Tuesday, December 28, 2010

December 28, 2010

Bolehkah anak dari keluarga yang tidak syah perkawinannya (secara Gereja Katolik) dibaptis?


Kasusnya begini: ada pasangan suami istri yang mempunyai anak bayi. Pasangan ini mengaku bahwa dirinya pasangan keluarga katolik karena keluarga besar mereka katolik. Tetapi pernikahannya belum syah menurut Hukum Gereja Katolik. Suami adalah duda cerai. Dulu perkawinannya di Gereja Katolik, tetapi ia ditinggalkan istrinya. Istrinya sekarang sudah bersuami lagi. Duda cerai ini mendapatkan pasangan baru dan menghasilkan  anak. Anak inilah yang mau dibaptiskan.

Tanggapan kasus:
Pada prinsipnya bayi itu boleh dibaptis
Alasannya:
Hukum Gereja menyatakan: “Yang  dapat dibaptis ialah setiap dan hanya manusia yang belum dibaptis” (Kan. 864)
Bahkan di Statuta Keuskupan Regio Jawa ditegaskan bahwa “Anak dari orang tua yang perkawinannya tidak sah atau dari ibu yang tidak bersuami boleh dibaptista, jika ada izin orang tua atau walinya dan ada harapan nyata bahwa anak itu akan dididik dalam agama Katolik. Mengenai pencantuman nama ayah hendaknya diperhatikan kan 877 § 2” (Statuta Regio Keuskupan Jawa pasal 84)

Perlu diperhatikan:
Bayi sampai anak yang belum bisa menggunakan akalbudi untuk memutuskan pilihan bebasnya adalah tanggung jawab orang tua. Maka, peran orangtua sangat menetukan bisa tidaknya bayi dibaptis.
Perlu diingatkan kembali bahwa dalam hukum Gereja telah ditegaskan bahwa “Orangtua karena telah memberi hidup kepada anak-anaknya terikat kewajiban yang sangat berat dan mempunyai hak untuk mendidik mereka, maka dari itu  adalah pertama-tama tugas orang tua kristiani untuk mengusahakan pendidikan kristiani anak-anak menurut ajaran yang diwariskan Gereja. (kan. 226 §2)” dan Kan. 867 § 1. Pada orangtua wajib mengusahakan agar bayi-bayi dibaptis dalam minggu-minggu pertama, segera sesudah kelahiran anaknya, bahkan juga sebelum itu, hendaknya menghadap pastor paroki untuk memintakan sakremen bagi anaknya serta dipersiapkan dengan semestinya untuk itu.
Dengan kata lain, orang tua wajib mendidik anaknya seturut iman kristiani. Membaptiskan anaknya merupakan salah satu wujud mendidik anak menurut iman kristiani

Langkah pastoralnya:

Menegaskan apakah orangtua si bayi setuju bahwa anaknya dibaptis. Dalam Hukum Gereja ditegaskan syarat untuk pembaptisan anak yakni: Kan. 868 §1. Agar bayi dibaptis secara licit (pantas) haruslah: Orangtuanya, sekurang-kurangnya satu dari mereka atau secara legitim menggantikan orangtuanya, menyetujuinya;

Menegaskan kepada orangtua bayi mengenai kesanggupan orangtua untuk menjamin pendidikan iman bayi selanjutnya. Dalam Hukum Gereja ditegaskan bahwa: “Ada harapan cukup beralasan bahwa anak itu akan dididik dalam agama katolik; bila harapan itu tidak ada, baptis hendaknya ditunda menurut ketentuan hukum partikular, dengan memperingatkan orangtuanya mengenai alasan itu. Selain itu, sebaiknya ada penjamin pendidikan iman anak dalam keluarga besar mereka.

Ketua umat mendorong dan meminta pada keluarga untuk mengupayakan pemberesan perkawinan mereka. Kemauan dan upaya memberekan perkawinan menujukan kehendak baik untuk mengembangkan iman kristiani.

Mencari wali baptis. “Hendaknya diusahakan agar pendampingan oleh wali baptis tidak melulu formalitas pada upacara belaka, melainkan sungguh dapat diharapkan akan bertindak sebagai pendampingan dalam perkembangan menuju kedewasaan iman” (Statuta Keuskupan Regio Jawa pasal 86 Kan 872)

MoEd


Wednesday, December 15, 2010

December 15, 2010

Pertemuan Komunikasi Sosial Gereja di Asia




Federasi Konferensi-koferensi Uskup Asia: Kator Komunikasi Sosial sudah menyelenggarakan rapat tahunan di St. Kamillus Pastoral Center, Bangkok, Thailand, dari 15-20 November 2010. Para pesertanya adalah para uskup Komunikasi Sosial, beberapa sekretaris Komsos, wakil SIGNIS dan Radio Veritas Asia. Rapat ini juga mendapat kehormatan dengan hadirnya sekretaris Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial, Mons. Paul Tighe. Rapat ini mengambil tema: “Pembinaan Komunikasi dalam Pelayanan Imami:. Tema ini tentu saja terkait dengan ajakan Sri Paus dalam Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia 2010. Rapat tahunan kantor Komunikasi Sosial se-Asia ini sudah berlangsung dalam suasana persaudaraan dan persahabatan.

Komunikasi Pastoral
Pendidikan dan bina komunikasi sosial memegang peran penting dalam karya pastoral. Gereja yang mendapat perutusan evangelisasi wajib membangun komunikasi yang efektif agar nilai-nilai Injil masuk ke dalam hati umat beriman.
Kemandegan dalam komunikasi tentu saja mempengaruhi karya pastoral dalam menghadirkan Yesus sebagai komunikator unggul kebaikan Bapa-Nya bagi umat manusia. Olehnya, seharusnya semua pewarta Injil memiliki kemampuan komunikatif agar evagelisasi terlaksana dengan baik.

Pendidikan Komunikasi Sosial
Kehadiran perangkat komunikasi Sosial dalam Gereja sering tidak dipandang utama, khususnya dalam pendidikan para calon pewarta, sehingga pewartaan iman tidak terlaksana dengan baik. Banyak juga keluhan yang muncul dari umat beriman karena pastornya tidak mampu berkotbah dan berkatekese dengan efektif dan baik.
                Karena itu, amat penting bahwa komunikasi para Uskup memberikan perhatian pada manfaat komunikasi modern, khususnya dalam pendidikan para calon imam. Perlu bina komunikasi dalam bina hidup imam.

Personalia Komunikasi Sosial FABC
Pater Franz Eiler, SVD sudah mengakhiri pengabdian dalam kantor Komunikasi Sosial FABC dan digantikan oleh RD. Raymond Ambroise dari India. Ketua Komunikasi Sosial FABC beralih dari Uskup Lawrence Saldanha dari Pakistan kepada Uskup Chacko Thottumarickal dari India. Sedangkan para Uskup anggota ditambah dengan Yosep Prathan Sridarunsil, Thailand, Uskup Petrus Turang , Indonesia, Uskup Cornelius Sim dari Brunai, serta Uskup John dari Taiwan. Terima kasih atas semua pengabdian.

Tanggunjawab serta Spritualitas Komunikasi Sosial
Semua pembicara dalam rapat menekankan pentingnya kehadiran Komunikasi Sosial dalam pelayanan Gereja. Para imam dan calon imam perlu mendapatkan pembinaan yang memadahi dalam hal komunikasi sosial. Penggunaan media komunikasi modern dalam pewartaan Gereja tidak terlepas dari tanggungjawab Gereja untuk evangelisasi. Yang utama adalah bagaimana mengembangkan spiritualitas yang efektif dala hal sarana komunikasi agar kehadiran serta pemakaiannya menjadi berkat dalam evangelisasi Gereja kita. Para Uskup, imam, calon imam hidup bakti dan katekis perlu sadar  komunikasi sosial.

Komunikasi Sosial: manfaat serta tantangan
Sharing pengalaman dalam hal komunikasi sosial sudah menghadirkan kekayaan perhatian serta pemikiran dalam mengembankan makna dan manfaatnya dalam karya pastoral. Dalam kelemahan serta keterbatasannya, kehadiran serta perhatian Gereja akan komunikasi sosial semakin terungkap dalam karya evangelisasi. Dalam menghadapi pelbagai tantangan, Gereja berpegang pada daya Roh Kudus yang menarik seluruh umat untuk memanfaatkan hasil karya manusia dalam bidang komunikasi sosial.

Pertimbangan Kristiani
Kristus adalah komunikator ulung. Kristus hadir dalam pergumulan hidup manusia. Kristus mampu membangun komunikasi yang tanggap atas keprihatinan manusia. Nyatanya, Yesus menggembirakan hidup manusia karena Dialah jalan, kebenaran, hidup. Gereja kita wajib meneladani Yesus dalam membangun komunikasi yang berhasil dalam cinta kasih. Hasilnya, persaudaraan dan persahabatan.

Pengharapana Bersama
Kantor Komunikasi Sosial FABC hadir untuk menjadi manfaat bagi karya evangelisasi konferensi Uskup-uskup di Asia. Kerjasama atas dasar iman dengan sikap solidaritas pasti mampu mendorong para Uskup Asia untuk mengarus-utamakan peran komunikasi sosial dalam karya pastoral. Oleh karena itu, diharapkan bahwa perhatian  pelayanan komunikatif semakin tumbuh dan berkembang dalam Gereja di Asia. Pendidikan dan pembinaan media komunikasi bagi para pelayan gerejawi amatlah penting. Kerjasama dalam pendidikan media kiranya masuk ke dalam perencanaan pastoral keuskupan-keuskupan di Asia agar evangelisasi semakin merasuki hati umat beriman dalam membangkitkan serta menggerakkan mutu hidup kristiani di Asia.

Friday, December 3, 2010

December 03, 2010

The Agent of Change



Mulyono
Dari pelatihan ini yang saya rasakan sari beberapa sesion, saya memperoleh pengalaman yang baru yang sangat bermanfaat buat diri saya sendiri dan juga untuk perkembangan OMK di paroki saya melihat nara sumber yang tepat dan berbobot. Jadi dalam pelaksanaannya pun benar-benar memberikan materi yang tepat bagi OMK sekarang ini. Antara lain dari para pastor baik dari KWI maupun keuskupan ada juga dari ketua/anggota DPRD dan juga dari dosen.
Semua materi yang diberikan benar-benar memberikan inspirasi kepada saya untuk dapat mengembangkan OMK di paroki. Peserta yang berasal dari beberapa keuskupan semua sangat inspiratif dan menyenangkan sehingga saya mendapat pengalaman baru dari beberapa daerah untuk mengembangkan sehingga saya mendapat pengalaman baru dari beberapa daerah untuk mengembangkan OMK di paroki masing-masing dan juga dapat membentuk jaringan yang baru

Katarina (RINA)
Kesan saya selama mengikuti kegiatan ini adalah saya merasa bangga dan senang karena bisa mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan ini. Karena kegiatan ini membuka wawasan pengetahuan saya dengan lebih luas lagi tentang OMK dan bagaimana cara-cara pendampingan.
Dengan kesempatan ini juga saya bisa bertemu teman-teman dari paroki lain dan bahkan keuskupan yang lain sehingga dapat berbagi dan belajar dari pengalaman tentang OMK dan cara pendampingan.

Ernawati
Ketika aku melangkah..dengan berat meninggalkan rumah menuju suatu tempat yang aku belum tahu apa yang akan terjadi diana kebahagiaankah?...kegembiraankah?...atau jutru kesusahan bahakan kesedihan yang nanti aku dapatkan… namun ternyata di tempat ini aku menemukan banyak pengetahuan luas tentang OMK bagaimana beradaptasi dengan OMK lainnya.
Dan selama mengikuti OMK ini saya sungguh bahagia dan bangga karna dapat diberikesempatan mengikuti kegiatan seperti ini bertemu dengan sanak saudara yang berada di keuskupan lain. Ini merupakan pangalaman yang bagi saya merupakan pertama yang menyenangkan..harapan saya bisa berkumpul lagi…

Oncu Lazar
Pengalaman dan hal penting yang di dapatkan dalam kegiatan “Pertemuan Pembina OMK Regio Provinsi Gerejawi  Samarinda” menurut saya materi-materi yang didapatkan sangat baik sehingga menjadi masukan dan pengalaman untuk saya ketika kembali ke paroki. Secara sederhana saya menyimpulkan bahwa untuk mengatasi masalah yang dihidupi dalam mengumpulkan Orang Muda Katolik perlu adanya tindakan dan perbuatan dengan cara melakukan pendekatan terhadap para Orang Muda Katolik dari hal-hal yang sederhana, konkritnya di mulai dari stasi…

Mira Charolina
Kesan-kesan saya :
1.       Keren abis narasumbernya
2.       Woowww…
Jadi kesan saya OMK sangat berperan dalam pertumbuhan Gereja di mana dituntut peran nyata OMK di tengah hidup bermasyarakat.
My Jesus gives OMK:
-          A smile for every tear
-          A rainbow for every storm
-          A blessing for each trial
-          An answer for every prayer
-          And a miracle for OMK…

Odik
1.        membuka wawasan, pengalaman-pengalaman baru yang sangat berarti buat saya pribadi
2.       Memberikan motivasi buat saya sendiri tau agar lebih aktif lagi terutama untuk memotivasi teman-teman supaya lebih aktif lagi dan tangkas dalam mensikapi perubahan jaman
3.       Pentingnya kerjasama tuk perkembangan OMK (OMK sendiri, pembina Gereja dan pemerintah)
4.       Dituntut untuk bisa membuka diri dalam action yang positif salah satu contohnya menjalin komunikasi dengan kaum muda lain di luar katolik sendiri

Anie
Pertama kali dapat kabat berangkat ke Balikpapan.. Wuaaa..senang banget! Bakal dapat pengalaman baru nie. Tapi beranjak malam, rasa kuatir juga tiba-tiba datang. Tanggung jawab di tempat kerja juga gak bisa diabaikan tapi puji syu
Kur proses perijinan berjalan dengan baik. Lega banget!!! Perjalanan menuju Balikpapan pun dimulai. Jujur awalnya gak ngerti kegiatan seperti apa yang akan dilalui, tapi hari pertama setelah mengikuti pembukaan semuanya jadi tampak jelas. O….ternyata materi-materi dari kegiatan ini bertujuan untuk membangun OMK agar dapat berguna bagi diri sendirii, Gereja dan bangsa. Melalui pendampingan –pendampingan yang dari pembina-pembina yang telah dikaderkan.
Dalam mengikuti kegiatan ini sebagai OMK. Emmm…banyak pengalaman dan pengethuan baru yang saya dapat mengenai bagaimana cara merangkul teman-teman OMK dan juga kegiatan-kegiatan yang benar-benar penting dilakukan dalam organisasi OMK. Satu lagi saya rasa kegiatan ini juga membangun kepercayaan diri saya.
Mengikuti kegiatan ini juga seperti membuka salah satu pintu dipikiran saya. Hl-hal yang gak pernah dipikirkan dan dibayangkan tiba-tiba muncul kepermukaan dan hal-hal yang dulu dianggapi benar sepertinya harus di kaji ulang.
Intinya saya senang diberi kesempatan untuk mengikuti kegiatan ini dan harapan saya semoga setelah mengikuti kegiatan ini OMK di paroki-paroki dapat berkembang menjadi lebih baik lagi. Amin.

Maria Agelus Lodang
Kami menyadari pertemuan ini sangat bermanfaat bagi perkembangan OMK ditingkatkan  paroki maupun keuskupan. Begitu banyak hal yang ditemukan baik dari sisi negatifnya maupun dari sisi positifnya. Dari sisi negatifna misalnya:
-          OMK dinilai kurang terlibat dalam kegiatan Gereja
-          OMK hanya lebih suka yang hura-hura kurang membangun komunikasi antar pastor paroki dengan kaum muda
-          Kurang memahami nilai-nilai kristiani terutama pengetahuan tentang agama katolik
-          Tidak adanya dialog untuk membangun kebersamaan
Sedangkan nilai positifnya:
-          Memberikan kesempatan pada OMK untuk berkreasi sesuai talenta yang dimilikinya
-          Peserta dapat menemukan jati diri lewat permainan pada materi psykologi
Untuk membentuk sebuah kepribadian dalam hal ini OMK memang membutuhkan proses.
Untuk semua ini menjadi tanggung jawab dan peran serta dari semua pihak baik dari sisi Gereja maupun pemerintah.
“Mari kita bergandengan tangan membangun suatu kebersamaan dalam membangun Gereja ke depan.


Fransiska
Awalnya saat mendapatkan surat edaran tentang kegiatan ini terlintas di benak saya” wah…pertemuan pembina OMK. Tapi koq ada nama saya ya? Ternyata saya juga diperhitungkan dalam kegiatan-kegiatan semacam ini..” kemudian saya berubah pikiran dan mengatakan “ kayanya saya ga bisa ikut deh. Masih banyak tugas yang harus saya selesaikan di Tarakan” Tetapi kemudaian setelah mendapat informasi bahwa orang-orang yang terdaftar di surat edaran tersebut tidak dapat digantikan, maka akhirnya saya memutuskan untuk pergi. Setelah sampai di sini dan mengikuti rangkaian kegiatan ini sampai selesai. Saya merasa sangat bahagia karena saya bisa bertemu dengan sodara-sodara yang seiman dari berbagai tempat. Saya juga mendapatkan pencerahan dari setiap materi yang diberikan pleh narasumber yang pada intinya OMK harus mampu menjadi ujung tombak Gereja dalam arti OMK sebagai pionir penggerak Gereja dan juga mampu menjadi inspirasi bagi kaum muda lain di sekitarnya. Terima kasih kepada Bimas Katolik yang telah menjadi fasilitator antar OMK KASRI. Semoga kegiatan semacam ini menjadi agenda tahunan Bimas Katolik. Shaloom. God Bless

Wednesday, December 1, 2010

December 01, 2010

KONFERCAB WANITA KATOLIK RI CABANG ST.MARIA ASSUMPTA TANJUNG SELOR PERIODE 2007 - 2010




Konferensi Cabang atau di sebut Konfercab ialah Rapat Paripurna antar Anggota Ranting di tingkat Cabang dengan system perwakilan. Konfercab wajib dilakukan sekali dalam 3 (tiga) tahun oleh Dewan Pengurus Cabang, dalam rangka mengakhiri masa baktinya.

Wanita Katolik RI DPC Tanjung Selor periode 2007 – 2010  mengakhiri masa kepengurusannya telah mengadakan Konfercab yang di laksanakan tgl 26 – 27 November 2010 bertempat di Gereja Katedral St.Maria Assumpta Tanjung Selor dengan tema “ BANGKIT DAN BERGERAK MENINGKATKAN AKTIFITAS DAN KREATIVITAS BAGI MASYARAKAT DAN GEREJA”.

Konfercab di ikuti oleh seluruh anggota WKRI Cabang dan utusan 6 ranting  yang berada dalam wilayah kerja WKRI Cabang Tanjung Selor.
Diawali dengan Misa yg di pimpin oleh Rm. Edy, selanjutnya Konfercab di buka dengan resmi oleh Rm. Edy di dampingi oleh Koordinator WKRI DPD Tanjung Selor ibu Maria Nurida Sinaga.

            Kegiatan konfercab pada hari ke 2 di lanjutkan  dengan Pleno I Pengesahan kuorum, jadwal & tata tertib, Pleno II laporan Pertanggungjawaban Ketua WKRI Cabang Tanjung Selor, Pleno III Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua, Sebelum masuk pada acara pemilihan masing-masing calon memperkenalkan diri serta memaparkan rencana / program kerja bila terpilih sebagai ketua dengan tetap mengacu pada rencana Kerja hasil Kongres, Visi Misi Organisasi,serta situasi dan kondisi yg ada di wilayah paroki Katedral St. .Maria Assumpta Tanjung Selor

            Terpilih sebagai ketua adalah Ibu Marlen S.Pd, wakil ketua Ibu Idoraswati untuk masa bakti 2010 – 1013.

            Selamat kepada Ketua dan Wakil ketua terpilih,,, bersama kita Bangkit dan Bergerak untuk memajukan Organisasi WKRI di Cabang Tanjung Selor.

December 01, 2010

PESAN NATAL BERSAMA PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) TAHUN 2010



Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia”
(bdk. Yoh. 1:9)
Saudara-saudari yang terkasih,
segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada,
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
1.    Pada saat ini kita semua sedang berada di dalam suasana merayakan kedatangan Dia, yang mengatakan: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup1. Dalam merenungkan peristiwa ini, rasul Yohanes dengan tepat mengungkapkan: “Terang yang sesungguhnya itu sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya”2. Suasana yang sama juga meliputi perayaan Natal kita yang terjalin dan dikemas untuk merenungkan harapan itu dengan tema: “Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dunia”.

2.    Saudara-saudari terkasih,
     Kita bersyukur boleh hidup dalam suatu negara yang secara konsti-tusional menjamin kebebasan beragama. Namun akhir-akhir ini gejala-gejala kekerasan atas nama agama semakin tampak dan mengancam ke-rukunan hidup beragama dalam masyarakat. Hal ini mencemaskan pihak-pihak yang mengalami perlakuan yang tidak wajar dalam masyarakat kita. Kita semakin merasa risau akan perkembangan “peradaban” yang mengarus-utamakan jumlah penganut agama; “peradaban” yang memenangkan mereka yang bersuara keras berhadapan dengan mereka tidak memiliki kesempatan bersuara; “peradaban” yang memenangkan mereka yang hidup mapan atas mereka yang terpinggirkan. Peradaban yang sedemikian itu pada gilirannya akan menimbulkan perselisihan, kebencian dan balas-dendam: suatu peradaban yang membuahkan budaya kematian dari pada budaya cinta yang menghidupkan.

Keadaan yang juga mencemaskan kita adalah kehadiran para penang-gungjawab publik yang tidak sepenuhnya memperjuangkan kepentingan rakyat kebanyakan. Para penanggungjawab publik memperlihatkan kiner-ja dan moralitas yang cenderung merugikan kesejahteraan bersama. So-rotan media massa terhadap kinerja penanggungjawab publik yang kurang peka terhadap kepentingan masyarakat, khususnya yang terung-kap dengan praktek korupsi dan mafia hukum hampir di segala segi kehidupan berbangsa, sungguh-sungguh memilukan dan sangat mempri-hatinkan, karena itu adalah kejahatan sosial.

Kenyataan ini yang berlawanan dengan keadaan masyarakat yang sema-kin jauh dari sejahtera,  termasuk sulitnya lapangan kerja, semakin mem-perparah kemiskinan di daerah pedesaan dan perkotaan. Keadaan ini diperberat lagi oleh musibah dan bencana yang sering terjadi, baik karena faktor murni alami maupun karena dampak campur-tangan kesalahan manusiawi, terutama dalam penanganan dan penanggulangannya. Sisi-sisi gelap dalam peradaban masyarakat kita dewasa ini membuat kita semakin membutuhkan Terang yang sesungguhnya itu.

Terang yang sesungguhnya, yaitu Yesus Kristus menjelma menjadi ma-nusia, sudah datang ke dalam dunia. Walaupun banyak orang  menolak Terang itu, namun Terang yang sesungguhnya ini membawa pengha-rapan sejati bagi umat manusia. Di tengah kegelapan, Terang itu me-numbuhkan pengharapan bagi mereka yang menjadi korban ketidak-adilan. Bahkan di tengah bencana pun muncul kepedulian yang justru melampaui batas-batas suku, agama, status sosial dan kelompok apa pun. Terang itu membawa Roh yang memerdekakan kita dari pelbagai kege-lapan, sebagaimana dikatakan oleh Penginjil Lukas: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang3.

Natal adalah tindakan nyata Allah untuk mempersatukan kembali di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya4. Semua yang dilihat-Nya baik adanya itu5, yang telah dirusakkan dan diceraiberaikan oleh kejahatan manusia, menemukan dirinya di dalam Terang itu. Oleh karena itu, dengan menyambut dan merayakan Natal sebaik-baiknya, kita menerima kembali, ─ dan demikian juga menya-tukan diri kita dengan ─  karya penyelamatan Allah yang baik bagi semua orang.

Di dalam merayakan Natal sekarang ini, kita semua kembali diingatkan, bahwa Terang sejati itu sedang datang dan sungguh-sungguh ada di da-lam kehidupan kita. Terang itu, Yesus Kristus, berkarya dan membuka wawasan baru bagi kesejahteraan umat manusia serta keutuhan ciptaan. Inilah semangat yang selayaknya menjiwai kita sendiri serta suasana di mana kita sekarang sedang menjalani pergumulan hidup ini.

3.    Saudara-saudari terkasih,
     Peristiwa Natal membangkitkan harapan dalam hidup dan sekaligus memanggil kita untuk tetap mengupayakan kesejahteraan semua orang. Kita juga dipanggil dan diutus untuk menjadi terang yang membawa pengharapan, dan terus bersama-sama mencari serta menemukan cara-cara yang efektif dan manusiawi untuk memperjuangkan kesejahteraan ber-sama.

·         Bersama Rasul Paulus, kami mengajak seluruh umat kristiani di tanah air tercinta ini: “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan”6, karena dengan membalas kejahatan dengan kejahatan, kita sendirilah yang dikalahkannya.

·         Selanjutnya kita wajib ikut-serta mewujudkan masyarakat yang sejah-tera, adil dan makmur, bahkan melalui usaha-usaha kecil tetapi konkrit seperti menjalin hubungan baik dengan sesama warga masyarakat demi kesejahteraan bersama. Kita turut menjaga dan memelihara serta melestarikan lingkungan alam ciptaan, antara lain dengan menanam pohon dan mengelola pertanian selaras alam, dengan tidak membuang sampah secara sembarangan; mempergunakan air dan listrik seperlunya, mempergunakan alat-alat rumahtangga yang ramah lingkungan.

·         Dalam situasi bencana seperti sekarang ini kita melibatkan diri secara proaktif dalam pelbagai gerakan solidaritas dan kepedulian sosial bagi para korban, baik yang diprakarsai gereja, masyarakat maupun pemerintah.

·         Marilah kita memantapkan penghayatan keberimanan kristiani kita, terutama secara batiniah, sambil menghindarkan praktik-praktik iba-dat keagamaan kita secara lahiriah, semu dan dangkal. Hidup beragama yang sejati bukan hanya praktik-praktik lahiriah yang ditetap-kan oleh lembaga keagamaan, melainkan berpangkal pada hubungan yang erat dan mesra dengan Allah secara pribadi.

Akhirnya, marilah kita menyambut dan merayakan kedatangan-Nya dalam kesederhanaan dan kesahajaan penyembah-penyembah-Nya yang pertama, yakni para gembala di padang Efrata, tanpa jatuh ke dalam perayaan gegap-gempita yang lahiriah saja. Marilah kita percaya kepada Terang itu yang sudah bermukim di antara kita, supaya kita menjadi anak-anak Terang7.
[1]Dengan demikian perayaan Natal menjadi kesempatan mulia bagi kita untuk membangkitkan dan menggerakkan peradaban kasih sebagai tanda penerimaan akan Terang itu dalam lingkungan kita masing-masing. Dengan pemikiran serta ungkapan hati itu, kami mengucapkan:

SELAMAT NATAL 2010 DAN TAHUN BARU 2011

Jakarta, 12 November 2010    
Atas nama
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA    KONFERENSI  WALIGEREJA
       DI INDONESIA  (PGI),                           INDONESIA (KWI),
                                                                                                           
                                                                                   
      Pdt. Dr. A.A. Yewangoe                 Mgr. Martinus D. Situmorang OFMCap.
               Ketua Umum                                                Ketua

Pdt. Gomar Gultom,       Mgr. J Pujasumarta
             Sekretaris Umum                                  Sekretaris Jenderal



[1] Yoh.8:12; 2Lih.Yoh.1:9-11; 3Luk.4:18-19; 4Lih.Ef.1:10; 5Lih.Kej.1:10;6Rom.12:21;7Lih.Yoh.12:36.
__._,_.___