan pertama di rumah dinas Bupati. Rumah dinas yang megah ber-ac lagi. Masyarakat Tan-jung Selor (Suku dayak) umumnya rumahnya terbuat dari papan. Sedangkan, rumah dinas Bupati terbuat dari bata yang bersemen dan bercat indah lagi. Tipe rumah semacam ini menjadi kerinduan rakyat kecil yang tinggal di rumah papan. Rumah papan mereka dicat dengan cat warna-warni biar kontur pa-pan tidak tampak sehingga seolah-olah menyerupai rumah yang terbuat dari bata dengan cat cerah. Sekarang ini, rumah bata menjadi alter-natif pertama karena harga kayu sangat mahal dibandingkan harga bata dan semen.
 Bapak Bupati menyambut rombongan kami di dekat pintu utama. Dari mulai masuk sampai kami berpamitan, Bapak Bupati berdiri di tempat tersebut untuk menyalami setiap tamu yang silih berganti  berdatangan dan mohon diri untuk pulang. Begitu memasuki ru-angan depan Rumah dinas bupati, kami dipersilahkan ke tempat makan-an. Ada empek-empek, bakso, nasi dengan beberapa lauk, soft drink dan beberapa buah. Persediaan makan tersebut layaknya pesta. Sambil membawa makanan kami berbaur dengan tamu-tamu yang datang. Meskipun tidak saling kenal kami saling memberi ucapan minal aidin wal faidin. Di tengah makan ini tidak ada petugas atau keluarga yang menemani kami. Maka, ketika selesai memakan hidangan yang kami ambil seturut minat masing-masing, kami mohon diri.
Dari rumah dinas Bupati, kami melanjutkan perjalanan. Semula mau mampir ke rumah Matan Ketua DPRD, tetapi karena sepi dan kami perkirakan yang empunya rumah tidak ada, kami melanjutkan ke tujuan lain. Tujuan kedua adalah Rumah Dinas Ketua DPRD. Ketua DPRD beserta keluarga menyambut kedatangan kami dan mempersilah kan masuk ruang tempat akanan disediakan. Ada bakso, opor, buah-buahan dan minuman sebagai menu hidangan. Kembali kami menikmati hidangan sesuai selera kami masing-masing. Tidak banyak pembicaraan yang terjadi dengan tuan rumah. Justru kami saling menyapa dengan tamu yang hadir. Setalah makanan yang kami ambil habis, rombongan kami melanjutkan perjalanan kembali.
Tujuan berikutnya adalah rumah dinas Sekda. Cara penyambutan di ru-mah Dinas Sekda hampir sama dengan Bupati dan ketua DPRD. Sekda dan beberapa staff me-nyambut tamu di dekat pintu utama. Kemudian kami dipersilahkan untuk menikmati hidang-an yang sudah disediakan. Berbeda dengan suasana di Rumah Dinas Bupati, di Rumah Sekda, saat kami makan ditemani oleh Ibu Sekda. Dia menemani sambil mempersilahkan untuk menik-mati makanan yang belum kami nikmati. Ada hidangan yang berbeda dengan hidangan di Ru-mah Dinas Bupati, yakni tape ketan. Saya teringat tape ketan Muntilan (kota kecamatan di kabupaten Magelang, Jawa Tengah). Tape ketan muntilan cukup terkenal, sehingga banyak pengunjung kota Magelang terutama Borobudur bisa menikmati makanan kas muntilan tersebut. Tape ketan dicampur dengan es puter adalah menu yang saya makan saat di Rumah dinas Bupati. Sampai tempat tujuan kedua, saya merasakan kegiatan silaturahmi adalah menyapa dan makan.
Dari rumah dinas Sekda, kami me-nuju rumah dinas Dandim. Kami di-sambut secara khusus oleh Dandim dan keluarga. Tempat kami makan pun dibedakan dengan tempat ma-kan anak buah Dandim (para pra-jurit muda). Para tentara muda du-duk di bawah tenda yang dipasang di halaman rumah.
.     Sedangkan kami duduk bersama Dandim dan keluarga di ruang tamu. Suasana lebih akrab dibandingkan dengan dua tempat sebelumnya. Bapak uskup memperkenalkan diri. Demikian juga Dandim memperkenalkan diri dan keluarganya. Dandim yang sekarang ini belum lama menggantikan posisi Dandim lama. Per-bincangan semakin hangat dan melebar. Istri Dandim dengan reyah bercerita saat keluarga mereka da-tang ke Tanjung Selor. Keramahan istri Dandim ini juga diimbangi Ibu Hendri yang menceritakan keponakannya yang kebetulan juga tentara. Bahkan pembicaraan sampai olahraga yang menjadi hoby mereka. Pembicaraan hangat ini terhenti karena kedatangan serombongan tamu. Ruang tamu Rumah Dinas Dandim tidak mampu menampung tamu yang hadir. Maka, kami mohon diri untuk melanjutkan silaturahmi.

Tujuan berikutnya adalah rumah dinas Kapolres. Di sini, hanya Bapak Uskup yang masuk rumah tamu karena ruang tamu penuh tamu, rombongan wakil Bupati. Setelah mengucapkan selamat Idul Fitri ke-pada Kapolres, kami menuju tempat makanan yang telah disediakan. Kami menikmati makanan di bawah tenda. Udara siang ini sangat panas. Dua hari sebelumnya, hujan tiada henti mengguyur Selor. Es yang disediakan menjadi pilihan tamu yang hadir termasuk saya. Dinginnya es dimaksudkan mengimbangi panas-nya siang itu. Rombongan mohon diri bersamaan dengan rombongan wakil Bupati yang juga mohon diri.

Tujuan terakhir silaturahmi ada-lah rumah Bapak RT dari lingkung-an keuskupan. Bapak RT menyam-but dengan gembira kedatangan kami. Pada saat kami datang, Pak RT tidak mengenakan baju, mung-kin untuk merasakan segarnya u-dara di siang yang panas. Dia ter-gopoh-gopoh mempersilahkan ka-mi masuk sambil menyelinap masuk ke kamar untuk mengenakan baju. Setelah duduk sebentar, kami diper-silahkan untuk menikmati masakan Bu RT. Masakan Bu RT enak rasa-nya. Bu RT sudah biasa menerima pesanan makan. Di rumah Pak RT suasana lebih akrab. Bu Lauren ter-nyata teman dari Ibu RT sehingga sewaktu datang mereka erdua lang-sung saling berpelukan melepas ra-sa kangen dan juga rasa heran kare-na dipertemukan kembali. Pak RT sedikit bercerita tentang silatu-rahmi yang dilakukan oleh Bapak Uskup tahun sebelumnya. Dia juga masih berharap semoga tahun de-pan masih bisa merasakan sapaan dalam silarahmi ini.
Demikianlah lebaran di Tajung Selor. Memang silaturahmi lebih di-warnai makan dan menyapa. Tetapi kehadiran, sapaan dan mau me-rasakan makanan merupakan wujud penghormatan dan penghargaan pada orang yang dikunjungi.  Bagai-mana Idul Fitri di tempat (paroki) lain?



Pastor B. Edy Wiyanto, Pr
(MoEd)
Pastor 
Tinggal di Paroki St, Maria
Assumpta Tanjung selor





No comments:

Post a Comment