Tuesday, May 3, 2011

MENDAYUNG SAMPAN MENUJU TUHAN


Shalooomm …
Terhitung sejak tanggal 14 sam-pai 16 April 2011 yang lalu, saya di-beri kesempatan untuk kembali ke Sungai Kayan. Kesempatan tersebut merupakan pengalaman istimewa ba-gi saya, dan berikut ini beberapa butir-butir kecil simpulan permenung-an sepanjang perjalanan pulang yang saya temukan. Dibagikan kembali supaya menjadi berkah untuk makin banyak orang. Paskah 2011 ini merupakan Paskah yang istimewa bagi saya. Istimewa karena menjadi perayaan Paskah Pertama yang saya rayakan sebagai seorang imam Keuskupan Agung Semarang, dan isti-mewa karena bisa merayakan Pas-kah ini bersama dengan umat di Paroki Katedral St Maria Assumpta Tanjung Selor, tempat di mana saya menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral dulu. Kedua hal ini berkaitan dan menjadi bagian dari butir-butir bernas yang boleh saya petik dalam perjalanan mengakrabi panggilan ini.

Kembali ke Sungai Kayan
“Sekali kamu minum air sungai Ka-yan, pasti kamu kembali nanti” Kata-kata itu diucapkan oleh nenek Wang di Long Lembu empat tahun yang lalu ketika saya berpamitan untuk melan-jutkan formatio pendidikan calon-calon imam di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta setelah me-nyelesaikan masa TOP. Ada ke-yakinan bahwa air Sungai Kayan ber-kasiat mempertemukan orang-orang dari berbagai tempat dalam per-jumpaan persaudaraan. Dan saya membuktikan keyakinan itu. Kesan pertama ketika kembali sampai di Tanjung Selor, tidak banyak hal yang berbeda. Perkembangan kota tidak terlalu mencolok. Pembangun-an teras penahan air sungai belum juga tuntas sejak empat tahun yang lalu, beberapa pelabuhan kecil dibangun, jalan-jalan mulai rusak, pertokoan yang lama dan yang baru. Yang mencolok secara fisik adalah bangunan Katedral baru yang sudah tampak jelas bentuknya. Kesan saya, bangunan katedral yang sudah mulai jadi ini menandai gerak partisipasi umat untuk secara lebih signifikan ambil bagian dalam hidup Gereja.
Umat berdatangan ke Gereja untuk bekerja bakti mem-bersihkan Gereja, mempersiapkan petu-gas liturgi, latihan ko-or, menghias altar, dan tata laksana. Kesadaran dan greget umat untuk meraya-kan misteri Paskah sudah makin nampak bentuknya. Sedikit de-mi sedikit makin terasa gerak Gereja sebagai paguyuban umat Allah di Tanjung Selor ini.

Konteks kebudayaan setempat dan umat yang beragam memberi warna masing-masing.
Umat di Tanjung Selor saya rasa jauh lebih kaya dan beragam dalam hal kekayaan kebudayaan daripada umat yang sering saya layani di paroki-paroki di Keuskupan Agung Sema-rang. Dan tentu saja latar belakang yang beranekamacam itu memberi warna juga dalam pelayanan pastoral. Apa yang saya rasakan ketika me-rayakan Ekaristi di Tanjung, berbeda dengan apa yang saya rasakan ketika mempersembahkan Misa di Jelarai atau di Antutan. Setidaknya, ada ke-sadaran yang timbul dalam diri saya untuk membedakan cara saya me-nyapa, sekalipun membawakan pesan Injil yang sama.
Saya yakin bahwa setiap ragam ke-budayaan memiliki kearifan tertentu yang berbeda dari ragam kebudayaan yang lain. dan pada gilirannya tentu akan memberikan sumbangan bagi proses pewartaan Injil sejauh sudah mulai menjadi kebutuhan dan ke-sadaran umat. Setidaknya, sebelum menjadi kesadaran yang dibangun dari pemahaman, dibangunlah kebia-saan-kebiasaan baik yang dihidupi -bersama.
Pesta panen yang diselenggarakan sesudah Misa Paskah siang di Antutan, misalnya, menjadi sesuatu yang menarik yang tidak saya temukan di tempat lain. umat bersama-sama merayakan kebangkitan Kristus yang menghidupkan, yang secara konkret dialami dengan melimpahnya hasil panen, melimpahnya hasil ladang, dan aman damai yang dialami dalam keluarga. Menjadi pertanyaan konkret, ketika makin banyak orang tidak memiliki tanah lagi untuk berladang karena imbas pengembangan perusahaan, bagaimana bisa tetap menghayati kebangkitan?

Mungkin membutuhkan waktu sedikit agak lama supaya pesan-pesan Injil sungguh-sungguh bisa dipahami dan menjadi jiwa dalam perjuangan hidup sehari-hari.

Tentang Misi kita …
Keadaan dan ketegangan antara pesan-pesan Injil yang harus disampaikan dengan realitas yang dihadapi oleh umat yang harus saya layani tersebut mengingatkan kembali diri saya pada satu pertanyaan penting, apa yang menjadi misi saya sendiri dalam pelayanan ini?
Saya diingatkan bahwa saya ingin ikut serta dalam misi Yesus,
"Roh Tuhan ada padaku, oleh sebab Ia telah mengurapi aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Luk 4:18-19).
Rasa-rasanya jelas bahwa pelayanan ini adalah untuk membuat mereka yang dijalani menjadi gembira, menjadi paham, dan menjadi semakin terlibat berkat terang Injil. Secara reflektif, ini dilakukan melalui setiap usaha pelayanan yang ada. Secara harafiah, rasa-rasanya bukan hal yang terlalu mahal untuk segera kembali pada Injil. Karena saya mengambil bagian dalam misi Kristus, maka saya harus mengenal Kristus dengan mendalam. Saya mengenal Kristus dengan mendalam tentu dari tradisi, dan terutama dari Kitab Suci.
Analoginya barangkali begini. Saya sempat bertemu dengan beberapa tokoh umat. Dan seperti biasa, sesudah ngobrol sana sini, mereka akan mulai bercerita. “Saya jadi Katolik, karena Pastor dari Belanda. Dia baik sekali, mengunjungi kami, membawakan gula, kopi, dan lain sebagainya.” Atau, “Sekarang enak jadi Katolik di Bulungan ini, apalagi Gereja kita sudah jadi. Kita pasti akan makin diperhitungkan di tengah masyarakat.” Dan kisah lain senada yang juga pernah saya dengar ketika menjalani masa TOP.
Tapi, setidaknya ada yang mengatakan, “Saya tidak jual tanah saya pada perusahaan sawit, karena tidak menguntungkan untuk hidup kita. Dan saya tahu itu dari Pastor dan Surat Uskup yang dibacakan di Gereja.”
Mungkin masih membutuhkan waktu juga sampai orang mengatakan, “Saya menjadi Katolik dulu karena orang tua saya Katolik. tapi, sekarang saya makin tahu dan bangga menjadi Katolik, karena Kristus yang jadi sahabat saya yang saya cintai dalam perayaan Ekaristi.” Atau, “Saya tidak mau mencontek, meskipun teman-teman dan bahkan guru saya membuat itu. Saya tahu itu tidak jujur. Dan sebagai seorang siswa Katolik, Yesus mengajar saya untuk jujur.”
Sebenarnya, saya yakin, pengalaman-pengalaman pribadi akan Kristus itu sudah ada dalam diri tiap-tiap orang, tetapi tidak semua terungkap menjadi kesaksian. Maka, bagian utama dari misi ini yang sering menjadi bagian tersulit dan menantang daripada sekedar membangun bangunan Gereja, rasa saya adalah membawa terang Injil bagi mereka yang ada dalam peziarahan dunia ini.
Nah …
Kira-kira begitu simpul pengalaman saya ketika ikut merayakan Paskah di Tanjung Selor. Saya bercerita kepada teman-teman romo Student, saya tidak bisa menceritakan pengalaman upacara liturgi yang khusuk dan khidmat, saya tidak bisa menceritakan pengalaman eksotiknya kebudayaan asli Kalimantan yang memperkaya khasanah Gereja setempat, tetapi saya hanya bisa menceritakan bahwa di sana ada greget umat yang sedikit demi sedikit mencecap sabda dan pelan-pelan membagikan terangnya pada sesama.

Trimaaa kasiiiiiiiiihhhh …
Berrrrkah Daleeemmmm


Seminari Tinggi St Paulus Kentungan Yogyakarta,
10 Mei 2011
Nugroho Tri, Pr



No comments:

Post a Comment