Wednesday, February 23, 2011

February 23, 2011

Pengalaman Sewaktu SEKAMI


Hallo teman-teman nama saya Felix. Saya ingin menceritakan pengalamana saya selama mengikuti kegiatan Sekami. Pengalaman yang paling saya senangi adalah: ketika saya mengikuti kegiatan SOMA 2008 bersama stasi Jelerai. Di sana kami dilatih lagu-lagu dan yel-yel SEKAMI yaitu singkatan dari Serikat Kepausan Anak-anak Misioner. Kami melakukan kegiatan bersama-sama lho!! Banyak sekali anak-anak SEKAMI. Saya sampai kebingungan di mana teman-teman saya dari SEKAMI Tanjung Selor. Sesudah itu, aku punya pengalaman yang lain. Yaitu saat saya bersama teman-teman SEKAMI berkunjung dari rumah ke rumah kami. Kami berdoa, bernyanyi dan berlatih yel-yel loh!!
Ketika Natal 2010 yang lalu, saya mengikuti lomba menggambar lho!! Stasi Jelerai juga ikut lomba menggambar lho!! Meski saya tidak menang dalam lomba menggambar, saya merasa senang karena dapat mengikuti lomba menggambar dengan teman yang lainnya. Ketika tahun 2009 yang lalu, kami merayakan karya misi Santo Paulus kami merayakan bersama anak stasi Jelerai. Saya juga mengikuti kegiatan latihan gerak dan lagu saya merasa senang bisa berlatihan bersama teman-teman. Lagu SEKAMI yang saya suka adalah Tuhan Yesus Aku Berjanji, Aku Anak Katolik, Tu Wa Ga Pat dan semua lagu SEKAMI lainnya.
Teman yang saya senangi adalah teman yang baik, rajin mengikuti SEKAMI dan tidak nakal Saya juga mempunyai pengalaman yang tidak mengenakkan. Saat saya tidak bisa ikut SEKAMI yakni saat mengunjungi orang sakit karena tidak ada yang mengantar. Saya sedih tidak bisa mengikutinya, tetapi saya merasa senang kegiatan SEKAMI yang lain bisa saya ikuti. Sekian
Felix
Siswa Kelas VI SDN I Tanjung Selor
Teman-teman nama saya Chyntia. Saya ingin menceritakan pengalaman saya selama ikut SEKAMI. Saya mengikuti SEKAMI sejak berumur 5 tahun. Mulanya sih ikut-ikutan saja lama-kelamaan saya menyanyangi dan menjadi anggota SEKAMI. Hari minggu adalah hari yang paling saya senangi sebab di hari Minggu saya bersiap-siap untuk mengikuti SEKAMI pukul pagi saya sudah harus sampai di gereja.
SEKAMI adalah Serikat Kepausan Anak-anak Misioner, saya pergi ke SEKAMI bersama kakakku, bang Felix dan Ocha adik saya yang digelari ‘bakpao atau roti gembung’ karena seperti boneka Susan, lucu sekali. Di saat SEKAMI, kami pasti menyanyikan lagu-lagu SEKAMI dalam bahasa Inggris maupun Indonesia.
Ada beberapa pengalaman yang saya alami selama mengikuti SEKAMI di antaranya mengikuti lomba menggambar SEKAMI tema natal bersama dengan SEKAMI stasi Jelerai. Tidak disangka saya juara I loh. Selain itu saya mengikuti drama natal. Saya berperan sebagai gembala I. setiap perayaan Natal, saya pasti mengikuti drama natal. Ada lagi lho yaitu saat kami merayakan hari raya misi paulus pada tahun 2009, kami merayakan di stasi Jelerai. Kami sangat senang dan yang terakhir pada saat saya mengikuti SOMA tahun 2008, kami SEKAMI Tanjung Selor dan SEKAMI stasi Jelerai mengadakan SOMA di keuskupan mulai dari pukul 09.00 pagi samapi 18.30 malam loh. Tapi kami bersemangat karena kami dapat melatih yel-yel dan lagu SEKAMI. Banyak lagu-lagu telah kami pelajari selama di SEKAMI. Lagu yang paling saya senangi adalah Mars SEKAMI dan Aku Anak Katolik. Lagu-lagu ini sering saya nyanyikan di rumah maupun di SEKAMI. Selain kami mendapat pelatihan lagu-lagu dan yel-yel kami juga berdoa dan membaca kitab suci sehingga saya semakin lancar membuka Kitab Suci dan semakin terbiasa. Selain itu, kami pada minggu sore tepatnya pukul 15.30 sore kami pergi ke rumah-rumah untuk berdoa, bernyanyi dan melatih yel-yel di SEKAMI. Saya mempunyai teman yang sebaya dengan saya dan teman yang saya senangi adalah orangnya baik, rajin SEKAMI, suka melucu dan periang. Di SEKAMI saya puas bermain, bercanda terkadang lupa dengan lingkungan Gereja.
Selain itu, saya bertemu dengan kakak pembina SEKAMI. Mereka mendampingi kami selalu. Mereka menyanyi lagu anak-anak SEKAMI. Jika kami berkumpul, mereka memberikan pelatihan yel-yel dan lagu SEKAMI dan bersama suster pendamping kami Sr. Jean, SMSJ. Kami dilatih untuk dapat membuat doa spontan dan dilatih agar dapat membaca Kitab Suci dengan baik.
Ada suatu pengalaman yang tidak mengenakkan selama saya mengikuti SEKAMI yaitu pada saat memperingati hari orang sakit sedunia, saya tidak dapat mengikutinya disebabkan karena tidak ada yang mengantar. Aku sangat sedih loh, tetapi pengalaman yang tidak mengenakkan hanya satu sedangkan yang menyenangkan begitu banyak loh hi..hi..hi..sekian pengalaman saya. Terima kasih…
Chyntia
Siswi Kelas V SDN I Tanjung Selor



Tuesday, February 22, 2011

February 22, 2011

Pelatihan Jurnaliastik KOMSOS Keuskupan Tanjung Selor


Ada 47 orang peserta yang meng-kuti Pelatihan Jur-nalistik. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Komisi Kom-sos Keuskupan Tan-jung Selor pada tanggal 26-27 Fe-bruari 2011. Mere-ka berasal dari 10 paroki dari 14 paro-ki yang ada di Keus-kupan Tanjung Se-lor. Pelatihan Jur-nalistik tersebut dimaksudkan untuk membangun jaring-an komunikasi antar paroki se-Keukupan Tanjung Selor dan meningkatkan kapasitas kemampuan jurnalistik peserta.

Dalam Pelatihan Jurnalistik kali ini ada tiga materi yang diberikan pada peserta, yakni penulisan, foster dan penyiaran.  Dengan tiga materi tersebut , peserta pelatih-an minimal dikenalkan bagaimana proses menyampaikan informasi bisa dijalankan. Proses penyampaian informasi dalam kegiatan Gereja bisa menjadi sarana katekese.
Saat penulisan, peserta diingatkan hal pokok yang harus ada dalam berita yang dikenal dengan 5W + 1 H (What, Who, Where, When dan Why + How). 5W + 1 H ini juga diterapkan dalam pembuatan foster dengan penambahan visualisasi gambar dan sedikit kata-kata.
Materi penyiaran bukan dimaksudkan sebagai wadah mendidik peserta menjadi penyiar. Materi ini hanya se-bagai pengenalan salah satu media yang dimiliki oleh Ke-uskupan. Penyedaran ini diharapkan menarik sebagian pe-serta untuk terlibat lebih aktif di Radio Keuskupan.
Dalam pelatihan ini lebih ditekankan penulisan Sejarah Keuskupan yang direncanakan selesai akhir tahun 2011. Adapun gambaran buku sejarah yang mau dibuat adalah sebagai berikut:
1.Keterlibatan dan Visioner Keuskupan
- Gambaran umum menge-nai Keuskupan Tanjung Selor. Mapping ini melukis-kan kondisi geografis secara global.
- Gambaran kondisi sosial budaya dan ekonomi. Pa-paran mengenai macam budaya yang hidup di wilayah keuskupan. Sebisa mungkin juga dijelaskan karakter masing-masing budaya yang ada. Sorotan ekonomi lebih menggambarkan matapencarian yang ada di wiliayah keuskupan ini.
- Gambaran eklosiologis (gambaran hidup menggereja). Secara umum bisa dilukiskan bagaimana suasana pastoral baik pelayanan pastoral maupun dinamika hidup menggereja secara umum di keuskupan
- Kebijakan pastoral yang pernah dirumuskan (Visi dan misi keuskupan)
- Refleksi Bapa Uskup dalam terlibat dan menggagas keuskupan Tanjung Selor selama 10 tahun dan ditambahkan visioner Bapa Uskup sebagai suara nabi di Keuskupan Tanjung Selor
2. Jejak Langkah Paroki
Bagian ini mengisahkan karya hidup menggereja di 14 paroki yang ada. Tawaran kerangka dalam menuliskan hidup menggereja paroki:
- Sejarah berdirinya (disertaikan SK penetapan sebagai paroki); tokoh yang berperan penting dalam. Ada foto Gereja dalam perkembangan
- Gambaran paroki: Letak dan batas wilayah paroki, Jumlah umat, Stasi yang ada disertai foto gedung gereja dan gambar tentang umat (budaya, sosial ekonomi, hidup menggereja), Tenaga pastoral yang pernah dan sedang terlibat dalam hidup menggereja.
- Kegiatan Gereja yang melibatkan umat bahkan umat lain yang dilakukan, dikenang dan dirindukan umat selama 10 tahun terakhir ini
3. Cerita-cerita pengalaman Pastoral di Keuskupan Tanjung Selor
Pengalaman-pengalaman pastoral unik dan lucu bisa menjadi inspirasi dalam pastoral berikutnya. Pastor, suster, frater atau umat bisa menyumbangkan tulisan mereka.
Semoga dengan pelatihan ini apa yang menjadi harapan KOMSOS  dapat tercapai. Mari kita terlibat.

MoEd


Thursday, February 3, 2011

February 03, 2011

Merudung Pebatun de Benuanta


Merudung Pebatun de Benuanta
Bahasa Bulungan: saling bahu-membahu antar seluruh lapisan masyarakat dalam membawa Kabupaten Bulungan ke arah yang lebih baik



Berdirinya Kerajaan Bulungan tidak dapat dipisahkan dengan mitos ataupun legenda yang hidup secara turun-temurun dalam masyarakat. Legenda bersifat lisan dan merupakan cerita rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang benar-benar terjadi. Karena sifatnya yang tidak tertulis dan sering kali mengalami distorsi maka sering kali pula dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya. Yang demkian itulah disebut dengan folk history (sejarah kolektif). Kuwanyi, adalah nama seorang pemimpin suku bangsa Dayak Hupan (Dayak Kayan) karena tinggal di hilir Sungai Kayan, mula-mula mendiami sebuah perkampungan kecil yang penghuninya hanya terdiri atas kurang lebih 80 jiwa di tepi Sungai Payang, cabang Sungai Pujungan. Karena kehidupan penduduk sehari-hari kurang baik, maka mereka pindah ke hilir sebuah sungai besar yang bernama Sungai Kayan.
Suatu hari Kuwanyi pergi berburu ke hutan, tetapi tidak seekorpun binatang yang diperolehnya, kecuali seruas bambu besar yang disebut bambu betung dan sebutir telur yang terletak di atas tunggul kayu Jemlay. Bambu dan telur itu dibawanya pulang ke rumah. Dari bambu itu keluar seorang anak laki-laki dan ketika telur itu dipecah ke luar pula seorang anak perempuan. Kedua anak ini dianggap sebagai kurnia para Dewa. Kuwanyi dan istrinya memelihara anak itu baik-baik sampai dewasa. Ketika keduanya dewasa, maka masing-masing diberi nama Jauwiru untuk yang laki-laki dan yang perempuan bernama Lemlai Suri. Keduanya dikawinkan oleh Kuwanyi.

Kisah Jauwiru dan Lemlai Suri kini diabadikan dengan didirikannya sebuah Monumen Telor Pecah. Monumen tersebut terletak di antara Jl. sengkawit dan Jl. Jelarai, Kota Tanjung Selor, yang mengingatkan kita tentang cikal bakal berdirinya kesultanan Bulungan.
Bulungan, berasal dari perkataan Bulu Tengon (Bahasa Bulungan), yang artinya bambu betulan. Karena adanya perubahan dialek bahasa Melayu maka berubah menjadi “Bulungan”. Dari sebuah bambu itulah terlahir seorang calon pemimpin yang diberi nama Jauwiru. Dan dalam perjalanan sejarah keturunan, lahirlah kesultanan Bulungan. Setelah Kuwanyi wafat maka Jauwiru menggantikan kedudukan sebagai ketua suku bangsa Dayak (Hupan). Kemudian Jauwiru mempunyai seorang putera bernama Paran Anyi.
Paran Anyi tidak mempunyai seorang putera, tetapi mempunyai seorang puteri yang bernama Lahai Bara yang kemudian kawin dengan seorang laki-laki bernama Wan Paren, yang menggantikan kedudukannya. Dari perkawinan Lahai Bara dan Wan Paren lahir seorang putera bernama Si Barau dan seorang puteri bernama Simun Luwan. Pada masa akhir hidupnya, Lahai Bara mengamanatkan kepada anak-anaknya supaya “Lungun” yaitu peti matinya diletakkan di sebelah hilir [[sungai Kipah]]. Lahai Bara mewariskan tiga macam benda pusaka, yaitu ani-ani (kerkapan). Kedabang, sejenis tutup kepala dan sebuah dayung (bersairuk). Tiga jenis barang warisan ini menimbulkan perselisihan antara Si Barau dan saudaranya, Simun Luwan. Akhirnya Simun Luwan berhasil mengambil dayung dan pergi membawa serta peti mati Lahai Bara.
Karena kesaktian yang dimiliki oleh Simun Luwan, hanya dengan menggoreskan ujung dayung pada sebuah tanjung dari sungai Payang, maka tanjung itu terputus dan hanyut ke hilir sampai ke tepi Sungai Kayan, yang sekarang terletak di kampung Long Pelban. Di Hulu kampung Long Pelban inilah peti mati Lahai Bara dikuburkan. Menurut kepercayaan seluruh keturunan Lahai Bara, terutama keturunan raja-raja Bulungan, dahulu tidak ada seorangpun yang berani melintasi kuburan Lahai Bara ini, karena takut kutukan Si Barau ketika bertengkar dengan Simun Luwan. Bahwa siapa saja dari keturunan Lahai Bara bila melewati peti matinya niscaya tidak akan selamat. Tanjung hanyut itu sampai sekarang oleh suku-suku bangsa Dayak Kayan dinamakan Busang Mayun, artinya Pulau Hanyut.
Kepergian Simun Luwan disebabkan oleh perselisihan dengan saudaranya sendiri, saat itu merupakan permulaan perpindahan suku-suku bangsa Kayan, meninggalkan tempat asal nenek moyang mereka di sungai Payang menuju sungai Kayan, dan menetap tidak jauh dari Kota Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten Bulungan sekarang. Suku bangsa Kayan hingga sekarang masih terdapat di beberapa perkampungan di sepanjang sungai Kayan, di hulu Tanjung Selor, di Kampung Long Mara, Antutan dan Pimping. Simun Luwan mempunyai suami bernama Sadang, dan dari perkawinan mereka lahir seorang anak perempuan bernama Asung Luwan. Asung Luwan kawin dengan seorang bangsawan dari Brunei, yaitu Datuk Mencang.
Para kerabat Kesultanan Bulungan
Sejak pemerintahan Datuk Mencang inilah timbulnuya kerajaan Bulungan. Datuk Mencang adalah salah seorang putera Raja Brunei di Kalimantan Utara yang telah mempunyai bentuk pemerintahan teratur. Datuk Mencang berlabuh di muara sungai Kayan Karena kehabisan persediaan air minum. Dengan sebuah perahu kecil Datuk Mencang dan Datuk Tantalani menyusuri sungai Kayan mencari air tawar, tetapi suku bangsa Kayan sudah siap menghadang kedatangan mereka. Mujur pihak Datuk Mencang dan Datuk Tantalani cukup bijaksana dapat mengatasi keadaan dan berhasil mengadakan perdamaian dengan penduduk asli sungai Kayan. Dari hasil perdamaian ini akhirnya Datuk Mencang kawin dengan Asung Luwan, salah seorang puteri keturunan Jauwiru.
Menurut legenda, lamaran Datuk Mencang atas Asung Luwan ditolak, kecuali Pangeran dari Brunei itu sanggup mempersembahkan mas kawin berupa kepala Sumbang Lawing, pembunuh Sadang, kakaknya. Melalui perjuangan, ketangkasan dan kecerdasan, akhirnya Datuk Mencang dapat mengalahkan Sumbang Lawing. Perang tanding dilakukan dengan uji ketangkasan membelah jeruk yang bergerak dengan senjata. Datuk Mencang lebih unggul dan meme-nangkan uji ketangkasan tersebut.
Setelah Asung Luwan menikah dengan datuk Mencang (1555-1594), berakhirlah masa pemerintahan di daerah Bulungan yang dipimpin oleh Kepala Adat/Suku, karena sejak Datuk Mencang memimpin daerah Bulungan, pemimpinnya disebut sebagai Kesatria/Wira.
Berikut adalah daftar Sultan Bulungan, daftar berikut masih belum sempurna, karena ada tahun yang hilang serta nama yang tidak diketahui.[2]
[sunting] Masa Pemerintahan Yang Dipimpin Oleh Seorang Kesatria/Wira
  • Datuk Mencang (Seorang bangsawan dari Brunei), beristrikan Asung Luwan(1555-1594)
  • Singa Laut, Menantu dari Datuk Mencang (1594-1618)
  • Wira Kelana, Putera Singa Laut (1618-1640)
  • Wira Keranda, Putera Wira Kelana (1640-1695)
  • Wira Digendung, putra Wira Keranda (1695-1731)
  • Wira Amir, Putera Wira Digendung Gelar Sultan Amiril Mukminin (1731-1777)
[sunting] Masa Pemerintahan Yang Dipimpin Oleh Seorang Sultan
  • Aji Muhammad/Sultan Alimuddin bin Muhammad Zainul Abidin/Sultan Amiril Mukminin/Wira Amir (1877-1817)
  • Muhammad Alimuddin Amirul Muminin Kahharuddin I bin Sultan Alimuddin (jabatan ke-1) (1817-1861)
  • Muhammad Jalaluddin bin Muhammad Alimuddin (1861-1866)
  • Muhammad Alimuddin Amirul Muminin Kahharuddin I bin Sultan Alimuddin (jabatan ke-2) (1866-1873)[3]
  • Muhammad Khalifatul Adil bin Maoelanna (1873-1875)
  • Muhammad Kahharuddin II bin Maharaja Lela (1875-1889)
  • Sultan Azimuddin bin Sultan Amiril Kaharuddin (1889-1899).
  • Pengian Kesuma (1899-1901). Ia adalah istri Sultan Azimuddin.
  • Sultan Kasimuddin
  • Datu Mansyur (1925-1930),Pemangku jabatan sultan
  • Maulana Ahmad Sulaimanuddin (1930-1931)
  • Maulana Muhammad Jalaluddin (1931-1958)
Pada tahun 1850, orang Belanda, yang menaklukkan Berau pada tahun 1834 dan dikenakan kedaulatan mereka untuk Kutai pada tahun 1848, yang ditandatangani dengan Sultan Bulungan Kontrak Politik. Bersemangat untuk memerangi pembajakan dan perdagangan budak, bersedia untuk melawan pembajakan dan perdagangan budak, mereka mulai untuk campur tangan di wilayah ini.
Sampai tahun 1860, Bulungan berada di bawah Kesultanan Sulu. Selama periode ini, kapal Sulu pergi ke Tarakan dan kemudian di Bulungan untuk perdagangan langsung dengan Tidung. Pengaruh ini berakhir pada 1878 dengan penandatanganan perjanjian antara Inggris dan Spanyol yang dirancang untuk Sulu.
Pada 1881, Perusahaan Kalimantan Utara Chartered dibentuk, yang merupakan Borneo utara di bawah yurisdiksi Inggris, tetapi Belanda mulai menolak. Kesultanan itu akhirnya dimasukkan dalam kerajaan Hindia Belanda pada tahun 1880-an kolonial. Orang Belanda menginstal sebuah pos pemerintah di Tanjung Selor pada tahun 1893. Pada tahun 1900-an, seperti banyak negara-negara kerajaan lain di kepulauan ini, Sultan terpaksa menandatangani Korte verklaring, pernyataan "singkat" oleh yang menjual sebagian besar kekuasaannya atas tanah hulu.
Orang Belanda akhirnya mengakui perbatasan antara dua wilayah hukum pada tahun 1915. Kesultanan ini dikenakan status Zelfbestuur, "administrasi sendiri", pada tahun 1928, lagi-lagi seperti banyak negara pangeran Hindia Belanda.
Penemuan minyak di BPM (Bataafse Petroleum Maatschappij) di pulau Bunyu dan Tarakan akan memberikan sangat penting bagi Bulungan untuk orang Belanda, karena Tarakan ibukota daerah.
Setelah pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Kerajaan Belanda, wilayah menerima status Wilayah Swapraja Bulungan atau "wilayah otonom" di Republik Indonesia pada tahun 1950, maka Wilayah Istimewa atau "wilayah khusus "pada tahun 1955. Sultan terakhir, Jalaluddin, meninggal pada tahun 1958. kesultanan itu dihapuskan pada tahun 1959 dan wilayah itu menjadi kabupaten yang sederhana.
Kesultanan Bulungan atau Bulongan adalah kesultanan yang pernah menguasai wilayah pesisir Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, dan Kota Tarakan sekarang. Kesultanan ini berdiri pada tahun 1731, dengan raja pertama bernama Wira Amir gelar Amiril Mukminin (17311777), dan Raja Kesultanan Bulungan yang terakhir atau ke-13 adalah Datuk Tiras gelar Sultan Maulana Muhammad Djalalluddin (1931-1958).[1]