Sunday, May 1, 2011

EKARISTI SEBAGAI SAKRAMEN


Ekaristi adalah salah satu dari ketujuh sakramen yang diakui oleh Gereja Katolik. Karena itu sering kita menggunakan istilah Sakramen Ekaristi. Kata Sakramen berasal dari bahasa Latin sacramentum yang dalam bahasa Yunani disebut mysterion.
              Sakramen adalah tindakan atau karya Agung Allah yang menyelamatkan. Allah Tritunggal berkarya amat aktif untuk membaharui ciptaan, untuk membebaskan manusia, untuk mencucikan atau menguduskannya. Hal ini nampak jelas dalam setiap Perayaan Ekaristi.
              Ekaristi sebagai Sakramen Mahakudus adalah keseluruhan tindakan Allah dan keseluruhan tanggapan manusia beriman mulai dari awal sampai akhir perayaan. Sejak ritus pembuka, liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi hingga ritus penutup, Allah sungguh hadir dan berkarya sangat aktif untuk menyelamatkan manusia. Keseluruhan tindakan ini menguduskan: Allah yang kudus hadir, karya-Nya menguduskan. Manusia berdosa mengalami kekudusan Allah, dan tergugah dari dalam untuk berubah atau bertobat. Jadi Sakramen Mahakudus sebenarnya pertama-tama berarti seluruh kegiatan Perayaan Ekaristi yang menguduskan. Dengan menggunakan istialh sakramen menjadi jelas bahwa Ekaristi merupakan tindakan atau karya. Dalam proses tindakan itu dibutuhkan sarana atau benda agar karya itu dapat terlaksana dan mencapai tujuannya. Benda atau sarana memang penting tetapi jauh lebih penting dari benda adalah karya atau tindakan dengan menggunakan sarana atau benda itu.
Sakramen Mahakudus juga berarti roti dan anggur yang telah dikuduskan menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus. Amat sering kita mempersempit arti sakramen Mahakudus sebagai hosti kudus saja yang disimpan dalam tabernakel. Memang benar arti sempit itu, namun kalau hosti kudus itu disimpan di sana, maka yang paling penting adalah komunikasi antara Tuhan dan manusia sebagai tindakan yang menyelamatkan: duduk/berlutut/berdiri di depan tabernakel, dengan sikap penuh hormat untuk mendengarkan Sabda Tuhan, memuji atau mensyukuri Tuhan memohon kepada-Nya dan membangun niat melaksanakan apa yang dikehendaki Tuhan. Inilah komunikasi yang mengkuduskan, sakramen Mahakudus, sanctisimum sacramentum.  Tuhan yang hadir dalam hosti kudus itu mengundang, memanggil manusia dan ada tanggapan nyata dari pihak manusia beriman terhadap panggilan itu. Bila tidak ada komunikasi, maka hosti kudus lebih dipandang sebagai benda yang disimpan di dalam peti, seakan-akan Tuhan diantar ke sel penjara dan dikunci dengan pesan: Tinggallah disitu Tuhan, sampai jumpa hari minggu berikutnya. Syukur kalau masih ada orang yang mengunjungi Yesus di dalam tabernakel, kalau masih ada penyembahan atau astuti bersama secara berkala. Syukur kalau di tempat yang paling ramai dan menyibukkan, masih ada kepala sakramen Mahakudus yang terbuka buat setiap pengunjung. Syukur bila di tengah kesibukan seharian masih ada kebiasaan menjalin komunikasi yang menyelamatkan dengan Yesus, misalnya dengan mengucapkan doa-doa singkat dalam hati seperti doa Yesus: “ Tuhan kasihanilah kami” atau kasihanilah kami” atau “ Yesus...Yesus...Yesus...” Apalagi kalau dibantu untuk mengucapkan doa ini dengan irama denyutan jatung. Dalam tradisi lirturgi gereja Timur, doa ini disebut doa Yesus. Syukur kalau didoakan doa ini atau doa singkat lainnya untuk merasakan kehadiran Yesus yang tinggal hati, dalam “Tabernakel” diri sendiri dalam diri orang lain.
Jelaslah dalam Ekaristi, atau dalam hosti kudus yang disimpan dalam tabernakel orang beriman dapat mengalami karya agung Allah Tritunggal yang menyelamatkan dan manusia yang dapat menanggapinya sebagai beriman. Dalam komunikasi ini, orang beriman dapat mengalami persatuan yang mengkuduskan dan membahagiakan. Inilah Sakramen Mahakudus yang menyelamatkan, tidak hanya hosti kudus yang disimpan dalam tabernakel tetapi seluruh tindakan Allah dalam perayaan Ekaristi dari awal sampai akhir yang mengundang orang beriman untuk menanggapinya dengan aktif sehingga terbentuk komunikasi mengkuduskan.



No comments:

Post a Comment