Monday, June 6, 2011

JIRAM-JIRAM YANG MENDEBARKAN Di Long Bia, Paroki Sungai Kayan Mara I


Pada tanggal 10 Maret 2011 siang saya di-sms Pastor Tina Kusu-ma,MSF untuk memberi ibadat Ming-gu Palma, Kamis Putih, dan Jumat Agung di Long Bia, saya jawab:”Mana yang duluan itu yang saya amini”. 
      Saya berangkat ke Long Bia dengan diantar oleh Sr.Floriana,OSF naik sepeda motor menuju pelabuh-an untuk pesan tiket taxi air, saat itu yang ada taxi “Karya Baru” yang terkenal lambat kata para penum-pang.  Taxi berangkat pukul 09.00 dan sampai di Long Bia pukul 16.00 ketika itu saya berpikir kok para penumpang sudah habis, apakah saya kebablasan? Lalu saya teriak kepada bapak yang angkut-angkut barang: ”Pak, saya turun di Long Bia”, lalu kata bapak itu ya masih satu kampung lagi, kemudian saya di-telpon ibu Saleh:’Suster, sudah sampai dimana?”, saya katakan: ”Sampai di Long Hasan”, ibu itu ter-tawa sambil berkata:”Bukan Long Hasan suster, tapi long lasan”, oh ya long lasan  karena tidak ada tulisan saya hanya tanya penumpang sebelah saya karena deru mesin yang keras saya jadi salah dengar kali.  Sekitar seperempat jam sampailah di der-maga Long Bia yang besar dibanding-kan dengan long-long yang lain. Wah….lega rasanya sambil ngeluk boyok, di situ ada tempat duduk yang panjang dan peneduh, cukup luas bisa untuk parkir tukang ojek. Tak berapa lama saya lihat ibu Saleh datang dengan sepeda motornya.  Se-perti biasanya ibu Saleh senyum dan ramah menyapa saya dan membantu membawa barang-barang ke motor lalu kami menuju rumah ibu Saleh yang tak jauh dari dermaga.  Saya disiapkan makan siang dengan di-temani oleh Bapak Ketua Stasi, Ba-pak Urbanus namanya.  Kami ber-bincang-bincang lama, baru kemudian saya dibonceng ibu saleh menuju gereja dan pastoran.  Saya diajak ma-suk pastoran dan dibawa ke kamar yang telah disediakan, wow…. pastoran bersih dan rapi lantai sudah keramik.  Hari pertama saya diteman-i oleh 1 orang analis mbak Yuli, dan 2 orang bidan teman mbak Yuli.Hari kedua 2 orang bidan yang beragama Protestan pindah tempat kost dan mbak Yuli setia menemani saya, karena mbak Yuli tidak punya teman di kamar maka kami berdua satu kamar menempati kamar pastor. 
Minggu Palma dirayakan di depan gereja dengan dibantu oleh anak-anak muda dari stasi dan dari kamp kami atur meja dan daun palem yang dikumpulkan oleh anak kecil Olin namanya dan mbak Yuli, yang hanya ada 1 pohon di depan pastoran, si Olin ini dengan teliti-nya seperti gaya khas anak-anak menghitung dengan suara anak yang lucu, geli saya mendengarnya. Dia menghitung sesuai dengan jumlah umat sekitar 54.  Syukurlah men-cukupi.  Ibadat berjalan dengan lan-car dan khidmat. 
Kamis Putih seperti dalam buku panduan sesuai dengan urut-urutannya ada pembasuhan kaki.  Dalam renungan saya selingi dengan lagu dari HP yang judulnya “Kedip-kedipan” yang dinyanyikan oleh Koes Ploes sekitar tahun 70-an yang isinya tentang bagaimana proses pelanggaran cinta kasih dilakukan sehingga terjadilah perselisihan.  Proses pertama dari mata kedip-kedipan, lalu dilanjutkan dengan towel-towelan, senggol-senggolan, plotot-plototan, dan akhirnya tonjok-tonjokan, sambil mendengarkan lagu itu saya peragakan dengan gerak tubuh, hu….mereka terpingkal-pingkal.  Saya tidak tahu apakah mengena atau tidak, tapi yang kulihat anak-anak muda dari kamp pada minta lagu itu dikirim ke hp mereka bahkan ketika ibu-ibu pada masak kata tonjok-tonjokan sering keluar untuk bahan tertawa supaya tidak tegang, dan ada satu anak kecil namanya Fendy dari kamp kemana-mana membawa hpnya dengan lagu itu, geli rasanya melihat anak itu dengan gayanya yang sok gentlemen.
Jumat Agung, kami mengadakan ibadat jalan salib dengan memasang gambar yang ditancapkan pada sebilah bambu dan dipasang pada jalan umum, tak heran kalau Bapak ketua stasi harus minta ijin tertulis kepada polisi setempat. Bapak Ndus dari kamp minta ijin pada saya untuk menyanyikan lagu ratapan pada beberapa perhentian , bagus, syahdu, sedih, bahkan ada umat yang menangis meneteskan air mata mendengar lagu itu, sayangnya dalam bahasa daerah Manggarai saya tidak tahu artinya hanya nada lagunya memang sendu mengundang orang untuk bersedih.  Sepanjang jalan salib kami dilihat dari jauh oleh umat Protestan dan muslim bahkan bapak polisi yang bagi mereka tidak mengenal ibadat jalan salib, saya lihat mereka keheran-heranan apalagi ada suster berbaju putih karena biasanya dipimpin oleh Pastor, frater, suster tapi tidak berbaju putih.  Jalan salib pada perhentian ke-12 persis di atas bukit di atas pastoran rasanya benar-benar golgota kami semua sujud di tanah dan diakhiri di gereja.  Hari ini kami semua kompak berpuasa tidak makan dan tidak minum bagi yang dewasa bahkan ibu-ibu yang memasak tidak berani mencicipi bumbu yang digoreng, sayalah yang mencicipi biar tahu rasanya, karena selesai jalan salib pada sore hari kami berbuka puasa bersama.  Wow….betapa indahnya hidup sebagai saudara.
Sabtu pagi karena tugas saya sudah selesai maka ketika banyak keluhan dari umat yang sering didatangi oleh mantan ketua stasi yang telah dipanggil Tuhan dan sering muncul dalam mimpi kepada orang-orang terdekat dan juga pada siang dan malam hari saya sering diketuk kaca jendela saya di pastoran, maka kami sepakat melihat makamnya bersama istri dan anaknya.  Waktu berangkat dari rumah ibu Saleh saya diboncengkan anak muda namanya Mika anak Pak Urbanus, eh….dilewatkan jalan yang berlumpur sehingga ban motor bisa berjoget kanan kiri, lalu saya minta turun saja, pikir saya kalau jatuh tidak ada dokter tulang di sini, cilaka dua belas!  Saya jalan kaki tapi apa yang terjadi?  Ketika menginjak tanah kaki saya bisa berputar-putar seperti menari tapi apa boleh buat maju kena mundur kena, saya lanjutkan saja sampai sandal berat sekali karena menggondol tanah liat, bukan main! 
Malamnya kami menantikan perayaan malam paska bersama Pastor Jay.  Sebelum Misa Pastor minta saya untuk membagikan komuni dan mengangkat beberapa lagu, saya tidak berpikir kalau Pastor agak sakit. Saya iyakan saja. Ternyata selama Misa Pastor duduk terus, saya mulai berpikir wah…jangan-jangan Pastor pingsan dalam pertengahan Misa.  Syukurlah Misa berjalan lancar, setelah Misa umat sudah bersiap-siap untuk santap malam bersama di pastoran.  Setelah semua siap saya lihat pastor kok gak ada, lalu saya tengok di kamarnya yang memakai ruang sakristi dan baru pertama ditempati.  Saya lihat pastor tidur pulas dan saya panggil-panggil kok diam saja, takut saya jangan-jangan sudah tidak bernyawa…lalu saya goyang-goyang tangannya tidak bereaksi, saya keluar dan bertemu dengan Bapak Anton, kemudian saya suruh panggil dokter Puskesmas.  Tak berapa lama dokter datang lega rasanya.  Setelah diperiksa, Pastor disuntik dan diberi obat.  Ada perkembangan.  Syukurlah.  Kami melanjutkan acara santap malam bersama tanpa Pastor.  Setelah selesai makan kami latihan menyanyi untuk besok pagi Misa di Long Yin 2 jam dari Long Bia. 
Minggu pagi pukul 8.00 kami bersiap-siap ke Long Yin dengan 5 perahu.  Karena saya tidak siap dengan pakaian tahan air, maka saya dipinjami sarung pak Urbanus, apa boleh buat pakai saja daripada basah.  Perahu yang saya tumpangi berangkat pertama kali dan lajunya pelan-pelan sehingga kami disalip 4 perahu yang lain.  Saya nikmati indahnya alam di hulu, memang sungguh alami dan asli di kanan kiri sungai, masih ada burung langka yang bulunya hitam dan paruhnya gede berwarna kuning, koak….koak….suaranya.  Sambil me-nikmati alam saya melihat jiram-jiram yaitu gelombang kecil-kecil tapi arusnya deras, membahayakan kalau perahu tidak seimbang karena harus melawan arus.  Mungkin perahu yang saya tumpangi ini merasa berat karena penumpang-nya gendhut-gendhut, saya agak cemas sampai gak ya.  Sampai di sebuah muara ternyata kami juga dicemaskan dan ditunggu oleh saudara-saudara yang lain sambil anak-anak main air karena airnya tenang dan bening, mengapa belum sampai? Jangan-jangan karam di tengah sungai, pikir mereka.   Be-gitu melihat kami datang mereka bersorak kegirangan. Kita ber-istirahat sejenak di situ sambil minum dan snack.   Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Long Yin yang tinggal 10 menit sampai, akhirnya sampai di tempat yang dituju, ada dermaga kecil kami naik dan membersihkan kaki di rumah salah satu umat.  Di Long Yin hanya ada 3 KK, biarlah mereka menikmati paska bersama umat yang lain kata Pastor. Setelah isti-rahat beberapa saat kami langsung menuju Puskesmas untuk Misa di sana.  Misa diiringi dengan lagu-lagu ala Manggarai oleh anak-anak muda dari kamp dengan gitar, bagus dan gembira, sehingga dapat menghibur umat di sana, kebetulan ada baptis-an anak.  Setelah Misa kami kembali ke rumah umat yang tadi dan ma-kan bersama.  Kami dimasakkan ba-bi dan dari Long Bia juga sudah membawa nasi bungkus yang dibuat oleh ibu-ibu yang lembur sampai pagi di pastoran.  Setelah makan kami diberi kesempatan oleh Pastor sampai pukul 15.00 kami pulang.  Saya ikut main air dengan anak-anak, mereka berenang.  Sua-sana gembira menyelimuti mereka dari yang anak sampai yang tua.  Indahnya alam di sini!  Pukul 15.00 kami pulang, perahu yang saya tumpangi tadi pagi sudah diganti yang lain yang lebih laju.  Seperti biasanya kalau pulang kami disiram air oleh umat di sana sebagai tanda persaudaraan dan kita harus membalasnya sebagai jawaban atas kasih mereka, itulah tradisi di sana.  Pukul 17.00 kami sudah sampai di Long Bia, kalau pulang cepat karena tidak melawan arus bahkan didorong arus.  Kami mampir di rumah Pak Urbanus yang persis di atas perhentian perahu, istirahat sebentar dan pukul 18.00 kami akan ikut ibadat pemberkatan rumah Bapak Candra kakak Odi ketua mudika paroki Katedral Tanjung Selor.  Rumahnya besar konon katanya rumah itu angker tidak ada yang berani membeli sampai pada japuk kayunya.  Tapi Bapak Candra sebagai orang Katolik berani membelinya.  Dan memang waktu saya masuk rasanya singup kalau bahasa jawa, tapi saya diam tapi ternyata Pastor Jay melihat sesuatu di belakang rumah ketika memerciki oo….berarti sama dengan perkiraan saya.  Salut dengan Bapak Candra hal ini merupakan kesaksian iman bagi masyarakat di sekitarnya.  Semoga usahanya lancar.
Senin pagi, kami sarapan pagi di rumah ibu Saleh dan  pukul 09.30 saya pulang bersama Pastor Jay dengan naik perahu Bapak Candra yang terbuka namun lebih cepat 3 jam lumayan.  Kami dibekali minum oleh ibu Saleh, perjalanan nyaman karena udara tidak panas dan tidak hujan, meski kadang-kadang gerimis. Pukul 12.00 sampai di Mara I, Pastor Jay turun di situ dengan aman, daag….Pastor sehat ya!  Saya masih melanjutkan perjalanan.  Pukul 13.00 kami sudah sampai di Tanjung dengan barang-barang bawaan dari umat berupa beras, labu, pisang.  Bapak Candra membantu membawakan barang-barang ke taxi, lalu kami berpisah dan saya langsung menuju ke jalan Manggis 3, sampai di rumah sepi saya bawa barang-barang satu per satu karena berat.  Hah….lega rasanya!  Terima kasih Tuhan, Engkau begitu baik.  Engkau memberikan pengalaman padaku yang indah dan penuh risiko, namun Engkau melindungi dan menaungiku dengan kepak sayap-Mu sehingga aku aman tak kekurangan suatupun. 

DEUS MEUS ET OMNIA!
Sr.M.Clarine, OSF


No comments:

Post a Comment