Wednesday, November 3, 2010

Hati untuk Petani | Releksi dan Renungan Karya KOMSOS KWI

Pada Hari Pangan Sedunia (HPS) tahun 2010 ini, Komunikasi Sosial (Komsos) KWI membantu sosialisasi gerak-an dan gagasan HPS 2010. So-sialisasi terse-but dikemas da-lam video sing-kat mengenai perhatian kepa-da petani yang menjadi tema HPS 2010. Berikut ini akan kami paparkan dalam tulisan singkat.

Sumber: https://bangazul.com/sejarah-petani-indonesia-2/


Video diawali dengan gambar alam yang indah. Gam-bar alam tersebut diiringi alunan lagu Alangkah megah kar-yaMu Tuhanku pencipta semesta alam Kau atur… Alunan la-gu ini menyadarkan bahwa Allahlah yang mengarunikan bumi kepada manusia dengan kasihNya. Kasih Allah ter-sebut bisa dinikmati dari berbagai ragam hasil alam. Hal ini ditegaskan oleh narator yang menyatakan: “Alam memiliki sejuta potensi. Alam menjanjikan karena alam adalah karya Allah yang dianugerahkan dengan murah hati.” Di tengah me-limpahnya kemurahan Allah tersebut, kita jumpai kenyataan adanya derita di atas alam, terutama derita yang dihadapi pe-tani. Para petani sudah lembur di ladang subur tetapi mereka menuai asa: kapan hidup kami berdaulat?

Pemaparan awal tersebut mau menggambarkan ke-limpahan alam yang menyisakan perjuangan hidup petani yang tergantung pada pemilik uang dan tidak jarang terpinggirkan. Pastor Benny Solembre, Pr (Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Menado) menyatakan bahwa “permasalahan petani sungguh kom-pleks. Masalah timbul karena iklim yang tak menentu, modal usaha, pengetahuan yang kurang dan terutama tidak adanya kemerdekaan dalam hidup petani”. Mengahadapi per-masalahan ini, Sejak tahun 1982 KWI mengadakan HPS. Di awal adanya HPS,  KWI memberi kesadaran pada masyarakat supaya bersyukur atas berkat yang melimpah melalui bumi yang adalah Ciptaan Tuhan. Perjuangan KWI dalam menangani HPS terus berkembang dan kontekstual sesuai perkembangan jaman.

HPS  pada tahun 2010 ini memperhatiakan petani. Per-hatian ini diserukan oleh Mgr Petrus Turang, Pr (Ketua Komisi PSE KWI). Perhatian kepada petani pertama-tama perlu memperhatikan relasi dalam bisnis yang sehat. Mgr. Petrus Turang, Pr menegaskan bahwa hubungan bisnis yang sehat adalah solidaritas sosial. Solidaritas sosial ini nampak dengan penghargaan pada diri petani dari pedagang, pe-mangku kebijakan dan pemuka umat. Selain solidaritas so-sial tersebut, petani juga diajak untuk bekerja dengan rajin dan akal sehat dengan menyanyangi bumi. Menya-nyangi bumi diwujudkan dengan memelihara dan menanaminya. Mgr. Petrus Turang, Pr juga menghimbau bahwa para uskup bertanggungjawab menggerakkan para imam agar mem-berikan perhatian dan menemukan langkah-langkah yang tepat bagi pembangunan dan pemberdayaan petani. Para Pastor, terutama yang di pedesaan berkewajiban untuk me-nemukan informasi agar para petani mampu memilih jenis tanaman yang ditanam, memanennya dan memasarkan hasil panenan. Para Pastor tidak boleh pernah menjadi pesaing-pesaing dari umatnya dalam pengembangan petani.

Dalam tayangan video juga dipaparkan hidup petani de-ngan perjuangannya. Mulai pengerjaan lahan, menanam dan memanen hasil tanamannya. Dalam proses kerja petani ter-sebut, ditayangkan pula apa yang menjadi permasalahan petani yang kesulitan dana dan pemasaran. Dalam dinamika hidup petani tersebut, muncul banyak kre-ativitas perhatian pada petani. Salah satu perhatiannya adalah Cridit Union (CU). CU adalah lembaga keuang-an dari masyarakat un-tuk masyarakat dan ke-pada masyarakat. Sum-ber dana dari masya-rakat dan diperuntukan untuk kebutuhan masyarakat.
Hati kepada petani ini mau mangangkat jati diri, krea-tivitas dan pergulatan hidup petani. Di samping itu, segala upaya pengembangan dan pemberdayaan hidup petani se-makin mendapat perhatian.

Disadur dari DVD Hati untuk Petani
Karya KOMSOS KWI

MoEd

No comments:

Post a Comment