Tuesday, December 28, 2010

Bolehkah anak dari keluarga yang tidak syah perkawinannya (secara Gereja Katolik) dibaptis?


Kasusnya begini: ada pasangan suami istri yang mempunyai anak bayi. Pasangan ini mengaku bahwa dirinya pasangan keluarga katolik karena keluarga besar mereka katolik. Tetapi pernikahannya belum syah menurut Hukum Gereja Katolik. Suami adalah duda cerai. Dulu perkawinannya di Gereja Katolik, tetapi ia ditinggalkan istrinya. Istrinya sekarang sudah bersuami lagi. Duda cerai ini mendapatkan pasangan baru dan menghasilkan  anak. Anak inilah yang mau dibaptiskan.

Tanggapan kasus:
Pada prinsipnya bayi itu boleh dibaptis
Alasannya:
Hukum Gereja menyatakan: “Yang  dapat dibaptis ialah setiap dan hanya manusia yang belum dibaptis” (Kan. 864)
Bahkan di Statuta Keuskupan Regio Jawa ditegaskan bahwa “Anak dari orang tua yang perkawinannya tidak sah atau dari ibu yang tidak bersuami boleh dibaptista, jika ada izin orang tua atau walinya dan ada harapan nyata bahwa anak itu akan dididik dalam agama Katolik. Mengenai pencantuman nama ayah hendaknya diperhatikan kan 877 § 2” (Statuta Regio Keuskupan Jawa pasal 84)

Perlu diperhatikan:
Bayi sampai anak yang belum bisa menggunakan akalbudi untuk memutuskan pilihan bebasnya adalah tanggung jawab orang tua. Maka, peran orangtua sangat menetukan bisa tidaknya bayi dibaptis.
Perlu diingatkan kembali bahwa dalam hukum Gereja telah ditegaskan bahwa “Orangtua karena telah memberi hidup kepada anak-anaknya terikat kewajiban yang sangat berat dan mempunyai hak untuk mendidik mereka, maka dari itu  adalah pertama-tama tugas orang tua kristiani untuk mengusahakan pendidikan kristiani anak-anak menurut ajaran yang diwariskan Gereja. (kan. 226 §2)” dan Kan. 867 § 1. Pada orangtua wajib mengusahakan agar bayi-bayi dibaptis dalam minggu-minggu pertama, segera sesudah kelahiran anaknya, bahkan juga sebelum itu, hendaknya menghadap pastor paroki untuk memintakan sakremen bagi anaknya serta dipersiapkan dengan semestinya untuk itu.
Dengan kata lain, orang tua wajib mendidik anaknya seturut iman kristiani. Membaptiskan anaknya merupakan salah satu wujud mendidik anak menurut iman kristiani

Langkah pastoralnya:

Menegaskan apakah orangtua si bayi setuju bahwa anaknya dibaptis. Dalam Hukum Gereja ditegaskan syarat untuk pembaptisan anak yakni: Kan. 868 §1. Agar bayi dibaptis secara licit (pantas) haruslah: Orangtuanya, sekurang-kurangnya satu dari mereka atau secara legitim menggantikan orangtuanya, menyetujuinya;

Menegaskan kepada orangtua bayi mengenai kesanggupan orangtua untuk menjamin pendidikan iman bayi selanjutnya. Dalam Hukum Gereja ditegaskan bahwa: “Ada harapan cukup beralasan bahwa anak itu akan dididik dalam agama katolik; bila harapan itu tidak ada, baptis hendaknya ditunda menurut ketentuan hukum partikular, dengan memperingatkan orangtuanya mengenai alasan itu. Selain itu, sebaiknya ada penjamin pendidikan iman anak dalam keluarga besar mereka.

Ketua umat mendorong dan meminta pada keluarga untuk mengupayakan pemberesan perkawinan mereka. Kemauan dan upaya memberekan perkawinan menujukan kehendak baik untuk mengembangkan iman kristiani.

Mencari wali baptis. “Hendaknya diusahakan agar pendampingan oleh wali baptis tidak melulu formalitas pada upacara belaka, melainkan sungguh dapat diharapkan akan bertindak sebagai pendampingan dalam perkembangan menuju kedewasaan iman” (Statuta Keuskupan Regio Jawa pasal 86 Kan 872)

MoEd


No comments:

Post a Comment