Saturday, April 30, 2011

April 30, 2011

Gotong Royong di Paroki TIdeng Pale

Hari minggu, 20 Maret 2011, mulai pukul 15.00 WIB, satu persatu anak-anak, orang muda dan tua mendatangi Gereja Paroki Santo Paulus Tideng Pale (GPSPTP). Beberapa diantara mereka dengan mantab datang lengkap dengan parang di tangan.
Eitz.... tunggu dulu! Jangan buru-buru ambil kesimpulan! Tenang! Mereka tidak mau berperang. Karena ternyata selain parang yang mereka bawa, beberapa dari mereka juga membawa sapu, kain pel, mesin pemotong rumput, dan alat kebersihan lainnya. Ya, mereka umat dari sekitaran GPSPTP yang akan bahu membahu merapihkan gereja dan sekitarnya.
Tanpa pandang umur dan jenis kelamin, semua orang turun tangan. Ada yang memotong rumput, menyapu, mengepel, mengelap kaca, sekedar berbincang-bincang dan ada juga yang berlarian atau bermain dengan teman sebaya. Sungguh pemandangan yang jarang terlihat namun menggambarkan adanya kebersamaan dan kepedulian satu dengan yang lain.
Usut punya usut, kegiatan ini berawal dari keprihatinan pada kondisi gereja yang nampak tak terurus. Hal ini disampaikan oleh P. Antonius Sunarto, Pr. dalam pengumuman setelah perayaan Ekaristi pagi hari pada hari tersebut. Dalam sesi yang sama, P. Anton, demikian beliau akrab disapa, mengajak seluruh umat untuk bersama-sama merapihkan gereja.
Ajakan ini membuahkan hasil. Hanya dalam 3 jam setelah ajakan tersebut direalisir, GPSPTP berubah kenampakannya. Gereja yang semula terkesan tak terurus menjadi bersih dan rapi, dan menimbulkan rasa krasan bagi yang berada di sekitarnya. Kesan ini tentu saja sulit terwujud jika tidak ada kerjasama antarumat itu sendiri.
Rupa-rupanya, kegiatan ini bukan pertama kalinya diselenggarakan di GPSPTP pada bulan Maret. Seminggu sebelumnya, 13 Maret 2011, beberapa umat juga telah melakukan kegiatan serupa di jalur Jalan Salib di gereja tersebut. Secara keseluruhan, kedua kegiatan ini dilakukan untuk persiapan menyambut perayaan Kebangkitan Kristus pada Hari Paskah nanti.
Apabila kita mengingat hasil Rapat Pastores Januari 2011, kegiatan yang memerlukan kerjasama ini senada dengan salah satu tujuan karya pastoral 2011 di Keuskupan Tanjung Selor, yaitu kesediaan untuk saling melayani bertanggung jawab dan rela berkorban.
Semoga kebersamaan yang membuahkan hasil yang baik ini menjadi awal kebersamaan-kebersamaan selanjutnya, sehingga semakin banyaklah kebaikan yang dihasilkan dari kebersamaan tersebut. *~Ska~

April 30, 2011

Saat Ia Ada dalam Hati Kita


Kamar yang bersih dan rapi tertata sudah menjadi bagian hidup dari Pastor Klulur. Se-tiap saat Pastor Klulur bukan hanya membersihkan kamar tidurnya sendiri tetapi ju-ga kamar kerjannya. Hampir tidak ada debu yang menempel pada benda-benda yang ada di kamar Pastor Klulur ini, semuanya tampak bersih dan sehat (red, tetapi harus tetap di semprot baygon karena masih banyak nyamuk, hati-hati demam berdarah.....ati-ati Pastor!).
Pada suatu ketika Pastor Klulur ini mengajak salah satu anak misdinarnnya memasuki kamar kerjanya. Na-ma anak itu Sengkring, dia ini masih duduk di bangku Sekolah Dasar Impres kelas V  (red. Katanya sekolahnya hampir roboh, maklum Banpres (Bantuan Presiden) sudah tidak bisa bantu lagi). Sengkring memang termasuk mis-dinar yang sangat dibangakan oleh Pastor Klulur. Selain Sengkring ini anaknya rajin mesdinar dia juga rajin mem-bantu Pastor Klulur membersihkan kamar kerjanya tan-pa pamrih dan dengan tulus hati. Sengkring sangat se-nang membantu Pastor Klulur bukan  hanya saat di altar tetapi juga di meja kerja. Bagi Sengkring, Pastor Klulur ini merupakan seorang Pastor yang pantas untuk dika-gumi maupun diteladani. Seperti biasa saat pulang se-kolah Sengkring tidak langsung pulang, tetapi mampir ke pastoran untuk membantu Pastor Klulur membereskan pekerjaannya di kantor. (red. jam sekolah si sengkring itu minimalis 1 kelas hanya dapat 4 jam untuk belajar, lho kan sekolah sengring hampir roboh jadi mereka harus bergantian dengan kelas yang lain, wah bagaimana bisa pandai,……kasihan anank-anak negeri ini…).
Pastor Klulur sudah berada di belakang meja ker-janya,“selamat siang pastor “ sapa Sengkring kepada Pastor Klulur. “selamat siang juga “ sahut Pastor Klulur, “wah kok kelihatanya ada yang lain di wajahmu Kring, ada apa gerangan?” tanya Pastor Klulur dengan heran kepada Sengkring. Apanya yang lain Pastor?” sahut Sengkring “itu wajahmu tampak bersinar terang hari ini, kamu kelihatan putih bersih. Kamu pakai krim pemutih milik kakakmu ya Kring,,,,,,,,ternyata sengkring yang dikatakan anak Tuhan pingin tampil beda juga ya he,,,,he,,,he,,,, ” ejek Pastor Klulur. Karena emang sangat aneh bila wajah Sengkring kelihatan putih, karena dia merupakan anak-anak produk pulau Papua, alias hitam kelam (eiiit, yang tambahan ini tambahan redaktur aja, jadi jangan diambil hati bagi yang punya kulit hitam ya ha,,,ha,,,ha). “jangan menghina dulu Pastor, dengar dulu cerita saya ya “ dengan penuh semangat Sengkring ingin menceritakan apa yang baru dialami kepada Pastor Klulur. “tapi Pastor harus berhenti kerja sebentar, soalnya ini antara surga dan neraka” dengan sangat serius Sengkring meminta. “wahhh,,,,ini soal hidup dan mati Kring, penting ini, ke mari mendekat Kring, biar bisa aku dengarkan ceritamu dengan baik ya” pinta Pastor Klulur kepada Sengring sambil mempersilahkan duduk di sampingnya.
“sekarang silahkan mulai cerita Kring” pinta Pastor Klulur kapada Sengring.
“begini Pastor, tadi di sekolah, baru kali pertama mendapatkan pelajaran agama katolik” maklum sekolah inpres jadi sangat jarang guru agama katolik yang mau mengajar di sana (red. Soalnya honornya bukan uang, tetapi honornya pelayanan. Kan sampai sekarang belum ada mata uang pelayanan he,,,he,,he,,,,,,,,siapa mau,capek deeh,,,,,)
“wah dapat guru baru ya Kring, lalu pak Guru mengajarkan apa kepada kamu?” sahut Pastor Klulur dengan sedikit memberikan semangat pada Sengkring untuk melanjutkan ceritanya.
“pak guru itu mengajarkan bagaimana berdoa dengan baik Pastor,,,, “ tiba-tiba terdengar bunyi bel jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12 siang.
“stop, sebentar Kring, sudah jam 12 siang saatnya untuk doa siang” pinta Pastor Klulur kepada Sengkring. Pastor Klulur berdiri mendekati meja kerja, lalu sejenak tangan kanannya diletakkan di atas buku kecil yang tebal. Dia diam sesaat sambil memejamkan mata, lalu berkata “Tuhan Engkau tahu apa yang ada di dalam hatiku”.
“lho,,,,,,,,,kok sama!” teriakan Sengkring itu mengagetkan Pastor Klulur yang sedang menikmati keheningan (red. Katanya sih keheningan, tetapi sebenarnya dia mulai mengantuk he,,,,he,,,he,,,memang antara doa dalam keheningan dan tidur bedanya sangat tipiiiiis sekali)
“aduh,,,,,,,,Kring kenapa kamu teriak kan Pastor lagi berdoa” kalimat kesal dari Pastor Klulur.
“maaf Pastor, masalahnya Pastor mengucapkan kalimat yang sama seperti yang dikatakan pak guru agama di kelas tadi” jawab Sengkring sambil menundukkan kepala karena takut (red. Maklum berhadapan dengan orang yang merasa punya kuasa itu menakutkan ya Kring makanya harus sampai tunduk kepada).
“memang dia bilang apa dengan kalian?” pinta Pastor Klulur kepada Sengkring.
“pak guru agama mengatakan kalau Tuhan itu sudah tahu dengan apa yang ada di hati kita, jadi kalau berdoa jangan bertele-tele, gitu Pastor, tetapi kenapa Pastor tadi katanya mau doa kok hanya pegang buku kecil dan tebal yang ada di atas kitab suci itu” tanya Sengkring dengan penuh keheranan.
“Oooo,,,,,,ini namanya buku ‘brevir’ Kring, buku doa bagi para orang yang terpanggil menjadi imam, biarawan dan biarawati. Mereka mempunyai kewajiban untuk selalu berdoa dengan buku ini” secara singkat Pastor Klulur menjelaskan kepada Sengkring (red. Apakah Sengkring ngerti apa tidak, yang penting jelas nrocooos aja,,,,biar kelihatan pinternya atau tidak bisa dikalahkan he,,,he,,,he)
“berarti Pastor juga harus berdoa pakai buku itu ya?” tanya Sengkring dengan penuh semangat
“Ooo,,,sudah pasti i ya, Kring” sahut pastor.
“tapi kok tadi hanya dipegang saja Pastor?” Sengkring yang masih haus jawaban.
“kan Tuhan sudah tahu apa yang ada di hati Pastor, jadi yang cukup memengang saja” bela Pastor Klulur yang menurutnya jawaban biblis yang tidak bisa dibantah lagi (red. Jawaban biblis apa karena malas Pastor,,,,,,?)
Tetapi dengan hasih penelitian dan kedekatan Sengkring dengan Paestor Klulur, Sengkring tidak kalah ilmiah dengan memberikan jawaban :
“pantas saya tidak pernah melihat Pastor sedang berdoa” (red. mampus luuu).
Bertitik pangkal dari spiritualitas pneumatologis, seorang beriman, bahkan seorang yang terpanggil menjalani hidup sebagai orang yang hidup menurut nasehat injili, diharapkan menjadi pengamal utama dari pusat batin, nafas hidup dan kuncup kasih antara Allah dan manusia. Mereka menjadi ‘jembatan’ dan ‘pusat penghubung’ untuk menyampaikan doa pujian, sembah-syukur dan permohonan manusia kepada Allah. Doa menjadi nafas bagi seorang biarawan-biarawati, karena dalam kehidupan doa sebagai seruan yang menghubungkan manusia dengan Allah. Dalam kehidupan doa kenyataan akan kesatuan dengan Allah menjadi nyata, kendati kesatuaan dengan Allah bagi kita selalu kita pupuk dalam perayaan liturgi, pengalaman dan kesaksian.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kehidupan doa bagi kita (dan juga orang beriman) adalah bersifat konstitutif dan mutlak, justru karena kita menpunyai panggilan menjadi ‘jembatan’ dan ‘pusat hubungan’ antara manusia dengan Allah. Harus diakui bahwa kesatuan kita dengan Allah (kehidupan iman) hanya dapat dimengerti bila mendapatkan landasan dan pola dalam hubungan batin dengan Allah. Semuanya itu terlaksana melalui kehidupan iman dan doa (bdk. Kis 1, 14). Secara formal dapat dikatakan sekurang-kurangnya ada dua macam doa; doa pribadi dan doa batin. Doa batin ini adalah cetusan hubungan mesra perorangan asebagai ungkapan simpul batin, nafas kehidupan dan kuncup kasih antara si-pendoa dengan Allah. Doa batin ini tidak teriakan pada doa resmi dan juga tidak terikat pada kebersamaan.
Pastor Andita, MSF
Pastor Paroki Katedral



Friday, April 29, 2011

April 29, 2011

PERAYAAN HUT ANAK & REMAJA MISIONER KE – 168 DI PAROKI HATI KUDUS YESUS LONG AYAN – SEGAH


Paroki Hati Kudus Yesus Long Ayan merayakan hari anak Misioner sedunia ke 168 dengan berbagai aneka kegiatan yang bersifat rohani dan jasmani. Perayaan ini memang telah diantisipasi sejak juah hari sebelumunya oleh para pendamping. Kegiatan ini dimulai pada tanggal 1 Januari dan dibuka dengan pembacaan pesan pesan Bapa Paus bagi anak missioner di seluruh dunia dan dilanjutkan dengan doa Rosario lima Benua (Rosario lima benua) sampai pada tanggal 2 januari sebagai hari puncak pelaksanaan kegiatan Sekami.
Adapun beberapa kegiatan yang dilaksanakan antara lain:
Kegiatan rohani.
Dalam perayaan ini, anak-anak Sekami bertindak sebagai petugas liturgy. Mulai dari persiapan pemberisihan gereja, dekorasi, koor, lector, komentator, doa umat. Pada perayaan ini tiga anak missioner mewakili tiga raja dari Majus ikut dalam perarakan imam dan diiringi dengan tarian adat Gaai. Pengorbanan, ketekunan, semangat, dan kebulatan tekad anak-anak SEKAMI membuahkan hasil yang memuaskan karena perayaan Ekaristi dapat dilaksanakan dengan sangat meriah dan penuh himat.
Bagi anak-anak SEKAMI hari  ini merupakan hari yang istimewa. Sadar akan perayaan yang khusus buat mereka maka anak-anak SEKAMI mensukseskan acara peringatan hari anak sedunia dengan warna yang berbeda. Hal ini tampak dalam pakaian yang mereka kenakan ketika datang mengikuti perayaan ekaristi. Semua anak-anak yang dating mengikuti perayaan ekaristi menggunakan pakaian adat khas Dayak Gaai. Hal ini semakin mendukung dan mengkondisikan terjadinya perayaan ekaristi yang indah dan syahdu.
Dalam homilinya pastor Stanis Kuway, MSC mengajak anak-anak dan remaja missioner untuk menghidupi semangat yang ditanamkan oleh Mgr. Charles De Forbin Janson yakni “Children helping children” Pastor Stanis mengharapkan agar semangat ini senantiasa dihidupi dalam kehidupan nyata setiap hari.  Selain itu pastor Stanis juga berpesan agar anak missioner merenungkan dan menghayati pengalaman tiga raja dari majus yang mencari sampai menemukan dan menyembah bayi yesus dalam palungan.
Setelah perayaan ekaristi  acara bersama anak-anak SEKAMI dilanjutkan dengan acara Actus Natal dan tiga raja. Di dalamnya terdapat fragmen singkat yang mengisahkan kembali kelahiran Yesus dan perjalanan tiga raja dari majus yang diperankan langsung oleh anak-anak missioner.
Rangkaian acara merayakan hari anak missioner sedunia ini dilaksanakan dalam suasana kesederhanaan namun meninggalkan kesan yang mendalam bagi anak-anak missioner maupun orang tua dan setiap orang yang hadir dan menyaksikan perayaan ini. Selain itu timbul tekad dalam diri anak-anak missioner untuk sungguh menarik makna dan mau menghayati dan menghidupi lakon yang diperankannya dalam kehidupan mereka setiap hari.  Anak-anak missioner  Long Ayan mau belajar dan mencontohi tokoh tiga raja dari Majus untuk mengunjungi dan menolong teman yang mungkin mengalami kesusahan dan penderitaan dalam hidup. Dalam semangat “Children helping children” mereka sungguh mau menolong teman atau siapapun yang mengalami kesulitan dan penderitaan dalam hidup.
Perayaan ini juga menimbulkan kesan baik karena semua peserta terlibat secara aktif dan bertanggungjawab. Selaini itu perayaan ini juga membuahkan suasana persaudaraan dan keakraban. Wujud dari persaudaraan da keakraban itu disatukan dalam makan bersama yang telah disediakan oleh orang tua anak-anaka missioner. ini menjadi tanda dukungan dan perhatian orang tua terhadap anak-anak mereka. Orang tua telah berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak mereka.
Semangat missioner yang menggema dalam batin anak-anak missioner membuat mereak tidak kenal lelah dan tetap bersemangat mengkuti semua kegiatan yang dilaksanakan. Senyum missioner tetap tersungging di wajah anak-anak yang polos ini. Semangat dan senyuman ini menjadi inspirasi dan penyemangat bagi orang tua maupun siapa saja yang turut serta dalam perayaan ini. Anak-anak mengajarkan kepada orang tua mereka agar tetap bersemangat dalam melayani dan bersuka untuk Tuhan.
Kegiatan Jasmani
Gotong royong adalah semboyan anak missioner. kegiatan bekerjasama itu tampak dalam kegiatan membersihkan kompleks gereja, pastoran dan susteran. Mereka mau membagikan tenaga dan waktu untuk gereja dan rumah para pelayan Tuhan. Selain kegiatan bersih-bersih yang dilaksanakan di gereja mereka juga mengadakan perlombaan olahraga bola volley putera dan puteri.
Kegiatan yang juga dilaksanakan dalam semangat persaudaraan adalah acara tukar kado antar anak sekami. Setelah mendapatkan kado dari teman-temannya sendiri anak-anak missioner juga dibagikan kado oleh para pendamping. Semoga kegiatan ini dilaksanakan lagi di tahun depan. Selamat berpesta dan tetap semangat dalam semboyan children helping children

Salam
Sr. Faby, PRR



April 29, 2011

PEMBAHARUAN JANJI IMAMAT: Kehadiran Memberi Energi



Mulai Rabu 6 April sampai jumat 8 April, rangkaian rekoleksi pembaharuan janji imamat, pemberkatan minyak Krisma dan kumpul para imam berjalan dengan lancar. Rekoleksi kali ini diikuti 2 frater, 2 Diakon, dan 22 imam. Ada 3 imam yang tidak hadir: 1 imam baru sakit di RS Elisabet semarang, 1 imam pulang kampung karena ibunya baru kritis dan 1 imam ada acara pribadi. Pada kesempatan rekoleksi ini juga dihadiri Rm Adri, OMI provinsial OMI Indonesia yang baru mengunjungi para pastor OMI di Keuksupan Tanjung Selor. Rekoleksi dibimbing Bapak Uskup Mgr. Harjosusanto, MSF. Tema rekoleksi kali: “Bercermin melalui Keteladanan Bapa Suci Yohanes Paulus II terutama relasi pada Tuhan dan sesama”.
Rekoleksi diawali dengan mengkontemplasikan hidup Bapa Suci Yohanes Paulus II. Kontemplasi dibantu de-ngan melihat film Yohanes Paulus II yang dibuat oleh Komsos KAJ. Setelah melihat film, Mgr. Harjo menyam-paikan hasil permenungan beliua melihat dan membaca mengenai Bapa Suci Yohanes Paulus II. Mgr. Harjo me-ngungkapkan ada 4 pilar utama dalam hidup Bapa Suci:
Hidup Bersama/relasi
Hidup bersama atau relasi ini ditunjukkan dengan mengunjungi umat di berbagai negara. Bahkan Yohanes Paulus II terkenal sebagai Paus yang paling banyak mengunjungi umat. Dalam kunjungannya Bapa Suci selalu memperhatikan banyak orang. untuk memberi gambaran mengenai relasi Mgr. Harjo menyitir kisah Bapa Suci yang menyapa tukang kebun. Bapa Suci juga berhasil menghadirkan sebagai relator (mediator) dalam berelasi.
Karya kerasulan
Pewartaan perdamain dunia merupakan karya kerasulan Bapa Suci yang dikenang banyak orang. seruan menentang perang selalu disuarakan. Bapa Suci juga memegang teguh kebenaran moral.
Hidup Rohani
Ekaristi, doa dan devosi kepada Bunda Maria merupakan kekuatan hidup rohani Sri Paus. Beliau juga menambahkan peristiwa cahaya dalam doa Rosario.
Kesaksian hidup/keteladanan
Keteladanan hidup nampak dalam kesalehan, optimismu dan belas kasih. Melalui keutamaan hidup yang dipacarkan, kehadiran Bapa Suci Yohanes Paulus II memberikan energi bagi orang yang dijumpainya.
Untuk merenungkan keutamaan hidup Bapa Suci Yohanes Paulus II, Mgr. Harjo memberi pertanyaan2 permenungan:
- Apa yang paling menarik dari Bapa Suci?
- Apa kegiatan Bapa Suci yang mengesan?
- Temukan pengalaman berjumpa dengan seseorang yang    memberi energi!
- Temukan pengalaman Anda memberikan energi!
- Bagaimana kita sebagai pemimpin dapat memberi energi kepada umat?
- Apa yang perlu ditingkatkan dalam kepemimpinan kita supaya memberikan energi pada umat?
- Adakah hambatan antar umat, masyarakat dan saudara yang berlain agama untuk memberikan energi?
Permenungan ini dilakukan dalam 2 sesi. Setelah rekoleksi, Kamis sore jam 18.00, kami merayakan pembaharuan janji imamat dan pemberkatan minyak krisma. Perayaan dilaksanakan di tempat rekoleksi kami yakni Paroki Tarakan.
Pagi harinya, kami masih mengadakan pertemuan dengan Rm Prapto bersama tim Komisi Kerawam KWI. Kerawam KWI mensosialisasikan kegiatannya. Setelah sosialisasi tersebut, dilanjutkan pengumuman dan sosial-isasi lomba cerdas cermat Iman Katolik. Cerdas cermat ini sebagai sarana katekese iman kepada umat. Pertama lomba diadakan di tingkat paroki, kemudian akan di-lombakan ditingkat keuskupan.
Nunukan, 8 April 2011
Salam
MoEd


Sunday, April 3, 2011

April 03, 2011

Cinta Yang Mencari | Sebuah Refleksi Lukas 15:1-32

Sebuah Refleksi Luk 15: 1-32

Cinta Yang Mencari

Ada seorang gadis cantik bernama Bunga yang diculik, diperkosa dan dianiaya sampai ia kehilangan ingatan. Ia menjadi korban amnesia. Pada suatu hari, ia menghilang dari rumah. Ia menjadi pelacur jalanan di suatu kota. Ia lupa pada ayah dan ibunya. Ia lupa pada kampung halamannya, bahkan ia lupa pada namanya sendiri.

Sumber: https://www.marriage.com/advice/love/practical-tools-to-grow-your-love-bank/
Namun bapaknya telah berusaha mati-matian untuk menemukannya. Sang bapak mencari dia dari kota ke kota menyusuri semua jalanan dan pasar, memeriksa semua tempat pertokoan bahkan tempat-tempat pelacuran. Tetapi tidak menemukan putrinya. Berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sang bapak terus mencari putrinya yang hilang.

Pada suatu hari ketika ia sedang berjalan-jalan menyusuri pelabuhan, sang bapak melihat seorang wanita malang dengan pakaian compang-camping dan wajah rusak. Firasat kebapakannya mengatakan bahwa wanita malang itu adalah putrinya. Ia mendekati wanita malang itu dan bertanya: “Siapa namamu?” wanita itu menyebutkan namanya. Ternyata bukan bunga nama putrinya. Tetapi bapak tadi berkata lagi, “boleh saya melihat lengan tangan  kirimu?” wanita itu memperlihatkan semua lengan kirinya. Bapak itu tersentak “Engkau Bunga anakku, engkau Bunga anakku, di lenganmu ada tanda kehitaman Engkau Bungan anakku apa kau ingat?

Wanita itu memandang pria tua di depannya dengan heran, lalu tiba-tiba berseru: Bunga! Kabut yang menyelimuti ingatannya selama ini tiba-tiba tersibak. Ia ingat kembali namanya. Ia ingat kembali bapaknya. Sebentar kemudian ia sudah tenggelam dalam pelukan bapaknya.

Mungkin seperti itulah Allah mencari kita, kalau kita menghilang dariN ya. Allang seolah-olah senantiasa mengejar kita dengan kasih-Nya yang tak pernah luntur.

Injil Lukas 15: 1-32 menampilkan sebuah refleksi perenungan iman dalam sastra yang sungguh indah. Tiga perumpamaan tentang domba yang hilang, dirham yang terselip dan anak yang hilang. Sebagai gembala yang baik, Allah mencari dan mengambil resiko untuk menambahkan satu domba yang hilang sehingga yang hilang bisa kembali ke lingkungannya sendiri. Berlawanan dengan pandangan para pemimpin, ahli Kitab Suci dan orang Farisi yang menjauhkan orang-orang berdosa, Yesus menampilkan penggembalaan Allah yang bersifat mencari yang hilang.

Gambaran sejajar dengan gembala baik, adalah perempuan pemilik dirham yang hilang itu dengan kesabaran dan ketelitian membersihkan seluruh rumahnya untuk menemukan dirham yang terselip dalam rumahnya. Uang sedikit yang menjadi miliknya itu harus dicari. Demikian Allah berkarya untuk menemukan orang yang berdosa.

Akhirnya Yesus mengumpamakan Allah seperti seorang bapak yang tetap mengasihi anaknya, walaupun anak itu melarikan diri dari rumah dan dengan demikian menghinanya. Bapak menantikan  anakNya dengan ketekunan bahwa anak itu akan kembali, karena kasih tetap menunggunya. Ia telah memberikan kepercayaan kepada anaknya, tetapi sekaligus juga menimbulkan harapan bila anaknya gagal. Kepercayaan bapak tidak percuma. Dalam penderitaan dan kegagalan anak itu menjadi dewasa dan berani mengambil keputusan: kembali kepada bapak! Apapun yang terjadi ia telah melihat cakrawala baru dalam hidupnya. Tetapi anak sulung tidak mampu memahami kasih bapaknya seperti adiknya. Ia hanya sanggup menggerutu dan tidak sanggup bergembira bersama.

Allah menunjukan dalam diri Yesus Kristus, perhatianNya kepada pendosa. Bagaimana kasih dan kerahimannya bisa dirasakan oleh manusia, yakni dari pergaulan yang pribadi. Allah mau mendidik manusia menemukan kedasaran untuk membangun kembali hidupnya di hadirat Allah. Yang hilang dicari dengan sekuat tenaga dan resiko: sedangkan yang menghilang dinanti dengan sepenuh kesebaran dan diperlakukan sebagai anak yang pantas dikasihi. Latar belakan pemikiran seperti ini membantu kita untuk merenungkan kedalaman tawaran kasih kerahiman Allah dalam hidup orang beriman.

Yesus yang hendak menjalankan kehendak BapaNya, melihat tugasnya untuk menjadi bapak yang baik pula dan sebetulnya juga diharapkan menjadi tuga Gereja, tugas sebagai umat Allah, tugas kita! Apakah sanggup menerima orang yang gagal, bergaul dengan mereka yang drop out dan tersingkir dari pergaulan umum? Ataukah kita bersikap seperti anak sulung itu, yang menganggap dirinya sebagai teladan tetapi hanya pandai menggerutu dan tidak mampun memahami kasih Allah yang memiliki jalan berliku!

(Siswanto)