Saturday, June 25, 2011

June 25, 2011

Belajar Berlari di Usia ke-3 Paroki Hati Kudus Yesus Long Ayan Segah


Hari kamis sore pukul 16.00, tanggal 24 Juni 2011  kampung Long Ayan bersolek. Ada suasana yang lain dari biasanya, tampak bendera dan umbul-umbul menghias jalan sepanjang gang menuju Gereja Katolik. Lebih meriah lagi karena tampak wajah-wajah baru di kampung. Tampak kerumunan dan padatnya masa yang berkumpul di sekitar halaman gereja. Ada apa gerangan? Rupanya suasana riuh rendah ini dibuat dalam rangka menyambut kedatangan tamu dari stasi-stasi dan lebih penting lagi “dandanan” ini  sengaja dibuat dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Paroki Hati Kudus Yesus Long Ayan ke-3 yang akan dilaksanakan tepat pada hari Minggu, 26 Juni 2011. Umat dari stasi – stasi sudah berada di Pusat Paroki Long Ayan sejak tanggal 24 untuk mengikuti lomba – lomba yang sudah dipersiapkan panitia Hari Ulang Tahun Paroki ke – 3.
Hari ulang tahun ke-3 ini sengaja dirayakan secara meriah untuk membangun rasa persatuan, keakraban dan persaudaraan di antara umat paroki, seperti yang diungkapan dalam Tema Perayaan Ulang Tahun ke-3 ini, “Bertambah usia, bertumbuh bersama dalam persatuan dan persaudaraan untuk membangun Paroki Hati Kudus Yesus Segah dalam Iman, Harapan dan Kasih.” Dalam rangka hari ulang tahun ke-3 ini maka panitia menyelenggarakan kegiatan-kegiatan bersama berupa lomba baca Kitab Suci dan Mazmur kategori anak dan dewasa, Lagu dan Gerak Anak Sekami, Paduan Suara, CCIK (Cerdas Cermat Iman Katolik Kategori anak dan dewasa), dan Paroki Idol untuk Kategori Umum. Selain lomba-lomba rohani panitia juga menggelar lomba-lomba Olah Raga seperti Tarik Tambang putra – putri, Badminton putra – putri, Bola Volly putra – putri, langsung di lapangan yang baru loh.... Sejak kamis malam sampai malam minggu setiap stasi berlomba menyuguhkan penampilan terbaiknya. Sungguh luar biasa. 
Puncak dari Perayaan Syukur Hari Ulang Tahun Ke-3 Paroki Hati Kudus Yesus Segah ini disatukan dalam perayaan ekaristi bersama yang dilaksanakan secara meriah dan khidmat pada hari minggu 26 Juni 2011 bertempat di gereja pusat paroki. Lagu koor berbasa Latin membahana agung diselingi dengan lagu-lagu khas daerah Timur, tak ketinggalan tarian adat Dayak Ga’ai ditampilkan dalam perarakan masuk.
Pastor Pius Rettob MSC hadir dalam perayaan Hari Ulang Tahun ini dan juga mengikuti Perayaan Ekaristi. Dalam kotbahnya Pastor Stanis Kuway MSC menegaskan akan pentingnya bertumbuh bersama dalam Iman, Harapan dan Kasih, pentingnya membangun rasa persatuan dan persaudaraan sebagai satu paroki. Karena hanya dengan persatuan dan persaudaraan yang dibangun bersama dalam kesadaran, bisa dipastikan bahwa umat Katolik di Paroki HKY Segah akan tetap eksis dan bertumbuh serta berkembang dalam iman kekatolikannya. Lewat acara bersama ini diharapkan rasa persaudaraan sebagai umat Katolik semakin bertumbuh subur. Hal senada diungkapkan oleh ketua panitia perayaan Fr. Bobby Syawang MSC dalam sambutannya menegaskan tentang pentingnya kebersamaan. Sebab, “ketika bersama kita bisa.” Di usia yang belia ini paroki Hati Kudus Yesus Long Ayan Segah menatap optimis ke depan, belajar berlari membangun kehidupan paroki yang lebih cemerlang.
ccHari ulang tahun paroki ini juga menandakan berakhirnya masa kepemimpinan dewan paroki yang lama. Karena itu setelah perayaan syukur bersama ini dilaksanakan acara pemilihan dewan paroki yang baru. Dari hasil penjaringan nama “Balon” (bakal calon) dewan paroki yang baru diperoleh nama-nama kandidat sebagai berikut Bpk. Tomas Basog, Bpk. Yohanes Nyan Ban, Bpk. Wang sah, Bpk. Jiu Ping. Kesempatan ulang tahun paroki ini juga dimanfaatkan oleh Sr. Fabyana, PRR untuk pamit demi mengemban misi studi di Yogyakarta. Semoga kerasaan dalam studi dan terima kasih untuk benih iman yang telah anda tabur di bumi Segah. Semoga benih iman itu bertumbuh subur menghasilkan panenan yang melimpah.
Fr. Bobby PR + P. Stan MSC


Friday, June 24, 2011

June 24, 2011

Tradisi Dolob Simbol Kebenaran dan Pertobatan dalam Adat Dayak Agabag



Suatu hari bu Pagayu pulang dari acara perkawinan saudaranya di Pulau Keras. Sudah 2 hari dia mengikuti acara itu. Begitulah adat di sini, pesta perkawinan dirayakan sampai beberapa hari. Ketika pulang ke rumah, suaminya, Pak Pagayu marah-marah dan menuduh isterinya selingkuh di tempat pesta perkawinan dengan Pak Sio. Istrinya kaget dan bingung karena dia tidak merasa selingkuh dengan Pak Sio. Pak Pagayu tetap bersikeras bahwa isterinya selingkuh dengan Pak Sio. Kemudian Pak Pagayu melaporkan ke dewan adat untuk menyelesaikan persoalan rumah tangganya. Dewan adat mencoba menyelesaikan persoalan ini secara damai. Tetapi Pak Pagayu tetap bersikeras, maka dia mengajukan Dolob. Pak Pagayu menantang Pak Sio untuk melakukan dolob untuk membuktikan apakah Pak Sio benar-benar selingkuh atau tidak dengan istrinya. Pak Sio pun siap menerima tantangan Pak Pagayu. Maka, pada hari selasa, 15 Maret 2011, pukul 14.00 dolob dilaksanakan di desa Intin Kalimantan TImur
Tradisi dolob adalah sebuah tradisi yang sudah lama hidup dan berkembang di daerah lumbis – sembakung Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur. Tradisi dolob hanya ada di daerah lumbis dan sembakung ini. Daerah lain tidak ada. Sejak kapan tradisi ini di mulai tidak ada yang tahu. Menurut para sesepuh adat dolob sudah mulai dari nenek moyang dulu. Kapan dan siapa yang memulainya tidak diketahui. Namun semua orang mempercayai tradisi dolob. Dolob dapat menentukan siapa yang salah dan benar. Dalam bahasa dayak Agabag dolob berarti menyelam. Orang yang melakukan dolob harus menyelam di dalam air. Orang yang muncul pertama  dari air berarti dia salah, dan orang yang bertahan lama di dalam air berarti orang yang benar. 
Dolob dilaksanakan ketika persoalan tidak dapat diselesaikan secara damai. Syarat untuk melakukan dolob adalah kedua belah pihak harus menyiapkan “taruhan”. Taruhan ini sebagai denda yang harus dibayarkan kepada pihak yang menang, biasanya satu sapi dan tempayan merah, kalau diuangkan kurang lebih 6 juta rupiah. Dolob dilakukan di pinggir sungai yang  kedalamannya kurang lebih 1,5 meter. Ada dua kayu yang di tancapkan dipinggir sungai. Kayu itu berfungsi untuk pegangan orang yang menyelam supaya tidak terbawa arus air. Kayu harus dipilih dari pohon yang tidak bercabang dan lurus (vertikal). Kedua orang akan berpegangan kayu dan menyelam ke dasar sungai.
Sebelum menyelam, ketua adat akan membacakan doa terlebih dahulu. Sambil berteriak-teriak ketua adat berdoa memanggil Mangun…Mangun…Mangun…. (Artinya Tuhan dalam bahasa Dayak Agabag), roh-roh penguasa sungai dan hutan, memukul tanah dengan anak pohon pisang, menaburkan beras kuning, dan melempar telur ayam ke dalam sungai. Ketika ketua adat berdoa suasana menjadi sangat tenang-hening-mistis. Tiba-tiba suasana ramai dan gemuruh dari ratusan orang yang hadir menjadi tenang dan sunyi. Kemudian, ketua adat menghitung 3 kali dan mereka mulai menyelam dengan di damping satu orang berdiri di sebelahnya. Bagi orang yang memang salah, dia akan lebih dahulu muncul kepermukaan air. Bagi orang yang memang benar, dia akan bertahan lama di dalam air, bisa beberapa jam dan menurut sesepuh adat bisa bertahan berhari-hari. Ketika satu orang sudah ada yang muncul berarti dolob sudah selesai karena sudah diketahui siapa yang salah. Menurut kesaksian dari peserta dolob yang menang karena benar, dia merasa tenang di dalam air karena dia bisa bernafas bebas seperti ketika di darat. Sedangkan, bagi yang kalah karena salah, dia tidak nyaman di dalam air karena banyak sekali gerombolan ikan, ular, buaya, dan binatang-binatang sungai lainnya yang mengroyok menggigit tubuhnya.Tidak hanya binatang-binatang sungai yang mengganggu, tetapi air dan pasir menjadi hidup dan menyerang masuk ke dalam mata, hidung, dan telinga. Kalau dia memaksakan diri bertahan, maka hidung dan telinga dapat mengeluarkan darah dan bisa lemas. Walaupun dia jago menyelam atau mempunyai ilmu yang tinggi, tetapi dengan dolob  semuanya tidak artinya apa-apa. Kalau orang itu salah maka akan tetap salah dan tidak akan bertahan lama di dalam air.

Itulah kehebatan tradisi dolob. Sebuah tradisi yang masih tetap bertahan di tengah sistem peradilan modern yang justru mereduksi kebenaran. Tradisi dolob menjadi simbol kekuatan budaya lokal yang menempatkan keadilan dan kebenaran pada tempatnya. Keadilan dan kebenaran tidak dapat diintervensi oleh kekuatan uang atau kekuasaan manapun. Tradisi dolob menjadi simbol kebenaran “absolut”, di tengah kebenaran yang semakin “relatif”.

Tadisi Dolob dan Tadisi Iman Katolik?

Ketika hadir dan menyaksikan tradisi dolob itu, saya tertegun diam dan heran.   Saya diam-hening karena ketika ketua adat mendaraskan doa-doa, saya merasa mrinding karena suasana berubah menjadi sakral-mistis, sama ketika saya merayakan Ekaristi, khususnya ketika saya membacakan  Doa Syukur Agung. Saya heran karena kedua orang yang melakukan dolob adalah umat Katolik. Spontan, saya bertanya dalam hati, bagaimana ini dijelaskan dalam konteks tradisi iman katolik? Apalagi ketika seorang kepala desa bertanya kepada saya, apakah tradisi dolob ini bertentangan dengan Agama Katolik?
Ketika itu, spontan saya menjawab bahwa ini menjadi bukti bahwa kekuatan baik, yaitu Tuhan akan melindungi dan berpihak kepada orang yang benar. Tidak hanya Tuhan, tetapi roh-roh penguasa air dan hutan juga akan melindungi dan tidak berani menganggu orang yang benar. Seperti yang dikatakan oleh pemazmur,” ….siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya” (Mazmur 50: 23b). Sedangkan kepada orang salah, Tuhan akan membiarkan dia berjuang sendiri dan roh-roh penguasa sungai dan hutan akan mengganggu sebagai hukuman atas kesalahannya. Tuhan justru menunjukkan bahwa orang yang salah harus mengakui kesalahannya dan memberi kesempatan untuk memperbaiki hidupnya (bertobat). “….Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yesaya 1:18). Buktinya orang yang salah tetap masih hidup dan tidak mati. Roh-roh penguasa sungai dan hutan juga hanya “menganggu” atau memberi peringatan kepada yang salah. Maka, proses pertobatan menjadi penting. Bukan proses yang sekali jadi, tetapi menjadi proses yang terus-menerus diperjuangkan dalam diri manusia yang rapuh. Bukan hanya dalam diri manusia yang salah dan berdosa, tetapi juga bagi orang yang merasa benar. Hal ini juga ditunjukkan ketika orang yang menang dalam dolob dilarang untuk berteriak gembira, tetapi harus tetap tenang. Begitu juga orang-orang yang menyaksikan dolob di larang berteriak sebagai ungkapan kemenangan. Tentu ini menjadi simbol adat kerendahan hati bagi orang yang merasa benar.
Tradisi dolob sangat menarik untuk dikaji lebih dalam dan tajam. Tradisi ini bisa menjadi pengembangan katekese katolik yang inkulturatif dalam pengembangan iman Gereja, khususnya Keuskupan Tanjung Selor. Ada banyak unsur yang bisa dikembangkan lebih lanjut, yaitu bagaimana kekuatan doa di hadapan Tuhan (Mangun) sungguh menjadi tanda kehadiran Tuhan. Tuhan sungguh hadir memberi petunjuk dan melindungi orang benar dan memberi kesempatan kepada orang yang salah untuk hidup benar. Namun tetap berhati-hati merumuskan keberadaan roh-roh penguasa air, hutan, dan gunung dalam konteks iman Katolik.
Akhirnya hanya 22 detik Pak Pagayu bertahan di dalam air. Nafasnya ngos-ngosan, seperti sedang mengikuti lomba lari. Wajah dan matanya memerah dan seorang lelaki yang mendampingi langsung merangkulnya karena terlihat lemas. Padahal menurut warga, Pak Pagayu adalah orang yang sakti, berilmu tinggi, dan juga jago menyelam. Ketua adat langsung berteriak untuk mengangkat Pak Sio karena dolob sudah selesai. Karena kalau tidak diangkat pak sio akan bertahan lama di dalam air. Serentak, seluruh warga langsung berteriak dan bertepuk tangan melihat bahwa Pak sio yang menang atau yang benar dalam kasus ini. Spontan, para sesepuh adat mengajak semua warga tetap tenang.
Dolob kali ini dimenangkan oleh Pak Sio. Ini berarti, Pak Sio tidak berselingkuh dengan bu Pagayu seperti yang dituduhkan Pak Pagayu. Maka pak Pagayu harus membayar denda kepada Pak Sio dan Bu Pagayu karena keduanya sebagai pihak yang dituduh dan dirugikan. Dendanya sesuai dengan kesepakatan, yaitu satu ekor sapi dan tempayan merah (dalam tradisi dayak agabag tempayan merah adalah barang yang mahal dan langka).
Salam,
Mo’wah
Mansalong

Friday, June 17, 2011

June 17, 2011

SR. JEANE WURE, SMSJ, -SUSTER DIODIOS KKI- PINDAH TUGAS

Selasa 14 Juni 2011, bersamaan dengan pesta ulang tahun Pastor Pius Rettop, MSC, Sr Jean Wure, SMSJ berpamitan untuk menjalani tugas perutusan baru di Nabire, Keuskupan Timika.



Pada perpisahan ini dihadiri oleh Keluarga Keuskupan, Dewan Harian Pastoral Paroki Katedral, Keluarga pastoran Katedral, perwakilan anak-anak Sekami Katedral, Komunitas suster SMSJ dan OSF berserta beberapa umat. Perpisahan ini berisi sharing pengalaman Sr. Jean dan ucapan terima kasih dari Mgr. Harjosusanto, MSF.
              Sr Jean mensharingkan bahwa perutusan di Keuskupan Tanjung Selor selama 6 tahun merupakan proses pembelajaran yang sangat berharga dalam pelayanan pastoral. Dalam dinamika pastoral Keuskupan Tajung Selor, Sr Jean merasa terpujilah di antara pria. Sr Jean merupakan perempuan sendiri dalam rapat Pastores yang membahas pastoral keuskupan. Kebersamaan bersama para pastor dirasakan meneguhkan untuk kreatif dalam berpastoral. Sr. Jean senang dan bangga melihat para pastor yang semangat dalam pelayanan pastoral. Terlebih juga meneladan kesederhanaan Bapak uskup dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman berharga yang dialami Sr. Jean dalam keuskupan ini adalah diberi kesempatan untuk menyapa dan mengujungi seluruh paroki-paroki yang ada di wilayah keuskupan. Sr. Jean menuturkan bahwa pengalaman kunjungan ini pengalaman istimewa dan langka karena tidak semua suster atau pastor yang menjalani perutusan di keuskupan ini mendapat kesempatan untuk berkunjung ke paroki-paroki di wilayah keuskupan ini. Sr. Jean juga berterima kasih khususnya pada para animator-animatris yang telah mendukung dalam mendampingi anak dan mengembangkan iman anak. Semangat dan kreativitas mereka yang juga menyemangati karya pelayanan Sr. Jean.
Apa yang disharingkan Sr. Jean di atas mendapat peneguhan dari Bapak Uskup, Mgr Harjosusanto, MSF. Mgr. Harjosusanto, MSF mewakili seluruh umat keuskupan mengucapkan terima kasih atas keterlibatan Sr. Jean dalam pelayanan pastoral di keuskupan. Bapak uskup merasakan semangat dan kegembiraan Sr. Jean dalam pelayanannya. Kegembiraan yang selalu dibawa dan diwartakan Sr. Jean dalam karyanya. Pelayanan dengan kegembiraan ini pantas diteladani. Mgr. Harjosusanto,MSF mengisahkan bahwa saat mengalami kegembiraan Sr. Jean tidak segan-segan mengungkapkan dan mensharingkannya. Kebiasaan yang ada adalah orang mudah mencaritakan permasalahan dan keluh kesah mengenai situasi yang tidak mengenaknya. Di akhir sambutannya, Mgr Harjosusanto mengucapkan maaf beliau karena kekurangan dan kesalahan yang pernah dilakukan kepada Sr. Jean. Beliau juga berharap semoga pengalaman pelayanan di Keuskupan Tanjung Selor bisa bermanfaat untuk pelayanan di tempat perutusan baru.
Perpisahan Sr. Jean ini diakhiri dengan makan bersama. Sambil makan, anak-anak Sekami Stasi St. Mikael Jelarai menghibur dengan menyanyikan lagu-lagu Sekami yang pernah diajarkan Sr. Jean.
Sr. Jean selamat berkarya di tempat yang baru. Selamat membagikan kegembiraan kepada banyak orang yang dijumpai sehingga mereka semakin mengalami Yesus…..
MoEd


Monday, June 6, 2011

June 06, 2011

JIRAM-JIRAM YANG MENDEBARKAN Di Long Bia, Paroki Sungai Kayan Mara I


Pada tanggal 10 Maret 2011 siang saya di-sms Pastor Tina Kusu-ma,MSF untuk memberi ibadat Ming-gu Palma, Kamis Putih, dan Jumat Agung di Long Bia, saya jawab:”Mana yang duluan itu yang saya amini”. 
      Saya berangkat ke Long Bia dengan diantar oleh Sr.Floriana,OSF naik sepeda motor menuju pelabuh-an untuk pesan tiket taxi air, saat itu yang ada taxi “Karya Baru” yang terkenal lambat kata para penum-pang.  Taxi berangkat pukul 09.00 dan sampai di Long Bia pukul 16.00 ketika itu saya berpikir kok para penumpang sudah habis, apakah saya kebablasan? Lalu saya teriak kepada bapak yang angkut-angkut barang: ”Pak, saya turun di Long Bia”, lalu kata bapak itu ya masih satu kampung lagi, kemudian saya di-telpon ibu Saleh:’Suster, sudah sampai dimana?”, saya katakan: ”Sampai di Long Hasan”, ibu itu ter-tawa sambil berkata:”Bukan Long Hasan suster, tapi long lasan”, oh ya long lasan  karena tidak ada tulisan saya hanya tanya penumpang sebelah saya karena deru mesin yang keras saya jadi salah dengar kali.  Sekitar seperempat jam sampailah di der-maga Long Bia yang besar dibanding-kan dengan long-long yang lain. Wah….lega rasanya sambil ngeluk boyok, di situ ada tempat duduk yang panjang dan peneduh, cukup luas bisa untuk parkir tukang ojek. Tak berapa lama saya lihat ibu Saleh datang dengan sepeda motornya.  Se-perti biasanya ibu Saleh senyum dan ramah menyapa saya dan membantu membawa barang-barang ke motor lalu kami menuju rumah ibu Saleh yang tak jauh dari dermaga.  Saya disiapkan makan siang dengan di-temani oleh Bapak Ketua Stasi, Ba-pak Urbanus namanya.  Kami ber-bincang-bincang lama, baru kemudian saya dibonceng ibu saleh menuju gereja dan pastoran.  Saya diajak ma-suk pastoran dan dibawa ke kamar yang telah disediakan, wow…. pastoran bersih dan rapi lantai sudah keramik.  Hari pertama saya diteman-i oleh 1 orang analis mbak Yuli, dan 2 orang bidan teman mbak Yuli.Hari kedua 2 orang bidan yang beragama Protestan pindah tempat kost dan mbak Yuli setia menemani saya, karena mbak Yuli tidak punya teman di kamar maka kami berdua satu kamar menempati kamar pastor. 
Minggu Palma dirayakan di depan gereja dengan dibantu oleh anak-anak muda dari stasi dan dari kamp kami atur meja dan daun palem yang dikumpulkan oleh anak kecil Olin namanya dan mbak Yuli, yang hanya ada 1 pohon di depan pastoran, si Olin ini dengan teliti-nya seperti gaya khas anak-anak menghitung dengan suara anak yang lucu, geli saya mendengarnya. Dia menghitung sesuai dengan jumlah umat sekitar 54.  Syukurlah men-cukupi.  Ibadat berjalan dengan lan-car dan khidmat. 
Kamis Putih seperti dalam buku panduan sesuai dengan urut-urutannya ada pembasuhan kaki.  Dalam renungan saya selingi dengan lagu dari HP yang judulnya “Kedip-kedipan” yang dinyanyikan oleh Koes Ploes sekitar tahun 70-an yang isinya tentang bagaimana proses pelanggaran cinta kasih dilakukan sehingga terjadilah perselisihan.  Proses pertama dari mata kedip-kedipan, lalu dilanjutkan dengan towel-towelan, senggol-senggolan, plotot-plototan, dan akhirnya tonjok-tonjokan, sambil mendengarkan lagu itu saya peragakan dengan gerak tubuh, hu….mereka terpingkal-pingkal.  Saya tidak tahu apakah mengena atau tidak, tapi yang kulihat anak-anak muda dari kamp pada minta lagu itu dikirim ke hp mereka bahkan ketika ibu-ibu pada masak kata tonjok-tonjokan sering keluar untuk bahan tertawa supaya tidak tegang, dan ada satu anak kecil namanya Fendy dari kamp kemana-mana membawa hpnya dengan lagu itu, geli rasanya melihat anak itu dengan gayanya yang sok gentlemen.
Jumat Agung, kami mengadakan ibadat jalan salib dengan memasang gambar yang ditancapkan pada sebilah bambu dan dipasang pada jalan umum, tak heran kalau Bapak ketua stasi harus minta ijin tertulis kepada polisi setempat. Bapak Ndus dari kamp minta ijin pada saya untuk menyanyikan lagu ratapan pada beberapa perhentian , bagus, syahdu, sedih, bahkan ada umat yang menangis meneteskan air mata mendengar lagu itu, sayangnya dalam bahasa daerah Manggarai saya tidak tahu artinya hanya nada lagunya memang sendu mengundang orang untuk bersedih.  Sepanjang jalan salib kami dilihat dari jauh oleh umat Protestan dan muslim bahkan bapak polisi yang bagi mereka tidak mengenal ibadat jalan salib, saya lihat mereka keheran-heranan apalagi ada suster berbaju putih karena biasanya dipimpin oleh Pastor, frater, suster tapi tidak berbaju putih.  Jalan salib pada perhentian ke-12 persis di atas bukit di atas pastoran rasanya benar-benar golgota kami semua sujud di tanah dan diakhiri di gereja.  Hari ini kami semua kompak berpuasa tidak makan dan tidak minum bagi yang dewasa bahkan ibu-ibu yang memasak tidak berani mencicipi bumbu yang digoreng, sayalah yang mencicipi biar tahu rasanya, karena selesai jalan salib pada sore hari kami berbuka puasa bersama.  Wow….betapa indahnya hidup sebagai saudara.
Sabtu pagi karena tugas saya sudah selesai maka ketika banyak keluhan dari umat yang sering didatangi oleh mantan ketua stasi yang telah dipanggil Tuhan dan sering muncul dalam mimpi kepada orang-orang terdekat dan juga pada siang dan malam hari saya sering diketuk kaca jendela saya di pastoran, maka kami sepakat melihat makamnya bersama istri dan anaknya.  Waktu berangkat dari rumah ibu Saleh saya diboncengkan anak muda namanya Mika anak Pak Urbanus, eh….dilewatkan jalan yang berlumpur sehingga ban motor bisa berjoget kanan kiri, lalu saya minta turun saja, pikir saya kalau jatuh tidak ada dokter tulang di sini, cilaka dua belas!  Saya jalan kaki tapi apa yang terjadi?  Ketika menginjak tanah kaki saya bisa berputar-putar seperti menari tapi apa boleh buat maju kena mundur kena, saya lanjutkan saja sampai sandal berat sekali karena menggondol tanah liat, bukan main! 
Malamnya kami menantikan perayaan malam paska bersama Pastor Jay.  Sebelum Misa Pastor minta saya untuk membagikan komuni dan mengangkat beberapa lagu, saya tidak berpikir kalau Pastor agak sakit. Saya iyakan saja. Ternyata selama Misa Pastor duduk terus, saya mulai berpikir wah…jangan-jangan Pastor pingsan dalam pertengahan Misa.  Syukurlah Misa berjalan lancar, setelah Misa umat sudah bersiap-siap untuk santap malam bersama di pastoran.  Setelah semua siap saya lihat pastor kok gak ada, lalu saya tengok di kamarnya yang memakai ruang sakristi dan baru pertama ditempati.  Saya lihat pastor tidur pulas dan saya panggil-panggil kok diam saja, takut saya jangan-jangan sudah tidak bernyawa…lalu saya goyang-goyang tangannya tidak bereaksi, saya keluar dan bertemu dengan Bapak Anton, kemudian saya suruh panggil dokter Puskesmas.  Tak berapa lama dokter datang lega rasanya.  Setelah diperiksa, Pastor disuntik dan diberi obat.  Ada perkembangan.  Syukurlah.  Kami melanjutkan acara santap malam bersama tanpa Pastor.  Setelah selesai makan kami latihan menyanyi untuk besok pagi Misa di Long Yin 2 jam dari Long Bia. 
Minggu pagi pukul 8.00 kami bersiap-siap ke Long Yin dengan 5 perahu.  Karena saya tidak siap dengan pakaian tahan air, maka saya dipinjami sarung pak Urbanus, apa boleh buat pakai saja daripada basah.  Perahu yang saya tumpangi berangkat pertama kali dan lajunya pelan-pelan sehingga kami disalip 4 perahu yang lain.  Saya nikmati indahnya alam di hulu, memang sungguh alami dan asli di kanan kiri sungai, masih ada burung langka yang bulunya hitam dan paruhnya gede berwarna kuning, koak….koak….suaranya.  Sambil me-nikmati alam saya melihat jiram-jiram yaitu gelombang kecil-kecil tapi arusnya deras, membahayakan kalau perahu tidak seimbang karena harus melawan arus.  Mungkin perahu yang saya tumpangi ini merasa berat karena penumpang-nya gendhut-gendhut, saya agak cemas sampai gak ya.  Sampai di sebuah muara ternyata kami juga dicemaskan dan ditunggu oleh saudara-saudara yang lain sambil anak-anak main air karena airnya tenang dan bening, mengapa belum sampai? Jangan-jangan karam di tengah sungai, pikir mereka.   Be-gitu melihat kami datang mereka bersorak kegirangan. Kita ber-istirahat sejenak di situ sambil minum dan snack.   Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Long Yin yang tinggal 10 menit sampai, akhirnya sampai di tempat yang dituju, ada dermaga kecil kami naik dan membersihkan kaki di rumah salah satu umat.  Di Long Yin hanya ada 3 KK, biarlah mereka menikmati paska bersama umat yang lain kata Pastor. Setelah isti-rahat beberapa saat kami langsung menuju Puskesmas untuk Misa di sana.  Misa diiringi dengan lagu-lagu ala Manggarai oleh anak-anak muda dari kamp dengan gitar, bagus dan gembira, sehingga dapat menghibur umat di sana, kebetulan ada baptis-an anak.  Setelah Misa kami kembali ke rumah umat yang tadi dan ma-kan bersama.  Kami dimasakkan ba-bi dan dari Long Bia juga sudah membawa nasi bungkus yang dibuat oleh ibu-ibu yang lembur sampai pagi di pastoran.  Setelah makan kami diberi kesempatan oleh Pastor sampai pukul 15.00 kami pulang.  Saya ikut main air dengan anak-anak, mereka berenang.  Sua-sana gembira menyelimuti mereka dari yang anak sampai yang tua.  Indahnya alam di sini!  Pukul 15.00 kami pulang, perahu yang saya tumpangi tadi pagi sudah diganti yang lain yang lebih laju.  Seperti biasanya kalau pulang kami disiram air oleh umat di sana sebagai tanda persaudaraan dan kita harus membalasnya sebagai jawaban atas kasih mereka, itulah tradisi di sana.  Pukul 17.00 kami sudah sampai di Long Bia, kalau pulang cepat karena tidak melawan arus bahkan didorong arus.  Kami mampir di rumah Pak Urbanus yang persis di atas perhentian perahu, istirahat sebentar dan pukul 18.00 kami akan ikut ibadat pemberkatan rumah Bapak Candra kakak Odi ketua mudika paroki Katedral Tanjung Selor.  Rumahnya besar konon katanya rumah itu angker tidak ada yang berani membeli sampai pada japuk kayunya.  Tapi Bapak Candra sebagai orang Katolik berani membelinya.  Dan memang waktu saya masuk rasanya singup kalau bahasa jawa, tapi saya diam tapi ternyata Pastor Jay melihat sesuatu di belakang rumah ketika memerciki oo….berarti sama dengan perkiraan saya.  Salut dengan Bapak Candra hal ini merupakan kesaksian iman bagi masyarakat di sekitarnya.  Semoga usahanya lancar.
Senin pagi, kami sarapan pagi di rumah ibu Saleh dan  pukul 09.30 saya pulang bersama Pastor Jay dengan naik perahu Bapak Candra yang terbuka namun lebih cepat 3 jam lumayan.  Kami dibekali minum oleh ibu Saleh, perjalanan nyaman karena udara tidak panas dan tidak hujan, meski kadang-kadang gerimis. Pukul 12.00 sampai di Mara I, Pastor Jay turun di situ dengan aman, daag….Pastor sehat ya!  Saya masih melanjutkan perjalanan.  Pukul 13.00 kami sudah sampai di Tanjung dengan barang-barang bawaan dari umat berupa beras, labu, pisang.  Bapak Candra membantu membawakan barang-barang ke taxi, lalu kami berpisah dan saya langsung menuju ke jalan Manggis 3, sampai di rumah sepi saya bawa barang-barang satu per satu karena berat.  Hah….lega rasanya!  Terima kasih Tuhan, Engkau begitu baik.  Engkau memberikan pengalaman padaku yang indah dan penuh risiko, namun Engkau melindungi dan menaungiku dengan kepak sayap-Mu sehingga aku aman tak kekurangan suatupun. 

DEUS MEUS ET OMNIA!
Sr.M.Clarine, OSF


Wednesday, June 1, 2011

June 01, 2011

KATEKESE AIR: SARANA PENYUCIAN, KEHIDUPAN DAN KEMAJUAN Mencermati Pewartaan di Kalimantan Timur


Pulau Kalimantan ada-lah pulau sungai atau pulau air. Air melimpah di sungai-sungai di ham-pir seluruh pulau Kali-mantan, bahkan hujan pun turun, tidak menge-nal musim penghujan a-tau kemarau. Air men-jadi sumber penghidup-an, sumber kebudayaan dan sumber kemajuan. Sungai menjadi jalan masuk ke pedalaman dan menghubungkan dengan dunia luar melalui laut.
Pemandangan senja di Pantai Tarakan
Ketika tiba di Tarakan pada hari Selasa, tgl. 23 Mei 2011, Rm. Suharyanto menjemputku di Bandara. Setelah melepas lelah sejenak dan makan siang, perjalanan dilanjutkan dengan Speedboad ke Tanjung Selor selama kurang lebih 1,5 jam. Tiba di Paroki Tanjung Selor, kami disambut oleh Rm. Edy Wiyanto dan Mas Handoko. Kami diberitahu bahwa baru saja terjadi banjir di Tanjugselor. Air meluap sampai ke jalan dan menghanyutkan ikan yang ada di dekat pastoran Tanjung Selor yang siap panen.
 Paroki Tanjung Selor terdiri dari 2000 an umat yang tersebar dalam 9 stasi, 6 di antaranya mayoritas orang Flores yang bertransmigrasi ke Kalimantan. Mereka bekerja di perkebunan sawit. Stasi terjauh berjarak sekitar 50 km dari pusat paroki. Jalan menuju ke stasi ini sudah beraspal tetapi di beberapa bagian rusak karena kendaraan berat yang mengangkut sawit. Paroki Tanjung Selor atau Katedral sedang membangun Gereja Katedral yang cukup megah dengan daya tampung sekitar 1500 umat. Saat ini pembangunan sedang dalam taraf finishing. Kendati demikian, pada waktu tahbisan imam, sudah digunakan. Sementara itu untuk misa harian dan mingguan masih menggunakan kapel kecil, bekas pastoran.
Paroki Katedral dilayani oleh Rm. Andita, MSF yang menggantikan Rm. Juned dan Rm. Edy Wiyanto yang merangkap sebagai Ketua Komisi Kepemudaan dan Ketua Komisi Komunikasi Sosial serta membantu memulai Seminari Menengah di Tarakan. Saat ini sudah ada 16 calon, 6 orang untuk KPA dan 10 orang untuk Lulusan SMP. Mgr. Harjosusanto, MSF menegaskan bahwa 5 orang pun akan tetap dimulai. Untuk memulai Seminari, Bapa Uskup menugaskan Rm. Yulius yang semula bertugas di Paroki Mansalong menjadi Direktur dan berpindah tugas dari Mansalong ke Tarakan.
Rm. Suharyanto ditugas-kan untuk menjadi Pas-tor Paroki di Mansalong bersama Rm. Wahyu, Pr yang sudah 6 bulan bertugas di sana. Rm. Wahyu adalah imam diosesan Bandung. Paroki Mansalong sudah berdiri sejak kurang lebih 20 tahun, terdiri dari 4000-an jiwa tersebar dalam 22 stasi di sepanjang Sungai Sesua. Dan dengan musim yang tidak mengenal kemarau maupun penghujan, air hujan menjadi salah satu sumber untuk mengatur kehidupan. Air hujan dimanfaatkan untuk pertanian dan penghidupan seperti mandi, membudidayakan ikan dan lain-lain.

Air sebagai Sarana Kesucian
Kekayaan alam, budaya dan kearifan lokal suku dayak yang berhubungan dengan air menjadi lahan yang mahaluas untuk ditimba dan menjadi sumber pewartaan. Kekayaan budaya yang berhubungan dengan air bisa menjadi pintu masuk pada katekese. Salah satu budaya Dayak adalah sistem pengadilan adat, misalnya untuk kasus pencurian, perselingkuhan, pembunuhan, dll. Kasus-kasus seperti itu dapat diselesaikan secara adat. Di dalam adat Dayak, ada semacam pengadilan tingkat rendah dan tinggi. Pihak pemerintah pun menyerahkan beberapa kasus secara adat. Budaya lain yang bisa disebut antar lain Purut untuk pernikahan, yaitu semacam belis untuk mas kawin dari seorang calon mempelai laki-laki yang mesti diserahkan kepada pihak mempelai perempuan. Harganya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Istilah yang digunakan adalah tempayan tetapi bisa berupa barang-barang untuk mesin potong, HP, mesin cuci, dll. Budaya lain lagi adalah Dolob. Tradisi ini berfungsi untuk membuktikan seseorang benar atau tidak dalam suatu perkara. Budaya yang hampir sama tujuannya adalah Air Mendidih. Ada sumber lain yang mengatakan bahwa tradisi ini bukan asli Dayak tetapi dari Timur yang diadopsi oleh Dayak.
Tradisi Air Mendidih dimaksudkan untuk mengadili orang yang berselisih dengan menaruh tangan di atas air mendidih. Dua orang yang saling menuduh dihadapkan pada panci besar yang diisi air. Kemudian panci itu dipanasi sampai mendidih. Sang Pemangku Adat akan mendoakan air itu dan mengundang para arwah agar kebenaran ditegakkan.  Kemudian kedua tangan orang yang saling menuduh misalnya mencuri mengangkat tangannya di atas air yang mendidih. Biasanya orang yang tidak bersalah tidak mengalami panas sedangkan orang yang bersalah, air mendidih itu seakan-akan menggapai dan mau menghancurkan tangan tersebut. Orang yang bersalah akan mengalami luka panas terhadap tangannya dan tidak tahan di atas asap yang panas. Sementara yang tidak bersalah tenang-tenang saja.

Tradisi Dolob adalah tradisi menyelam di sungai dalam upacara khusus, di mana orang yang bersalah tidak akan tahan dan segera keluar dari air, sementara orang yang tidak bersalah bisa bertahan, bahkan berjam-jam. Belum lama ini tradisi Dolob terjadi atas kasus perselingkuhan. Pernah juga ada Dolob atas pembunuhan. Dalam kasus itu, ada 5 orang tertuduh yang menembak temannya sendiri waktu berburu di hutan. Tetapi kelima orang tersebut

sepakat untuk tidak mengatakan siapa yang menembak orang tersebut. Kesepakatan itu mereka wujudkan dengan membelah batu. Selama batu ini tidak menjadi utuh kembali mereka tidak akan membuka rahasia mereka. Bukti-bukti yang dikumpulkan polisi pun tidak cukup untuk menjerat mereka. Keluarga korban minta Dolob untuk mencari pelaku.
Sebelum Dolob dilakukan, mereka sudah mengadakan kesepakatan denda atau sanksi yang harus dipenuhi oleh pihak yang kalah seperti membayar sejumlah uang, menyediakan barang-barang yang diinginkan oleh korban, dll. Biasanya setelah Dolob juga tidak ada dendam di antara mereka. Artinya Dolob adalah jalan terakhir untuk menyelesaikan persoalan adat dan membangun hidup baru, tanpa rasa dendam dan keinginan membalas. Setelah diadakan kesepakatan tertulis dan disaksikan oleh orang-orang yang berkompeten dalam adat Dayak, mereka mempersilakan dukun untuk mengadakan doa khusus memanggil Tuhan yang mereka sebut Mangun serta para arwah dan orang-orang yang sudah meninggal untuk ‘merestui’ usaha mereka menegakkan keadilan dan kebenaran. Mereka memanggil dewa dan arwah penguasa air. Setelah doa khusus, dukun memberi aba-aba agar kedua belah pihak menyelam. Penyelaman merupakan bukti bahwa yang salah harus menjalani hukumannya. Setelah beberapa saat menyelam, salah satu dari kelima orang yang dituduh melakukan penembakan keluar dari air dan dia dinyatakan bersalah karena tidak tahan berada di dalam air. Menurut kesaksian orang-orang Katolik yang ada di Mansalong, kendati orang yang bersalah itu ahli menyelam, dia tidak akan tahan dan pasti kalah oleh orang yang benar. Orang yang benar bahkan yang tidak tahu cara menyelam pun bisa bertahan. Seakan ada jarak antara hidungnya dengan air di dalam air sehingga dia bisa bernafas dengan lancar saja.
Acara seperti itu digelar di sungai dan disaksikan oleh seluruh warga yang ada di pinggir-pinggir sungai bahkan Rm. Wahyu pun sempat mengabadikan peristiwa ini dengan handy cam – nya ketika ada acara Dolob untuk kasus perselingkuhan antara seorang bapak melawan keponakannya sendiri. Bapak ini seorang yang punya ilmu tinggi menurut suku Dayak. Semula akan diselesaikan dengan pembunuhan karena bapak ini berselingkuh dengan isteri keponakannya. Namun karena bapak ini memiliki ilmu tersebut, pihak keponakan merasa bahwa pasti kalah. Oleh karena itu dia minta untuk melakukan Dolob. Dalam Dolob semua ilmu tidak berguna. Akhirnya bapak ini kalah dalam Dolob dan dia harus membayar semua hal yang telah disepakati sebelum melakukan Dolob.
Air menjadi alat untuk memastikan kebenaran dan keadilan. Air menjadi tanda orang diselamatkan dari kesalahan dan dibawa kepada hidup baru sebab terjadi relasi baru ketika orang terbukti secara meyakinkan bahwa yang salah mesti memenuhi apa yang perlu untuk membangun hidup baru. Kita bisa mengingat sejenak pemahaman bagaimana Allah menggunakan air untuk tahap demi tahap memperkenalkan keselamatan yang datang daripadaNya kepada bangsa Israel. Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel diselamatkan oleh Allah melalui air laut Merah yang dikeringkan (Kitab Keluaran). Mereka mengalami bahwa Allah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir melalui air Laut Merah. Yesus menggunakan air sungai Yordan untuk membaptis, bahkan diriNya meminta Yohanes Pembaptis untuk membaptis. Yesus membenamkan diri di sungai Yordan dan ketika keluar dari sungai Yordan terdengar suara dari surga: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan” (Mat 3:17). Yesus menyucikan air sungai Yordan sebagai sarana keselamatan. Ia membenamkan diri dalam sungai Yordan dan memberikan hidup baru. Demikian pula ketika sida-sida dibaptis oleh Filipus. Dia pun menggunakan air sungai untuk membaptis sida-sida itu dengan membenamkan diri di sungai setelah mengadakan pembacaan sabda Tuhan (bdk. Kis 8:26-40)).  Air menjadi sarana penyucian dan memberikan hidup baru kepada orang yang percaya kepada Kristus.
Mungkinkah air yang menjadi sarana penyucian dalam budaya Dayak di Kalimantan menjadi sarana katekese untuk melahirkan kehidupan baru, hidup baru dalam Kristus, mengingat budaya ini telah mengakar dalam mentalitas suku Dayak.
Air sebagai Sarana Kehidupan
Stasi-stasi berkembang di sepanjang sungai. Air hujan menjadi sumber yang menggerakkan kehidupan. Kebudayaan berkembang dengan berorientasi pada air.
Paroki Tarakan sedikit lain, karena paroki yang umatnya lebih dari 9.000 jiwa ini merupakan pulau tersendiri dan dapat disebut pulau minyak. Air yang digunakan untuk menjalankan kehidupan sebagian besar didapat dari hujan. Air tanah sudah tercampur dengan minyak. Di ladang minyak terdapat pompa-pompa minyak yang siang malam tiada hentinya memompa minyak dari perut bumi. Dan itu sudah berlangsung sejak jaman Belanda.
Air sungai telah menjadi sumber kehidupan bagi orang Dayak. Kehidupan desa-desa dibangun di sepanjang sungai.
Kelimpahan air di Pulau Kalimantan telah membuat suku-suku yang hidup di dalamnya mengandalkan kekuatan pada alam. Alam telah menyediakan segala keperluan untuk hidup. Budaya peramu telah menjadi bagian tak terpisahkan bagi suku-suku Dayak. Setiap desa memiliki beberapa hektar hutan yang digarap dengan sistem meramu. Satu bagian ditanami sayur mayur, lalu pindah ke bagian lain tanaman ketela pohon yang diolah menjadi elui, makanan pokok suku Dayak. Cara pengolahan ketela pohon menjadi elui adalah pertama-tama memarut ketelah pohon; dilanjutkan dengan memeras hasil parutan ketela tersebut dan diendapkan. Endapan itulah yang diambil untuk dijadikan elui. Biasanya elui dikeringkan dan kalau diperlukan untuk dihidangkan, tinggal menambahkan air panas.
Selain mengolah ketela pohon sebagai makanan pokok, suku-suku Daya juga mencari madu hutan yang terdapat pada pohon madu atau pohon raja. Pohon madu dikelola oleh kepala desa dan diperuntukkan bagi kesejahteraan seluruh desa. Setiap pohon madu bisa menghasilkan madu hutan sebanyak 50-100 liter. Pohon madu bisa mencapai ketinggian 50 meter dan batangnya lurus bahkan terlihat licin sehingga kelihatan sulit untuk dipanjat. Ternyata untuk menjadi pemanjat pohon madu, tidak bisa sembarang orang karena bukan sekedar memanjat melainkan juga menaksir apakah pohon itu menghasilkan madu atau tidak. Kalau ditaksir tidak akan mendapatkan madu 50 liter ke atas, pohon itu tidak akan dipanjat. Selain itu untuk memanjat pohon madu ada waktu khusus.
Selain pohon madu, di Kalimantan ada pohon tanaman keras yang sangat unik yakni kayu ulin. Kayu ini tumbuh liar di hutan dan mudah ditemukan bahkan di pekarangan dekat perumahan penduduk. Kayu ulin adalah bahan utama untuk  Pohon madu adalah pohon yang dilindungi oleh pemerintah. Di beberapa tempat yang telah ditebangi pohonnya untuk dijadikan kebun sawit, pohon madu tetap dibiarkan tumbuh dengan bebas. Karena itu di sepanjang jalan setelah Paroki Sekatak ke arah Malinau terbentang ladang luas yang hampir gundul karena disiapkan untuk tanaman sawit tetapi di sela-sela kegundulan itu terlihat pohon madu menjulang tinggi. Tampak kesepian tak ada tanaman lain yang ada di sekitarnya.
pondasi rumah panggung atau rumah panjang atau rumah adat. Rumah adat digunakan untuk pertemuan umum desa atau kalau di stasi untuk misa. Keunikan kayu ulin adalah makin kena air makin keras. Pepatah orang Kalimantan mengatakan bahwa kayu ulin akan tumbuh bila ditanam sekalipun sudah dipotong-potong. Itulah keunikan sekaligus kekuasan Tuhan. Rumah-rumah yang dibangun mesti dibangun di atas tanah karena menghindari air dan banjir. Tanah di Kalimantan adalah tanah yang selalu berair. Kayu ulin makin kena air makin kuat. Maka cocoklah kayu ulin menjadi pondasi yang kuat, bahkan digunakan untuk menutup saluran air di sepanjang gorong-gorong di jalan raya. Kalau menginjak kayu ulin terasa sekali kekuatannya.
Keunikan lain yang dilakukan oleh suku Dayak adalah mencari gaharu. Gaharu adalah sejenis pohon tanaman keras yang tumbuh di hutan bahkan juga di pekarangan rumah. Dalam usia tertentu pohon itu bisa mengeluarkan getah yang sangat harum dan getah itu menjadi bahan utama pembuat kosmetik. Namun tidak setiap pohon gaharu bisa menghasilkan getah dengan tingkat kerahuman yang sama. Ada beberapa tingkat kualitas gaharu. Menurut pasaran saat ini, harga satu kilo gaharu bisa  

juta. Itu yang berkualitas A, sedangkan yang berkualitas lain di bawahnya. Kalau sudah mencari gaharu, orang Dayak bisa berbulan-bulan berada di hutan. Modal yang dibawa adalah modal yang seringkali hutang uang pada bank. Mereka belum akan pulang kalau belum mendapat gaharu atau kehabisan bekal. Usaha pencarian gaharu ini dapat diibaratkan gambling. Tidak ada kepastian kapan dapat dan berapa yang akan didapat, bahkan kemungkinan juga tidak mendapatkan.
Dengan maraknya pengubahan hutan dan hutan olahan suku menjadi kebun sawit, makin marak pula perubahan gaya hidup orang Dayak. Ada dua sisi perubahan yang cukup mencolok yakni yang pertama adalah hidup dalam mimpi dan yang kedua adalah kerusakan lingkungan hidup.
Yang pertama berkaitan dengan mimpi. Orang-orang suku Dayak kurang mendapatkan sosialisasi mengenai pengubahan hutan olahan menjadi kebun sawit. Biasanya dalam sosialisasi mereka diiming-imingi akan mendapatkan satu juta setiap bulan. Hal itu bisa terjadi karena dua alasan: mereka mendapatkan hak sewa atas hutan oleh perusahan dan mendapatkan gaji karena mereka akan ditampung bekerja di perusahaan sawit. Namun perubahan itu tidak disertai dengan landasan mental yang kuat.  Penggunaan uang yang begitu besar dalam waktu yang singkat membuat mereka
Ada semacam schok culture. Belum lagi ditambah dengan etos kerja. Sebagai peramu, mentalitas kerja dengan waktu yang ditetapkan, kualitas yang dikontrol dan ada target menjadi sesuatu yang sangat asing bagi mereka. Bisa dibandingkan dengan model pencarian gaharu misalnya. Tidak bisa mencari gaharu ditarget, apalagi dalam waktu tertentu. Hal-hal ini membuat mimpi mereka untuk hidup semakin baik menjadi kacau karena tidak ada landasan yang kuat pada ritme hidup dan mentalitas budaya harian. Akibatnya banyak orang lokal yang semula dijanjikan pekerja perusahaan adalah ¾ orang lokal menjadi terbalik: ¾ orang luar yang mampu memenuhi tuntutan kerja dan bisa ditarget dengan kualitas yang stabil. Tetapi tidak ada kata kembali ke asal karena hutan sudah gundul dan sungai mulai keruh karena longsoran tanah akibat peresapan oleh tanaman makin berkurang.
Bercermin pada pengalaman orang Israel ketika berhadapan dengan alam, mereka pun menghadapi orang-orang asli yang memiliki dewa kesuburan. Dalam Perjanjian Lama banyak kisah yang mengetengahkan perjuangan untuk membela kehadiran Allah dalam memberi kesuburan. Kisah-kisah perumpamaan yang digunakan oleh Yesus selalu mengacu pada penghormatan kepada alam. Kisah kebun anggur, kisah pohon ara yang tidak berbuah, kisah para rasul yang diutus menjadi penjalan manusia dan seterusnya.
Mungkinkah mengembangkan ekologi pastoral di Kalimantan dengan mengambil budaya air sebagai entry point: budaya kehidupan bersumber pada air sang pemberi hidup.
Air sebagai Sarana Kemajuan
Hari itu tanggal 26 Mei 2011 jam 08.00 pagi kami mulai mengadakan turne ke Sumentobol, salah satu stasi dari Mansalong. Diperkirakan waktu perjalan adalah 3 jam dengan perahu tempel. Rombongan berjumlah 10 orang: Rm. Wahyu, Rm. Suharyanto, Rm Edy, Rm, Riana, Bp. Sidung, Bp. Mosa, Bp. Juru Batu, Bp. Motorist, Frater, Mas Handaka, dan Primus (anak 5 tahun yang sangat berani). Perjalanan menyusur sungai ke hulu melewati beberapa stasi yang dapat dilihat dari tengah sungai yang lebarnya sekitar 50-100 meter di bagian hilir dan 30-50 meter di bagian hulu. Kedalamannya sungai sekitar 10 meter. Sang Juru Batu menjadi pengarah bagi motoris untuk memilih jalur yang tidak berbatu dan cukup dalam untuk bisa dilalui oleh perahu. Kalau lengah sedikit atau tidak menuruti pengarahan Juru Batu perahu bisa menabrak batu atau pohon yang tumbang. Di beberapa bagian sungai, arus terasa deras dan gelombang cukup tinggi, kendati tidak bisa dikatakan setinggi di laut. Pada sisi arus deras, rasanya seperti mengikuti arung jeram. Goyangan sesekali terjadi mengikuti arus air yang seakan memandu perahu untuk mengikuti jalur yang semestinya. Sesekali pula air menerpa wajah kami saat berbenturan dengan badan perahu.
Kalau pandangan diarahkan ke pinggiran sungai, terlihat pandangan yang asri, hijau dan segar. Sejauh mata memandang ke arah hulu terbentang kelokan aliran sungai berpagar batu padas yang basah oleh embun dan air terjun kecil serta lumut yang menghijau. Ke atas sedikit terlihat hijau pepohonan. Beberapa pohon tumbang karena terkikis oleh airan sungai yang cukup tenang tetapi mengalirkan air terus menerus sehingga menggerus tanah di sekitarnya. Lengkungan pohon menjulang ke tengah sungai dengan dedahanan yang menjulang menggapai sinar matahari, membuat lukisan alamiah asli bentukan alami. Terlihat pula beberapa pondok rumah panggung dari kejauhan di tengah kerimbunan pohon hijau, menyatu dengan alami. Tak terlihat cerobong asap atau pun asap dapur. Semua itu memberi rasa dan kesan bersih terhadap udara yang kami hirup. Percikan air yang terbelah oleh perahu memberi musik alami nan indah ditambah suara deru motor yang mendorong kami maju ke hulu.
Warna air kecoklatan menandakan bahwa sungai itu berhulu di daerah Malaysia yang hutannya sudah diubah menjadi hutan sawit sehingga sebagian tanahnya mudah terbawa arus. Konon kabarnya tanaman sawit tidak bisa menyimpan air bahkan menyerap air banyak dan menyebabkan banjir pada musim penghujan. Menurut kesaksian beberapa orang, belakangan ini air makin coklat karena kandungan tanah makin tinggi. Sementara air yang berasal dari sungi di bagian Indonesia, masih cukup jernih. Ini kelihatan dari pertempuan dua sungai di sekitar hulu; kelihatan sekali beda warnanya: coklat dan jernih kehijauan.
Kisah itu memperlihatkan bahwa air menjadi pintu gerbang yang menghubungkan suku-suku yang tinggal di daerah aliran sungai dengan dunia luar. Aliran agama pun bergerak mengikuti aliran sungai.
Satu hal yang unik di Tarakan adalah penangkaran buaya. Awalnya penangkaran itu berasal dari seorang peternak ayam yang kebingungan membuang ayam-ayam yang mati. Mau dibuang ke kebun bisa menggangg lingkungan, mau di sungai mengotori air. Akhirnya terpikir untuk menjadikan ayam-ayam mati itu sebagai makanan buaya. Lama-kelamaan buayanya makin berkembang dan akhirnya harus pindah tempat yang lebih luas. Kini di tempat yang baru terdapat lebih dari 10.000 buaya. Setiap bulan Agustus sang pemiliki peternakan itu memanen kulit buaya untuk dijual ke luar negeri, sedangkan dagingnya disimpan dan dijual bilamana ada yang membutuhkan untuk makanan. Lagi-lagi air menjadi faktor utama dalam penangkaran budidaya buaya yang menghasilkan yang milyaran rupiah.
Mungkinkah air yang telah menjadi sarana kemajuan di Kalimantan baik dalam industri minyak maupun ternah, juga mampu menjadi sarana kemajuan penyebaran iman. Lebih-lebih bila hal ini dikaitkan dengan budaya Dayak?
Pastor Riana Prapdi, Pr
Vikjen Keuskupan Agung Semarang