Friday, May 20, 2011

May 20, 2011

Da Mihi Virtutem


Peristiwa kunjung dan dikunjungi adalah sesuatu yang sangat menggembirakan bahkan sangat dirindukan oleh setiap insan. Ketika Elisabeth dikunjungi oleh Bunda Maria, ia diliputi oleh kebahagiaan yang luar biasa, hatinya bersuka ria bahkan anak yang berada di dalam kandungannya pun turut melonjak kegirangan. Ya itulah kebahagiaan.
 Rasanya pengalaman kegembiraan yang meluap ria seperti yang dirasakan oleh Elisabeth dirasakan juga oleh komunitas Maria Bunda Gereja  Long Ayan Segah ketika dikunjungi oleh pemimpin regio Jabatan kami yang baru Sr. M. Lidwin PRR dari tanggal 28 April – 03 Mei 2011 dalam visitasi perdana ke komunitas Suster PRR Long Ayan. Kehadirannya membakar semangat pelayanan dan memberikan sejuta harapan kepada ketiga saudarinya yang sedang berkarya di bumi Segah.Rasa kerinduan untuk bertemu dengan suster pemimpin regio begitu membuncah mana kala telah tiba hari kedatangannya. Tepat pukul 15.30 semua suster dan Pastor Kepala Paroki Hati Kudus Segah, tak ketinggalan frater TOP dan anak-anak sekami, OMK, beberapa warga bahkan ketua adat pun tak sabar menanti berharap cemas akan kedatangan suster pemimpin regio. Semua tak sabar melihat sosok seperti apakah suster pemimpin regio yang baru itu. Suasana cemas dan gelisah serta penasaran semakin membakar ketika mendengar bunyi ketinting yang mendekat di “batang” (tempat naik dan turun ke sungai). Akhirnya suster pun tampak tetapi suasana penjemputan tak kunjung kelihatan. Tenang suster... we have a surprise,,, celetuk frater pastoral. Suasana tampak seperti biasa saja, tetapi lihat apa yang terjadi ketika suster mulai mendaki bukit Reinha, ada bunyi yang lain. surprise,,, rupanya anak-anak dan beberapa warga serta suster dan pastor telah menunggu di depan pendopo susteran. Suasana hening serentak pecah ketika ketua adat kampung Long Ayan Bpk. Jiu Wung memberikan sambutan selamat datang. Suasana semakin girang manakala terdengar bunyi sampe yang diputar melalui tape recorder diperdengarkan. Serentak dengan bunyi musik sampe ini ada derap langkah kaki menghentak papan susteran. Rupanya dari kaki anak-anak SEKAMI inilah asal bunyi hentakan itu. Anak-anak SEKAMI lengkap dengan pakaian adat Ga’ai menampilkan persembahan terbaik mereka dalam tarian selamat datang.
Rasa gembira serta haru memenuhi hati suster Lidwin ketika melihat animo dan keramahan anak-anak sekami membawakan tari selamat datang. Ucapan selamat datang oleh Pastor Stanis Kuway MSC sebagai pastor Paroki dan Suster M. Angelita PRR sebagai pemimpin komunitas PRR kepada  suster Pemimpin Regio. Suasana kegembiraan itu semakin riuh ketika ditampilkan tarian tunggal oleh anak-anak sekami dalam lanjutan upacara selamat datang sambil menikmati kue-kue buatan ibu-ibu Long Ayan.
Perasaan gembira dan bahagia sungguh dirasakan oleh komunitas kami karena visitasi perdana ini. komunitas kami sungguh mendapatkan perhatian dari kongregasi lewat kehadiran Sr. M. Lidwin PRR. Kehadiran suster pemimpin ini diisi dengan acara sharing bersama dan mendengarkan, serta berdilog hati dengan para suster komunitas Long Ayan. Beliau sungguh telah hadir menghirup udara yang dihirup oleh komunitas kami, kata seorang suster.
Selama lima hari berada di Long Ayan Segah, suster pemimpin Regio juga diajak untuk berkunjung ke salah satu stasi  di daerah “Hulu”  (Long Laai). Suster merasa terharu tapi juga bangga karena para suster PRR dapat ‘menyatu’  dengan umat dan masyarakat yang sederhana. Sesudah melaksanakan visitasinya kepada para suster PRR komunitas Long Ayan, suster diantar oleh Pastor Stanis dan Suster Angelita melewati jalan Sawit Sambarata. Selamat jalan suster semoga Suster  M. Lidwin PRR sebagai pemimpin regio  tidak jemu - jemu mengadakan visitasi lagi ke bumi Segah.
(Sr. M. Fabby PRR + P. Stan MSC)


Thursday, May 19, 2011

May 19, 2011

Mgr. Harjosusanto, MSF Mentahbiskan 1 Imam Diosesan Keuskupan Tanjung Selor


17 Mei 2011 merupakan hari bersejarah bagi Keuskupan Tanjung Selor. Pada tanggal ini bertambah satu imam diosesan, yakni Pastor Silvester Wengi Lasar, Pr.Sekarang imam Dio-sesan Keuskupan Tanjung Selor menjadi 5 orang. Tahbisan kali ini dipimpin oleh Mgr Yustinus Harjo-susanto, MSF, Uskup Keuskupan Tanjung Se-lor yang terlaksana di Gereja Katedral Tanjung Selor.
      Perayaan Tahbisan dimulai dengan konvoi umat stasi St, Mikael Jelarai, tempat asal Pas-tor Silvester, Pr, me-nuju ke Gereja Katedral yang berjarak 12 km. Perarakan ini diiringi dengan tarian Maumere karena pas-tor yang ditahbiskan berasal dari Timor, Lembata. Perarakan berhenti di jl. Haji Maskhur, 500 m dari Gereja Katedral. Perarakan ini disambut dengan tarian Dayak. Tarian ini menyim-bolkan penyerahan keluarga kepada Keuskupan. Rombongan keluarga diterima oleh Bapak Uskup di gedung gereja lama (Saat ini Gereja Katedral Tanjung Selor baru membangun gedung Gereja). Setelah Diakon diterima Mgr. Harjosusanto, MSF, perarakan dilanjutkan dari gereja lama (Aula) menuju gereja baru. Perara-kan diiringi dengan tarian dayak. Anak-anak sekami, ibu-ibu paroki dan para OMK ter-libat di dalamnya. Perarakan membutuh-kan 20 menit sendiri karena jalannya lambat dan diarak melalui jalan umum.
Perayaan Tahbisan berjalan dengan lancar dan kidmat. Tema Perayaan Tahbisan adalah 'Celakalah aku jika tidak memberitakan Injil'. Pastor baru mau mengobarkan semangat Rasul Paulus dalam mewartakan In-jil kabar gembira Tu-han. Tema ini diteguhkan oleh keteladan Yesus sebagai Gem-bala yang baik. Santo Yohanes menggambarkan Yesus sebagai Gembala baik (Yoh 10). Mgr. Harjo merefleksikan mengapa para pendahulu Yesus disebut pe-rampok? Mereka disebut perampok ka-rena mereka tidak melayani sebagai gembala tetapi justru me-manfaatkan kedudukan, jabatan dan situasi untuk memperkaya diri. 'merampok' orang yang harusnya dilayani. Refleksi Bapak Uskup ini mau menekankan kerelaan berkorban yang diteladankan Ye-sus dan juga Rasul Paulus. Harapannya Pas-tor tertabis bisa melanjutkan keteladan tersebut dalam per-jalanan hidup imamat.

Dalam Perayaan Tahbisan ini, dihadiri dengan 1200 orang lebih. Hal ini terpantau dari 1200 yang disediakan kurang. Mereka berasal dari umat paroki setempat dan umat 13 paroki yang lain.Imam yang hadir ada 21 pastor. Para pastor OMI tidak bisa hadir karena baru mengikuti Kapitel di jawa.
Setelah Perayaan Ekaristi Tahbisan, acara dilanjutkan ramah tamah. Dalam acara ini diundang warga sekitar gereja, muspida dan tokoh umat agama lain diundang. Sebagian undangan non-Katolik ada yang ikut acara sejak awal karena mereka ingin mengetahui bagaimana tahbisan dilaksanakan. Salah satunya adalah Wakil Bupati yang mengikuti acara dari awal perayaan. Dalam perayaan ramah tamah ini, ada tampilan kesenian daerah. Ada tarian dari Timor (Maumere), Tarian Gong Dayak Brusu, Tarian Tunggal Dayak (kayan), Tarian Dayak Gerak sama, Tarian Perang Dayak dan tampilan nyanyian dari anak sekami.


MoEd



May 19, 2011

POTRET AWAL PAROKI TANJUNG SELOR Berdasar Kisah Ibu Emmie Winokan

Pada tahun 1954, orang tua kami yaitu Bapak B. Winokan pindah dari Kalimantan Barat, Sintang ke Kalimantan Timur, Tanjung Selor. Waktu itu, Bapak bekerja di Kantor Bupati di Sintang dan menjabat sebagai Sekretaris. Di Tanjung Selor, Bapak bekerja di Kantor Kepala Daerah Istimewa Bulungan karena waktu itu masih kedudukan Sultan Bulungan dengan jabatan yang sama.

              Kami bersaudara ada 9 orang, enam orang pria dan 3 orang wanita. Mereka adalah:
Erlyne Winokan
Emmie Winokan
Edward Winokan
Email Winokan
Erwin Winokan
Eventius Winokan
Elisabeth Winokan
Evengenius Winokan
Ernest Winokan
Kepindahan kami dari Sintang ke Tanjung Selor  karena ada masalah kakak saya yang perempuan mau dilamar orang Melayu yang mau mengajak masuk Islam. Bapak tidak mau terima. Akhirnya, Bapak minta pindah jauh ke Kalimantan Timur.
Bapak Pegawai Pusat. Maka, boleh pindah kemana saja di seluruh Indonesia. Makanya kami sampai berada di Tanjung Selor ini. Mungkin kalau tidak ada masalah tersebut, kami tidak pindah ke Tanjung Selor. Waktu tiba di Tanjung selor, belum ada Gereja Katolik. Kalau sembahyang hari minggu, kami menggunakan rumah orang tua kami. Pastornya orang Belanda dari Tarakan. Pelayanan pastor sebulan sekali dengan mengadakan misa. Kalau pastor sudah datang, beliau menyuruh panggil keluarga-keluarga orang Timur di Gunung Seriang. Kalau saya tidak lupa, mereka adalah Sdr. Paulus, Sdr. Leo dan istri, Sdr. Ben dan Istri, Sdr. Frans. Pastor tinggal di rumah kami selama 3 hari, kemudian balik lagi ke Tarakan.
Dari Tarakan ke Tanjung Selor, pastor naik kapal Besi. Berangkat jam 08.00 pagi sampai di Tanjung Selor jam 04.00 sore, jadi 8 jam perjalanan. Pastor yang datang anara lain, Pastor Padberg, Pastor Slangen, Pastor Dendekam, Pastor Van de Graaf.
Ada juga satu keluarga anggota polisi pindahan dari Samarinda, namanya Sdr. Ding Lang dan satu keluarga Tentara dari Samarinda yang namanya saya lupa. Keluarga ini tinggal di Asrama Tanah Seribu.
Suatu hari Sdr. Paulus ke rumah menemui Bapak. Sdr Paulus meminta buku Ibadat Sabda dan buku-buku lainnya untuk mengajar agama. Pada saat itu, Sdrl. Palus sudah pindah ke daerah Mara I. buku-buku tersebut dijadikan pegangan untuk mengembangkan umat di sekitar tempat tinggal Sdr. Paulus. Dari Long Sam juga darang seorang bapak, saya kurang tahu namanya. Dia juga tanya buku-buku Ibadat Sabda dan patung-patung untuk Natal. Meskipun hanya memiliki satu set patung Natal, bapak memberikan juga kepada bapak dari Long Sam supaya mereka bisa merayakan natal dengan bagus. Bapak berpikir, Tanjung Selor lebih mudah mengusahakan patung Natal dibandingkan dengan Long Sam.
Lama kelamaan anggota kita bertambah banyaknya.
Rumah kami ini berhadapan dengan rumah Bapak Bupati H. Soetadji. Rupanya beliau melihat tiap-tiap hari minggu banyak orang yang sembahyang di rumah kami. Suatu hari beliau memanggil Pak Baya Apoy, menantu Pak B. Winokan. Pak Bupati mengatakan bahwa sebaiknya dibangun Gereja Katolik. Saran Pak Bupati ini ditanggapi dengan pertanyaan balik: “Dananya dari mana? Kami belum cukup mampu untuk mendirikan Gereja.” Mendengar cerita dan tanggapan dari Pak B. Winokan, Pak Bupati memerintahkan Gereja dibagun saja, nanti Pemerintah Daerah membantu dana pembangunan. Dengan bantuan dana dari pemerintah daerah, Gereja (lama) bisa berdiri.
Sekian saja dulu sedikit masukan untuk diketahui.
Tanjung Selor, 17 Februari 2011
Emmie Winokan


Thursday, May 12, 2011

May 12, 2011

Paroki Rasul Yohanes Pulau Sapi Siap Menjajaki Kepentingan Pengembangan Iman Umat


Dalam usaha pemberdayaan umat beriman khususnya paroki Rasul Yohanes Pulau Sapi agar umat semakin menyadari panggilan akan hidupnya dalam menggereja maka langkah-langkah konkrit dari kebijakan pusat paroki Rasul Yohanes adalah programasi rutin rapat tahunan dewan stasi minimal dua kali dalam satu tahun. Indikasi mengevaluasi kerja dewan stasi atau pengurus stasi seperti program kerja ketua umat, sekretaris dan bendahara,
       Sehubungan pada perihal di atas maka pada tanggal 14 s.d 16 Maret 2011 di paroki Rasul Yohanes telah dibukanya program penataran dewan stasi wilayah hilir. Penataran kali ini tidak semua seksi dan pengurus lama setiap stasi hadir namun perwakilan dari wajah-wajah baru datang juga. Saat itu, suasana duka peserta dari stasi rajuk karena ada keluarga meninggal terpaksa rombongan pulang kembali meskipun ketidakhadiran beberapa peserta, peserta lainnya tetap semangat ikuti program penataran.

Penataran dewan stasi wilayah hilir yang bertema meningkatkan Mutu Pelayanan dan Kerja Sama Dewan Stasi’ setelah regristasi jam 17.00 maka jam 19.30 telah resmi dibuka oleh pastor Wan Ibung Natale Beling Heri, OMI. Dan selanjutnya dilanjutkan pada acara sesi perkenalan, pengarahan keseluruhan kegiatan pentaran oleh panitia dijelaskan oleh pastor, penataran ini adalah menatar peserta agar terampil dalam memperbaharui, memperbaiki, memperhatiakan dan memahami programasi kerja pelayanan Gereja dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan serta kerja sama yang baik antar stasi yang mana Yesus Kristus telah terlibat langsung dalam pelayanan tersebut. selain itu, dijelaskan juga tentang pemahaman akan hal-hal liturgi umat, Sikap-sikap liturgi dan alat-alat liturgi. Karena nara sumber yang diundang dari keuskupan tanjung selor seperti P. Pius Rettop, MSC (mengupas tentang kepemimpinan), Herman Yosep (tentang hak adat/tanah ulayat), P. Kanisius, Pr (tentang keadilan dan perdamaian) . Masih dalam perjalanan dari tanjung selor ke pulau Sapi belum tiba di tempatpertemuan. Untuk menunggu kehadiran mereka, walaupun sudah larut malam pstor mengajak peserta penataran keluar dari aula santo Eugenius De Mazenod menuju ke ruang kerja pastoran di situ peserta penataran disuguhkan minum kopi sambil menonton film dokumentasi tahun 2004-2005 liputan prayaan ekaristi di Roma Italia oleh pastor Benard Boli (dari Komisi Liturti KWI). Tak terasa jam tealh menunjukkan angka larut malam peserta penataran bubarkan diri istirahat di tempat ruang balai pengobatan paroki.
Kelanjutan program penataran keesokan harinya lebih difokuskan pada pembahasan meliputi: Evaluasi data umat 2010. Menentukan tugas kerja dean stasi dan menentukan rencana kerja Dewan Stasi 2011.
Evaluasi Data Umat 2010
Dalam evaluasi ini petugas stasi atau pengurus stasi melaporkan tentang:
Berapa jumlah KK stasi 2010
Berapa jumlah kelahiran tahun 2010
Berapa jumlah kematian tahun 2010
Berapa jumlah pernikahan tahun 2010
Berapa jumlah baptisan tahun 2010
Berapa jumlah umat penerima komuni tahun 2010
Berapa jumlah umat terima krisma tahun 2010
Berapa jumlah umat yang pindah tahun 2010
Berapa jumlah umat yang datang tahun 2010
Berapa jumlah kolekte perbulan di tahun 2010
APP tahun 2010
Aksi Natal tahun 2010
Tugas Kerja Dewan Stasi Tahun 2011
· Selalu memperhatikan program paroki terutama kalender liturgi
· Menyiapkan, mengarahkan, mengamati umat untuk selalu hadir dalam perayaan besar, Natal atau Paskah
· Mengontrol, mengawasi dan memperhatikan pelaksanaan para petugas ibadah setiap minggu. Guru sekolah minggu, WKRI, termasuk kolekte, calon pengantin, doa kebutuhan umat.
· Mencatat mengumumkan petugas liturgi pada setiap hari Minggu
· Membunyikan lonceng gereja pada hari minggu tiga kali, doa lingkungan satu kali, doa Angelus satu kali
· Wajib membuat gua natal baik di gereja atau pun di rumah pribadi
· Membuat tradisi membersihkan kubur bulan November
· Mengumumkan orang yang menumbangkan dana untuk kegiatan gereja
· Membuat jadwal untuk mencari dana kas gereja
· Memungut iuran wajib 5.000 per KK per bulan
Rencana Kerja Stasi
· Rehab gereja
· Bangun gereja
· Buat proposal
· Merencanakan kerja kas
· Perpuluhan padi, ganti ladang sidang
· Membaut jadwal pembersihan gereja
· Membuat jadwal pelayan tourne pastor
· Menjaga aset-aset gereja
Dari keseluruhan rangkaian pembahasan, adapun sasaran yang hendak dicapai dalam penataran ini yaitu:
· Petugas berusaha mempererat persaudaraan yang kokoh di kalangan umat.
· Petugas siap berkorban meluangkan waktu membina umat
· Petugas aktif dalam memberikan masukan, pemikiran untuk membina umat
· Petugas memperlancar komunikasi yang efektif pada sesama pengurus stasi atau dewan stasi
· Petugas hendak menjadi figur teladan bagi umat
Bertolak dari pokok penataran diharapkan semua jajaran pengurus maupun dewan stasi menjalankan tugas yang diemban pusat paroki kepada setiap dewan stasi. Semoga dengan adanya penataran ini lebih meningkatkan ketrampilan dan kepiawaian peserta dalam mengatur umat, selain itu juga meningkatkan tali persaudaraan sesama umat antar stasi satu dengan stasi lainnya.

Pulau Sapi, 8 Mei 2011
Ketua Seksi Kepemudaan Paroki Rasul Yohanes Pulau Sapi

                                                                                                                               
Alang Aran

May 12, 2011

OMK Paroki Hati Kudus Segah Menantang Jiram, Meraih Mimpi


Keluarga Besar OMK Paroki Hati Kudus Segah melaksanakan kegiatan Paska bersama. OMK stasi yang terlibat dalam acara ini adalah OMK dari Stasi Punan Malinau, stasi pusat Long Ayan, Long Ayap, Long Okeng, dan Long Laai. Sedangkan yang bertindak sebagai tuan rumah pelaksanaan adalah OMK Long Laai. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 7-9 Mei 2011. Sekalipun terhalang dengan bahan bakar yang kian melonjak harganya dan ditambah ganasnya Jiram-jiram untuk sampai ke Long Laai, namun OMK paroki Hati Kudus Segah tetap optimis dan bersemangat mengikuti kegiatan paska bersama. Sungguh kegiatan ini merupakan momentum yang baik dalam membangun OMK dan menabur semangat kekatolikan dan rasa cinta akan gereja Katolik.
Dalam sesi pembuka acara para peserta diajak melihat dan mendalami bersama betapa pentingnya Orang Muda Katolik di tengah kehidupan sebuah paroki dan stasi. Peserta diajak untuk melihat bersama beberapa keprihatinan yang menjadi tantangan bersama. Tak hanya berhenti pada keprihatinan bersama karena OMK diajak, dimotivasi untuk menatap masa depan dan berani bermimpi akan masa depan. Dengan semangat ini OMK paroki Hati Kudus Segah berkomitmen membangun masa depan paroki dan stasi yang lebih baik. Ada kerinduan untuk melayani dan mau terlibat aktif dalam kegiatan menggereja. Bukankah masa depan gereja ada di pundak kaum muda. Hari kedua dari acara paska bersama ini diisi dengan ibadat bersama dengan umat stasi Long Laai di gereja St. Andreas Long Laai. Setelah beribadat bersama dengan umat para OMK diajak untuk bersilahtaruhmi di sebuah rumah umat di mana baru saja mengalami kedukaan. Setelah itu para peserta OMK terlibat dalam aksi nyata membersihkan kompleks aula paroki St. Andreas. Pada sore harinya tiap-tiap OMK berjibaku dalam kelompok stasi untuk mengikuti lomba-lomba rekreatif seperti gigit senduk, lari karung, gigit koin, tarik tambang, dan olahraga bersama seperti perlombaan bola kaki dan bola volly. Para peserta dari setiap stasi berusaha mengunjuk gigi dengan penuh semangat. Malam harinya para peserta diajak untuk membentuk program bersama separoki. Dari hasil rapat bersama ini ditelorkan usulan agar OMK paroki Hati Kudus Segah melaksanakan kegiatan bersama dua kali setahun yakni kegiatan Natal dan Paska OMK. Selain menyusun program bersama dibuat juga pentas malam kesenian yang semakin memeriahkan acara pertemuan ini. OMK setiap stasi berlomba-lomba menyuguhkan persembahan terbaik mereka.
Keesokan harinya dilaksanakan lagi kegiatan kerja bakti bersama membantu perampungan aula paroki. kegiatan bersama yang terakhir dilakukan adalah evaluasi dan berpose bersama sebagai bentuk rasa kebersamaan dan dokumentasi hasil pertemuan bersama ini. akhirnya setelah siang hari setia peserta kembali ke stasi masing-masing membawa semangat pelayanan yang semoga ditularkan ke stasi. Akhirnya sebagai tuan rumah yang baik OMK Long Laai memberikan tanda kasih berupa arang yang digosok pada wajah setiap peserta tamu. Prikitiiiiiwwwww...    (Fr. Bobby MSC)


Wednesday, May 11, 2011

May 11, 2011

PENGALAMAN PERTAMA DI STASI LONG TELENJAU PAROKI MARA I TANJUNG SELOR


Sekitar bulan September saya dihubungi Pastor Tina Kusuma, MSF, pastor paroki Mara I dan ekonom Keuskupan untuk memberi ibadat natal pada tanggal 23-26 Desember 2010 di satu stasi daerah long telenjau.  Saya belum pernah pengalaman untuk ke stasi yang jauh, baru kali ini saya bertugas di stasi yang jauh.  Pada tanggal 13 Desember saya kehilangan ibu tercinta menghadap Bapa dan selang beberapa hari saya bertugas di stasi yang jauh. Dalam suasana hati yang masih berduka saya harus memberikan ibadat natal dalam suasana sukacita karena Sang Penebus telah lahir diantara umat manusia.  Bagaimana saya harus menyeimbangkan suasana hati ini agar umat merasakan sukacita dan damai natal tanpa terpengaruh suasana hatiku.
Tanggal 23 pagi pukul 08.00 saya diantar Sr.Floriana dengan naik sepeda motor menuju pelabuhan.  Sampai di pelabuhan saya masih harus menunggu salah satu umat dari stasi long telenjau yang sedang berbelanja di Tanjung Selor beberapa hari yang lalu.  Setelah ibu itu datang kami langsung membeli tiket longboad dan pukul 09.00 masuk ke kapal.  Pengalaman pertama naik kapal yang panjang dan besar terbuat dari kayu. Penumpang kebanyakan para tengkulak membeli barang di Tanjung kemudian dijual lagi di daerah mereka masing-masing jadi penuh dengan barang, daerah paling jauh adalah Pesok sebelum telenjau. Sr.Jeanne, SMSJ mendapat tugas di Pesok. Dalam perjalanan saya tidak pernah membayangkan kalau jauh karena menurut Sr.Flori hanya kurang lebih 1 jam, maka saya tidak membawa bekal.  Apa yang terjadi?  Ketika masuk di dalam kapal saya melihat penjual nasi bungkus lalu lalang menawarkan dagangannya dan para penumpang pada berebut beli dan membuka nasi bungkus masing-masing dari anak kecil sampai orang dewasa.  Mereka makan dengan tangan yang dicuci dengan air sungai yang kotor lewat jendela kapal dan membuang bungkusnya juga di sungai, pikirku wah...sungai ini bisa tercemar dan cepat dangkal kalau begini caranya.  Saya hanya tertegun melihatnya ooo.... begitu cara mereka makan.  Saya berpikir ah... hanya 1 jam perut masih kuat.     
Saya lewati perjalanan jam demi jam setelah 4 jam perut saya terasa lapar, tapi harus bagaimana terapung-apung di atas sungai begini.  Ibu Yahya dan anaknya makan apel tidak menawari ketika makanpun mereka tidak menawari saya hanya melihat mereka makan dengan lahapnya sedangkan perut saya sudah keroncongan.  Kira-kira pukul 14.00 kapal menepi berhenti sebentar sekitar 20 menit di sebuah warung makan yang terapung.  Para penumpang pada turun untuk ke toilet dan membeli jajanan di warung.  Pada kesempatan inilah saya juga ikut turun dan hampir terpeleset karena kaki menginjak kayu yang sudah berlumut dan bergoyang-goyang untuk ke toilet, bayangkan toilet itu terapung di atas sungai bergoyang-goyang jadi kita jongkok sambil goyang dangdut dan tidak ada gayung, saya bingung pakai apa mereka ya?  Oh...ternyata tempat kita buang air ada lobang, tangan kita harus dimasukkan dalam lobang itu dan ambil air sambil cebok, astaga....beginilah di pedalaman, rasa hati geli, jijik, tapi tak ada cara lain toh mereka sehat maka kulakukan yang sama. Dalam hati ketawa sendiri.  Setelah dari toilet saya mencari nasi bungkus eh...ada tapi dibungkus plastik kotak harganya Rp 15.000,- mahal dibandingkan nasi bungkus di tanjung tadi hanya Rp.5.000,-.  Bagaimana lagi terpaksa saya beli dengan beberapa kue basah karena perut sudah kelaparan sekitar pukul 15.00 saya masuk kapal dan makan dengan cara yang sama kucelupkan tanganku ke sungai lewat jendela, sebetulnya gak sampai hati namun kulakukan saja daripada kelaparan.  Lumayan sudah sedikit melek karena perut sudah terisi, terus melanjutkan perjalanan.
Pukul 16.00 kami sampai di long telenjau kapal merapat ke dermaga kecil, lalu kami turun dengan membawa barang masing-masing. Setelah turun dari kapal kami naik ke atas bukit dengan menggunakan batang pohon kelapa yang dilobangi seperti tangga, wow…ekstra hati-hati karena licin dan baru kena air hujan.  Setapak demi setapak saya lewati kayu itu akhirnya sampai di atas dengan selamat. Hah…lega…rasanya dapat mengatasi tantangan perjalanan jauh dan melelahkan.  5 jam terapung-apung di atas sungai.  Kami menuju rumah bapak Yahya persis di depan kami turun.  Duduk sebentar lalu saya diantar anak pak Yahya menuju gereja untuk tidur di sana, gereja dalam bentuk rumah panggung dari kayu.  Saya dibukakan kamar pastoran di dalam kamar itu tidak ada apa-apa hanya kayu kecil untuk menggantung baju dan meja kecil untuk meletakkan alat-alat.  Kemudian anak itu membawakan saya tikar karet untuk tidur.  Saya gelar di bawah lalu saya mulai membuka tas dan  mengeluarkan barang-barang termasuk hosti yang sudah dikonsakrir.  Lampu dengan disel hanya dinyalakan pada malam hari.  Saya keliling gereja kecil itu dan anak-anak misioner pada berdatangan.  Mereka saya ajak menyanyi lagu-lagu natal dari Madah Bakti dan dalam lagu ada kata-kata dalam gua dingin ada palungan lalu saya pura-pura bertanya mana palungan kalian?  Lalu mereka mengambil kandang yang sudah jadi dengan bergotongan ramai-ramai.  Mereka membuat kandang ada yang mencari patung natal, ada yang cari rumput dan menghias atapnya dengan daun kelapa serta kertas krepapir.  Saya melihat betapa anak-anak ini penuh semangat membuat kandang, merindukan kedatangan Kristus, sedangkan orang dewasa tidak sempat berpikir ke sana.  Setelah kandang jadi.  Ibu-ibu pada berdatangan pada sore hari untuk masak di pastoran membuat kue bolu dengan kompor.  Saya melihat mereka membuat bolu dengan alat-alat yang sederhana, ternyata ibu Yahya kemarin membeli bahan-bahannya.  Saya jadi tahu bagaimana membuat bolu tanpa mixer dan open.  Setelah jadi bolu diiris-iris, dibungkus dengan kertas minyak, lalu dimasukkan ke dalam plastik dengan kue kering yang lain dan permen.  Saya tidak dapat istirahat karena ramai dengan ibu-ibu lalu nimbrung saja ikut membungkus roti.  Tidak ada kursi kami duduk di bawah wow...lutut pindah-pindah terus karena penat. Malam hari saya tidur dengan ditemani anak-anak Sekami, ada 2 kamar.  Mereka ramai bukan main.  Saya sulit tidur karena tidak biasa dengan suasana seperti ini.  Baru pukul 1.00 pagi saya dapat tidur setelah mereka tidur.  Pagi harinya saya mandi di kamar mandi sederhana semua dari kayu dan bak pakai drum yang sudah tua, pintu hanya dengan tali, gayung pakai bekas sabun deterjen. Yah...dinikmati saja. Malam hari pukul 08.00 ibadat dimulai, jumlah umat sekitar 30-40 orang saja itu sudah termasuk anak-anak.  Mereka datang dari jauh-jauh dengan naik speed.  Bersyukur malam itu ada yang dapat main gitar sehingga ibadat terasa meriah, setelah ibadat ada pembagian hadiah natal untuk anak-anak.  Pagi harinya karena ibadat dimulai pukul 10.00 saya jalan-jalan ke rumah umat sambil melihat tanaman sayur kalau ada, karena sudah 2 hari tidak makan sayur. Saya hanya menemukan kangkung di selokan depan rumah umat, saya petik segenggam lalu dicampur dengan super mie.  Setelah ibadat selesai saya siap-siap untuk mengemasi barang, lalu menuju sungai untuk menyetop speed kecil. Sebetulnya agak takut karena belum pernah naik tapi umat mengatakan aman gak apa-apa suster, lebih cepat hanya 2 jam sampai tanjung.  Dengan hati yang berdebar saya naik speed di depan, kebetulan hujan maka speed ditutup atasnya. Memang ngebut sekali kalau pas ada gelombang seperti kena batu, saya doa terus sambil lihat-lihat pemandangan di kanan-kiri indah sekali sayang terhalang tutup.  Betul 2 jam sampai di tanjung.  Lalu saya turun cari taxi, di sini taxi seperti angkotnya Semarang mobil daihatsu. Kira-kira 10 menit sampai rumah.
Puji Tuhan sudah sampai dengan selamat. Malam hari mau istirahat diganggu anak-anak sekami telenjau dengan hp menanyakan kabar saya, bagaimana suster sudah sampai rumah, sehat?  Inilah seninya bertugas di pedalaman.  Melelahkan, penuh tantangan tapi indah dan berkesan.  Siapa mau mencoba?
Salam persaudaraan,
Sr.M.Clarine,OSF