Thursday, May 19, 2011

POTRET AWAL PAROKI TANJUNG SELOR Berdasar Kisah Ibu Emmie Winokan

Pada tahun 1954, orang tua kami yaitu Bapak B. Winokan pindah dari Kalimantan Barat, Sintang ke Kalimantan Timur, Tanjung Selor. Waktu itu, Bapak bekerja di Kantor Bupati di Sintang dan menjabat sebagai Sekretaris. Di Tanjung Selor, Bapak bekerja di Kantor Kepala Daerah Istimewa Bulungan karena waktu itu masih kedudukan Sultan Bulungan dengan jabatan yang sama.

              Kami bersaudara ada 9 orang, enam orang pria dan 3 orang wanita. Mereka adalah:
Erlyne Winokan
Emmie Winokan
Edward Winokan
Email Winokan
Erwin Winokan
Eventius Winokan
Elisabeth Winokan
Evengenius Winokan
Ernest Winokan
Kepindahan kami dari Sintang ke Tanjung Selor  karena ada masalah kakak saya yang perempuan mau dilamar orang Melayu yang mau mengajak masuk Islam. Bapak tidak mau terima. Akhirnya, Bapak minta pindah jauh ke Kalimantan Timur.
Bapak Pegawai Pusat. Maka, boleh pindah kemana saja di seluruh Indonesia. Makanya kami sampai berada di Tanjung Selor ini. Mungkin kalau tidak ada masalah tersebut, kami tidak pindah ke Tanjung Selor. Waktu tiba di Tanjung selor, belum ada Gereja Katolik. Kalau sembahyang hari minggu, kami menggunakan rumah orang tua kami. Pastornya orang Belanda dari Tarakan. Pelayanan pastor sebulan sekali dengan mengadakan misa. Kalau pastor sudah datang, beliau menyuruh panggil keluarga-keluarga orang Timur di Gunung Seriang. Kalau saya tidak lupa, mereka adalah Sdr. Paulus, Sdr. Leo dan istri, Sdr. Ben dan Istri, Sdr. Frans. Pastor tinggal di rumah kami selama 3 hari, kemudian balik lagi ke Tarakan.
Dari Tarakan ke Tanjung Selor, pastor naik kapal Besi. Berangkat jam 08.00 pagi sampai di Tanjung Selor jam 04.00 sore, jadi 8 jam perjalanan. Pastor yang datang anara lain, Pastor Padberg, Pastor Slangen, Pastor Dendekam, Pastor Van de Graaf.
Ada juga satu keluarga anggota polisi pindahan dari Samarinda, namanya Sdr. Ding Lang dan satu keluarga Tentara dari Samarinda yang namanya saya lupa. Keluarga ini tinggal di Asrama Tanah Seribu.
Suatu hari Sdr. Paulus ke rumah menemui Bapak. Sdr Paulus meminta buku Ibadat Sabda dan buku-buku lainnya untuk mengajar agama. Pada saat itu, Sdrl. Palus sudah pindah ke daerah Mara I. buku-buku tersebut dijadikan pegangan untuk mengembangkan umat di sekitar tempat tinggal Sdr. Paulus. Dari Long Sam juga darang seorang bapak, saya kurang tahu namanya. Dia juga tanya buku-buku Ibadat Sabda dan patung-patung untuk Natal. Meskipun hanya memiliki satu set patung Natal, bapak memberikan juga kepada bapak dari Long Sam supaya mereka bisa merayakan natal dengan bagus. Bapak berpikir, Tanjung Selor lebih mudah mengusahakan patung Natal dibandingkan dengan Long Sam.
Lama kelamaan anggota kita bertambah banyaknya.
Rumah kami ini berhadapan dengan rumah Bapak Bupati H. Soetadji. Rupanya beliau melihat tiap-tiap hari minggu banyak orang yang sembahyang di rumah kami. Suatu hari beliau memanggil Pak Baya Apoy, menantu Pak B. Winokan. Pak Bupati mengatakan bahwa sebaiknya dibangun Gereja Katolik. Saran Pak Bupati ini ditanggapi dengan pertanyaan balik: “Dananya dari mana? Kami belum cukup mampu untuk mendirikan Gereja.” Mendengar cerita dan tanggapan dari Pak B. Winokan, Pak Bupati memerintahkan Gereja dibagun saja, nanti Pemerintah Daerah membantu dana pembangunan. Dengan bantuan dana dari pemerintah daerah, Gereja (lama) bisa berdiri.
Sekian saja dulu sedikit masukan untuk diketahui.
Tanjung Selor, 17 Februari 2011
Emmie Winokan


No comments:

Post a Comment