Wednesday, May 11, 2011

PENGALAMAN PERTAMA DI STASI LONG TELENJAU PAROKI MARA I TANJUNG SELOR


Sekitar bulan September saya dihubungi Pastor Tina Kusuma, MSF, pastor paroki Mara I dan ekonom Keuskupan untuk memberi ibadat natal pada tanggal 23-26 Desember 2010 di satu stasi daerah long telenjau.  Saya belum pernah pengalaman untuk ke stasi yang jauh, baru kali ini saya bertugas di stasi yang jauh.  Pada tanggal 13 Desember saya kehilangan ibu tercinta menghadap Bapa dan selang beberapa hari saya bertugas di stasi yang jauh. Dalam suasana hati yang masih berduka saya harus memberikan ibadat natal dalam suasana sukacita karena Sang Penebus telah lahir diantara umat manusia.  Bagaimana saya harus menyeimbangkan suasana hati ini agar umat merasakan sukacita dan damai natal tanpa terpengaruh suasana hatiku.
Tanggal 23 pagi pukul 08.00 saya diantar Sr.Floriana dengan naik sepeda motor menuju pelabuhan.  Sampai di pelabuhan saya masih harus menunggu salah satu umat dari stasi long telenjau yang sedang berbelanja di Tanjung Selor beberapa hari yang lalu.  Setelah ibu itu datang kami langsung membeli tiket longboad dan pukul 09.00 masuk ke kapal.  Pengalaman pertama naik kapal yang panjang dan besar terbuat dari kayu. Penumpang kebanyakan para tengkulak membeli barang di Tanjung kemudian dijual lagi di daerah mereka masing-masing jadi penuh dengan barang, daerah paling jauh adalah Pesok sebelum telenjau. Sr.Jeanne, SMSJ mendapat tugas di Pesok. Dalam perjalanan saya tidak pernah membayangkan kalau jauh karena menurut Sr.Flori hanya kurang lebih 1 jam, maka saya tidak membawa bekal.  Apa yang terjadi?  Ketika masuk di dalam kapal saya melihat penjual nasi bungkus lalu lalang menawarkan dagangannya dan para penumpang pada berebut beli dan membuka nasi bungkus masing-masing dari anak kecil sampai orang dewasa.  Mereka makan dengan tangan yang dicuci dengan air sungai yang kotor lewat jendela kapal dan membuang bungkusnya juga di sungai, pikirku wah...sungai ini bisa tercemar dan cepat dangkal kalau begini caranya.  Saya hanya tertegun melihatnya ooo.... begitu cara mereka makan.  Saya berpikir ah... hanya 1 jam perut masih kuat.     
Saya lewati perjalanan jam demi jam setelah 4 jam perut saya terasa lapar, tapi harus bagaimana terapung-apung di atas sungai begini.  Ibu Yahya dan anaknya makan apel tidak menawari ketika makanpun mereka tidak menawari saya hanya melihat mereka makan dengan lahapnya sedangkan perut saya sudah keroncongan.  Kira-kira pukul 14.00 kapal menepi berhenti sebentar sekitar 20 menit di sebuah warung makan yang terapung.  Para penumpang pada turun untuk ke toilet dan membeli jajanan di warung.  Pada kesempatan inilah saya juga ikut turun dan hampir terpeleset karena kaki menginjak kayu yang sudah berlumut dan bergoyang-goyang untuk ke toilet, bayangkan toilet itu terapung di atas sungai bergoyang-goyang jadi kita jongkok sambil goyang dangdut dan tidak ada gayung, saya bingung pakai apa mereka ya?  Oh...ternyata tempat kita buang air ada lobang, tangan kita harus dimasukkan dalam lobang itu dan ambil air sambil cebok, astaga....beginilah di pedalaman, rasa hati geli, jijik, tapi tak ada cara lain toh mereka sehat maka kulakukan yang sama. Dalam hati ketawa sendiri.  Setelah dari toilet saya mencari nasi bungkus eh...ada tapi dibungkus plastik kotak harganya Rp 15.000,- mahal dibandingkan nasi bungkus di tanjung tadi hanya Rp.5.000,-.  Bagaimana lagi terpaksa saya beli dengan beberapa kue basah karena perut sudah kelaparan sekitar pukul 15.00 saya masuk kapal dan makan dengan cara yang sama kucelupkan tanganku ke sungai lewat jendela, sebetulnya gak sampai hati namun kulakukan saja daripada kelaparan.  Lumayan sudah sedikit melek karena perut sudah terisi, terus melanjutkan perjalanan.
Pukul 16.00 kami sampai di long telenjau kapal merapat ke dermaga kecil, lalu kami turun dengan membawa barang masing-masing. Setelah turun dari kapal kami naik ke atas bukit dengan menggunakan batang pohon kelapa yang dilobangi seperti tangga, wow…ekstra hati-hati karena licin dan baru kena air hujan.  Setapak demi setapak saya lewati kayu itu akhirnya sampai di atas dengan selamat. Hah…lega…rasanya dapat mengatasi tantangan perjalanan jauh dan melelahkan.  5 jam terapung-apung di atas sungai.  Kami menuju rumah bapak Yahya persis di depan kami turun.  Duduk sebentar lalu saya diantar anak pak Yahya menuju gereja untuk tidur di sana, gereja dalam bentuk rumah panggung dari kayu.  Saya dibukakan kamar pastoran di dalam kamar itu tidak ada apa-apa hanya kayu kecil untuk menggantung baju dan meja kecil untuk meletakkan alat-alat.  Kemudian anak itu membawakan saya tikar karet untuk tidur.  Saya gelar di bawah lalu saya mulai membuka tas dan  mengeluarkan barang-barang termasuk hosti yang sudah dikonsakrir.  Lampu dengan disel hanya dinyalakan pada malam hari.  Saya keliling gereja kecil itu dan anak-anak misioner pada berdatangan.  Mereka saya ajak menyanyi lagu-lagu natal dari Madah Bakti dan dalam lagu ada kata-kata dalam gua dingin ada palungan lalu saya pura-pura bertanya mana palungan kalian?  Lalu mereka mengambil kandang yang sudah jadi dengan bergotongan ramai-ramai.  Mereka membuat kandang ada yang mencari patung natal, ada yang cari rumput dan menghias atapnya dengan daun kelapa serta kertas krepapir.  Saya melihat betapa anak-anak ini penuh semangat membuat kandang, merindukan kedatangan Kristus, sedangkan orang dewasa tidak sempat berpikir ke sana.  Setelah kandang jadi.  Ibu-ibu pada berdatangan pada sore hari untuk masak di pastoran membuat kue bolu dengan kompor.  Saya melihat mereka membuat bolu dengan alat-alat yang sederhana, ternyata ibu Yahya kemarin membeli bahan-bahannya.  Saya jadi tahu bagaimana membuat bolu tanpa mixer dan open.  Setelah jadi bolu diiris-iris, dibungkus dengan kertas minyak, lalu dimasukkan ke dalam plastik dengan kue kering yang lain dan permen.  Saya tidak dapat istirahat karena ramai dengan ibu-ibu lalu nimbrung saja ikut membungkus roti.  Tidak ada kursi kami duduk di bawah wow...lutut pindah-pindah terus karena penat. Malam hari saya tidur dengan ditemani anak-anak Sekami, ada 2 kamar.  Mereka ramai bukan main.  Saya sulit tidur karena tidak biasa dengan suasana seperti ini.  Baru pukul 1.00 pagi saya dapat tidur setelah mereka tidur.  Pagi harinya saya mandi di kamar mandi sederhana semua dari kayu dan bak pakai drum yang sudah tua, pintu hanya dengan tali, gayung pakai bekas sabun deterjen. Yah...dinikmati saja. Malam hari pukul 08.00 ibadat dimulai, jumlah umat sekitar 30-40 orang saja itu sudah termasuk anak-anak.  Mereka datang dari jauh-jauh dengan naik speed.  Bersyukur malam itu ada yang dapat main gitar sehingga ibadat terasa meriah, setelah ibadat ada pembagian hadiah natal untuk anak-anak.  Pagi harinya karena ibadat dimulai pukul 10.00 saya jalan-jalan ke rumah umat sambil melihat tanaman sayur kalau ada, karena sudah 2 hari tidak makan sayur. Saya hanya menemukan kangkung di selokan depan rumah umat, saya petik segenggam lalu dicampur dengan super mie.  Setelah ibadat selesai saya siap-siap untuk mengemasi barang, lalu menuju sungai untuk menyetop speed kecil. Sebetulnya agak takut karena belum pernah naik tapi umat mengatakan aman gak apa-apa suster, lebih cepat hanya 2 jam sampai tanjung.  Dengan hati yang berdebar saya naik speed di depan, kebetulan hujan maka speed ditutup atasnya. Memang ngebut sekali kalau pas ada gelombang seperti kena batu, saya doa terus sambil lihat-lihat pemandangan di kanan-kiri indah sekali sayang terhalang tutup.  Betul 2 jam sampai di tanjung.  Lalu saya turun cari taxi, di sini taxi seperti angkotnya Semarang mobil daihatsu. Kira-kira 10 menit sampai rumah.
Puji Tuhan sudah sampai dengan selamat. Malam hari mau istirahat diganggu anak-anak sekami telenjau dengan hp menanyakan kabar saya, bagaimana suster sudah sampai rumah, sehat?  Inilah seninya bertugas di pedalaman.  Melelahkan, penuh tantangan tapi indah dan berkesan.  Siapa mau mencoba?
Salam persaudaraan,
Sr.M.Clarine,OSF



No comments:

Post a Comment