Saturday, April 30, 2011

Saat Ia Ada dalam Hati Kita


Kamar yang bersih dan rapi tertata sudah menjadi bagian hidup dari Pastor Klulur. Se-tiap saat Pastor Klulur bukan hanya membersihkan kamar tidurnya sendiri tetapi ju-ga kamar kerjannya. Hampir tidak ada debu yang menempel pada benda-benda yang ada di kamar Pastor Klulur ini, semuanya tampak bersih dan sehat (red, tetapi harus tetap di semprot baygon karena masih banyak nyamuk, hati-hati demam berdarah.....ati-ati Pastor!).
Pada suatu ketika Pastor Klulur ini mengajak salah satu anak misdinarnnya memasuki kamar kerjanya. Na-ma anak itu Sengkring, dia ini masih duduk di bangku Sekolah Dasar Impres kelas V  (red. Katanya sekolahnya hampir roboh, maklum Banpres (Bantuan Presiden) sudah tidak bisa bantu lagi). Sengkring memang termasuk mis-dinar yang sangat dibangakan oleh Pastor Klulur. Selain Sengkring ini anaknya rajin mesdinar dia juga rajin mem-bantu Pastor Klulur membersihkan kamar kerjanya tan-pa pamrih dan dengan tulus hati. Sengkring sangat se-nang membantu Pastor Klulur bukan  hanya saat di altar tetapi juga di meja kerja. Bagi Sengkring, Pastor Klulur ini merupakan seorang Pastor yang pantas untuk dika-gumi maupun diteladani. Seperti biasa saat pulang se-kolah Sengkring tidak langsung pulang, tetapi mampir ke pastoran untuk membantu Pastor Klulur membereskan pekerjaannya di kantor. (red. jam sekolah si sengkring itu minimalis 1 kelas hanya dapat 4 jam untuk belajar, lho kan sekolah sengring hampir roboh jadi mereka harus bergantian dengan kelas yang lain, wah bagaimana bisa pandai,……kasihan anank-anak negeri ini…).
Pastor Klulur sudah berada di belakang meja ker-janya,“selamat siang pastor “ sapa Sengkring kepada Pastor Klulur. “selamat siang juga “ sahut Pastor Klulur, “wah kok kelihatanya ada yang lain di wajahmu Kring, ada apa gerangan?” tanya Pastor Klulur dengan heran kepada Sengkring. Apanya yang lain Pastor?” sahut Sengkring “itu wajahmu tampak bersinar terang hari ini, kamu kelihatan putih bersih. Kamu pakai krim pemutih milik kakakmu ya Kring,,,,,,,,ternyata sengkring yang dikatakan anak Tuhan pingin tampil beda juga ya he,,,,he,,,he,,,, ” ejek Pastor Klulur. Karena emang sangat aneh bila wajah Sengkring kelihatan putih, karena dia merupakan anak-anak produk pulau Papua, alias hitam kelam (eiiit, yang tambahan ini tambahan redaktur aja, jadi jangan diambil hati bagi yang punya kulit hitam ya ha,,,ha,,,ha). “jangan menghina dulu Pastor, dengar dulu cerita saya ya “ dengan penuh semangat Sengkring ingin menceritakan apa yang baru dialami kepada Pastor Klulur. “tapi Pastor harus berhenti kerja sebentar, soalnya ini antara surga dan neraka” dengan sangat serius Sengkring meminta. “wahhh,,,,ini soal hidup dan mati Kring, penting ini, ke mari mendekat Kring, biar bisa aku dengarkan ceritamu dengan baik ya” pinta Pastor Klulur kepada Sengring sambil mempersilahkan duduk di sampingnya.
“sekarang silahkan mulai cerita Kring” pinta Pastor Klulur kapada Sengring.
“begini Pastor, tadi di sekolah, baru kali pertama mendapatkan pelajaran agama katolik” maklum sekolah inpres jadi sangat jarang guru agama katolik yang mau mengajar di sana (red. Soalnya honornya bukan uang, tetapi honornya pelayanan. Kan sampai sekarang belum ada mata uang pelayanan he,,,he,,he,,,,,,,,siapa mau,capek deeh,,,,,)
“wah dapat guru baru ya Kring, lalu pak Guru mengajarkan apa kepada kamu?” sahut Pastor Klulur dengan sedikit memberikan semangat pada Sengkring untuk melanjutkan ceritanya.
“pak guru itu mengajarkan bagaimana berdoa dengan baik Pastor,,,, “ tiba-tiba terdengar bunyi bel jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12 siang.
“stop, sebentar Kring, sudah jam 12 siang saatnya untuk doa siang” pinta Pastor Klulur kepada Sengkring. Pastor Klulur berdiri mendekati meja kerja, lalu sejenak tangan kanannya diletakkan di atas buku kecil yang tebal. Dia diam sesaat sambil memejamkan mata, lalu berkata “Tuhan Engkau tahu apa yang ada di dalam hatiku”.
“lho,,,,,,,,,kok sama!” teriakan Sengkring itu mengagetkan Pastor Klulur yang sedang menikmati keheningan (red. Katanya sih keheningan, tetapi sebenarnya dia mulai mengantuk he,,,,he,,,he,,,memang antara doa dalam keheningan dan tidur bedanya sangat tipiiiiis sekali)
“aduh,,,,,,,,Kring kenapa kamu teriak kan Pastor lagi berdoa” kalimat kesal dari Pastor Klulur.
“maaf Pastor, masalahnya Pastor mengucapkan kalimat yang sama seperti yang dikatakan pak guru agama di kelas tadi” jawab Sengkring sambil menundukkan kepala karena takut (red. Maklum berhadapan dengan orang yang merasa punya kuasa itu menakutkan ya Kring makanya harus sampai tunduk kepada).
“memang dia bilang apa dengan kalian?” pinta Pastor Klulur kepada Sengkring.
“pak guru agama mengatakan kalau Tuhan itu sudah tahu dengan apa yang ada di hati kita, jadi kalau berdoa jangan bertele-tele, gitu Pastor, tetapi kenapa Pastor tadi katanya mau doa kok hanya pegang buku kecil dan tebal yang ada di atas kitab suci itu” tanya Sengkring dengan penuh keheranan.
“Oooo,,,,,,ini namanya buku ‘brevir’ Kring, buku doa bagi para orang yang terpanggil menjadi imam, biarawan dan biarawati. Mereka mempunyai kewajiban untuk selalu berdoa dengan buku ini” secara singkat Pastor Klulur menjelaskan kepada Sengkring (red. Apakah Sengkring ngerti apa tidak, yang penting jelas nrocooos aja,,,,biar kelihatan pinternya atau tidak bisa dikalahkan he,,,he,,,he)
“berarti Pastor juga harus berdoa pakai buku itu ya?” tanya Sengkring dengan penuh semangat
“Ooo,,,sudah pasti i ya, Kring” sahut pastor.
“tapi kok tadi hanya dipegang saja Pastor?” Sengkring yang masih haus jawaban.
“kan Tuhan sudah tahu apa yang ada di hati Pastor, jadi yang cukup memengang saja” bela Pastor Klulur yang menurutnya jawaban biblis yang tidak bisa dibantah lagi (red. Jawaban biblis apa karena malas Pastor,,,,,,?)
Tetapi dengan hasih penelitian dan kedekatan Sengkring dengan Paestor Klulur, Sengkring tidak kalah ilmiah dengan memberikan jawaban :
“pantas saya tidak pernah melihat Pastor sedang berdoa” (red. mampus luuu).
Bertitik pangkal dari spiritualitas pneumatologis, seorang beriman, bahkan seorang yang terpanggil menjalani hidup sebagai orang yang hidup menurut nasehat injili, diharapkan menjadi pengamal utama dari pusat batin, nafas hidup dan kuncup kasih antara Allah dan manusia. Mereka menjadi ‘jembatan’ dan ‘pusat penghubung’ untuk menyampaikan doa pujian, sembah-syukur dan permohonan manusia kepada Allah. Doa menjadi nafas bagi seorang biarawan-biarawati, karena dalam kehidupan doa sebagai seruan yang menghubungkan manusia dengan Allah. Dalam kehidupan doa kenyataan akan kesatuan dengan Allah menjadi nyata, kendati kesatuaan dengan Allah bagi kita selalu kita pupuk dalam perayaan liturgi, pengalaman dan kesaksian.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kehidupan doa bagi kita (dan juga orang beriman) adalah bersifat konstitutif dan mutlak, justru karena kita menpunyai panggilan menjadi ‘jembatan’ dan ‘pusat hubungan’ antara manusia dengan Allah. Harus diakui bahwa kesatuan kita dengan Allah (kehidupan iman) hanya dapat dimengerti bila mendapatkan landasan dan pola dalam hubungan batin dengan Allah. Semuanya itu terlaksana melalui kehidupan iman dan doa (bdk. Kis 1, 14). Secara formal dapat dikatakan sekurang-kurangnya ada dua macam doa; doa pribadi dan doa batin. Doa batin ini adalah cetusan hubungan mesra perorangan asebagai ungkapan simpul batin, nafas kehidupan dan kuncup kasih antara si-pendoa dengan Allah. Doa batin ini tidak teriakan pada doa resmi dan juga tidak terikat pada kebersamaan.
Pastor Andita, MSF
Pastor Paroki Katedral



No comments:

Post a Comment