Wednesday, June 1, 2011

KATEKESE AIR: SARANA PENYUCIAN, KEHIDUPAN DAN KEMAJUAN Mencermati Pewartaan di Kalimantan Timur


Pulau Kalimantan ada-lah pulau sungai atau pulau air. Air melimpah di sungai-sungai di ham-pir seluruh pulau Kali-mantan, bahkan hujan pun turun, tidak menge-nal musim penghujan a-tau kemarau. Air men-jadi sumber penghidup-an, sumber kebudayaan dan sumber kemajuan. Sungai menjadi jalan masuk ke pedalaman dan menghubungkan dengan dunia luar melalui laut.
Pemandangan senja di Pantai Tarakan
Ketika tiba di Tarakan pada hari Selasa, tgl. 23 Mei 2011, Rm. Suharyanto menjemputku di Bandara. Setelah melepas lelah sejenak dan makan siang, perjalanan dilanjutkan dengan Speedboad ke Tanjung Selor selama kurang lebih 1,5 jam. Tiba di Paroki Tanjung Selor, kami disambut oleh Rm. Edy Wiyanto dan Mas Handoko. Kami diberitahu bahwa baru saja terjadi banjir di Tanjugselor. Air meluap sampai ke jalan dan menghanyutkan ikan yang ada di dekat pastoran Tanjung Selor yang siap panen.
 Paroki Tanjung Selor terdiri dari 2000 an umat yang tersebar dalam 9 stasi, 6 di antaranya mayoritas orang Flores yang bertransmigrasi ke Kalimantan. Mereka bekerja di perkebunan sawit. Stasi terjauh berjarak sekitar 50 km dari pusat paroki. Jalan menuju ke stasi ini sudah beraspal tetapi di beberapa bagian rusak karena kendaraan berat yang mengangkut sawit. Paroki Tanjung Selor atau Katedral sedang membangun Gereja Katedral yang cukup megah dengan daya tampung sekitar 1500 umat. Saat ini pembangunan sedang dalam taraf finishing. Kendati demikian, pada waktu tahbisan imam, sudah digunakan. Sementara itu untuk misa harian dan mingguan masih menggunakan kapel kecil, bekas pastoran.
Paroki Katedral dilayani oleh Rm. Andita, MSF yang menggantikan Rm. Juned dan Rm. Edy Wiyanto yang merangkap sebagai Ketua Komisi Kepemudaan dan Ketua Komisi Komunikasi Sosial serta membantu memulai Seminari Menengah di Tarakan. Saat ini sudah ada 16 calon, 6 orang untuk KPA dan 10 orang untuk Lulusan SMP. Mgr. Harjosusanto, MSF menegaskan bahwa 5 orang pun akan tetap dimulai. Untuk memulai Seminari, Bapa Uskup menugaskan Rm. Yulius yang semula bertugas di Paroki Mansalong menjadi Direktur dan berpindah tugas dari Mansalong ke Tarakan.
Rm. Suharyanto ditugas-kan untuk menjadi Pas-tor Paroki di Mansalong bersama Rm. Wahyu, Pr yang sudah 6 bulan bertugas di sana. Rm. Wahyu adalah imam diosesan Bandung. Paroki Mansalong sudah berdiri sejak kurang lebih 20 tahun, terdiri dari 4000-an jiwa tersebar dalam 22 stasi di sepanjang Sungai Sesua. Dan dengan musim yang tidak mengenal kemarau maupun penghujan, air hujan menjadi salah satu sumber untuk mengatur kehidupan. Air hujan dimanfaatkan untuk pertanian dan penghidupan seperti mandi, membudidayakan ikan dan lain-lain.

Air sebagai Sarana Kesucian
Kekayaan alam, budaya dan kearifan lokal suku dayak yang berhubungan dengan air menjadi lahan yang mahaluas untuk ditimba dan menjadi sumber pewartaan. Kekayaan budaya yang berhubungan dengan air bisa menjadi pintu masuk pada katekese. Salah satu budaya Dayak adalah sistem pengadilan adat, misalnya untuk kasus pencurian, perselingkuhan, pembunuhan, dll. Kasus-kasus seperti itu dapat diselesaikan secara adat. Di dalam adat Dayak, ada semacam pengadilan tingkat rendah dan tinggi. Pihak pemerintah pun menyerahkan beberapa kasus secara adat. Budaya lain yang bisa disebut antar lain Purut untuk pernikahan, yaitu semacam belis untuk mas kawin dari seorang calon mempelai laki-laki yang mesti diserahkan kepada pihak mempelai perempuan. Harganya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Istilah yang digunakan adalah tempayan tetapi bisa berupa barang-barang untuk mesin potong, HP, mesin cuci, dll. Budaya lain lagi adalah Dolob. Tradisi ini berfungsi untuk membuktikan seseorang benar atau tidak dalam suatu perkara. Budaya yang hampir sama tujuannya adalah Air Mendidih. Ada sumber lain yang mengatakan bahwa tradisi ini bukan asli Dayak tetapi dari Timur yang diadopsi oleh Dayak.
Tradisi Air Mendidih dimaksudkan untuk mengadili orang yang berselisih dengan menaruh tangan di atas air mendidih. Dua orang yang saling menuduh dihadapkan pada panci besar yang diisi air. Kemudian panci itu dipanasi sampai mendidih. Sang Pemangku Adat akan mendoakan air itu dan mengundang para arwah agar kebenaran ditegakkan.  Kemudian kedua tangan orang yang saling menuduh misalnya mencuri mengangkat tangannya di atas air yang mendidih. Biasanya orang yang tidak bersalah tidak mengalami panas sedangkan orang yang bersalah, air mendidih itu seakan-akan menggapai dan mau menghancurkan tangan tersebut. Orang yang bersalah akan mengalami luka panas terhadap tangannya dan tidak tahan di atas asap yang panas. Sementara yang tidak bersalah tenang-tenang saja.

Tradisi Dolob adalah tradisi menyelam di sungai dalam upacara khusus, di mana orang yang bersalah tidak akan tahan dan segera keluar dari air, sementara orang yang tidak bersalah bisa bertahan, bahkan berjam-jam. Belum lama ini tradisi Dolob terjadi atas kasus perselingkuhan. Pernah juga ada Dolob atas pembunuhan. Dalam kasus itu, ada 5 orang tertuduh yang menembak temannya sendiri waktu berburu di hutan. Tetapi kelima orang tersebut

sepakat untuk tidak mengatakan siapa yang menembak orang tersebut. Kesepakatan itu mereka wujudkan dengan membelah batu. Selama batu ini tidak menjadi utuh kembali mereka tidak akan membuka rahasia mereka. Bukti-bukti yang dikumpulkan polisi pun tidak cukup untuk menjerat mereka. Keluarga korban minta Dolob untuk mencari pelaku.
Sebelum Dolob dilakukan, mereka sudah mengadakan kesepakatan denda atau sanksi yang harus dipenuhi oleh pihak yang kalah seperti membayar sejumlah uang, menyediakan barang-barang yang diinginkan oleh korban, dll. Biasanya setelah Dolob juga tidak ada dendam di antara mereka. Artinya Dolob adalah jalan terakhir untuk menyelesaikan persoalan adat dan membangun hidup baru, tanpa rasa dendam dan keinginan membalas. Setelah diadakan kesepakatan tertulis dan disaksikan oleh orang-orang yang berkompeten dalam adat Dayak, mereka mempersilakan dukun untuk mengadakan doa khusus memanggil Tuhan yang mereka sebut Mangun serta para arwah dan orang-orang yang sudah meninggal untuk ‘merestui’ usaha mereka menegakkan keadilan dan kebenaran. Mereka memanggil dewa dan arwah penguasa air. Setelah doa khusus, dukun memberi aba-aba agar kedua belah pihak menyelam. Penyelaman merupakan bukti bahwa yang salah harus menjalani hukumannya. Setelah beberapa saat menyelam, salah satu dari kelima orang yang dituduh melakukan penembakan keluar dari air dan dia dinyatakan bersalah karena tidak tahan berada di dalam air. Menurut kesaksian orang-orang Katolik yang ada di Mansalong, kendati orang yang bersalah itu ahli menyelam, dia tidak akan tahan dan pasti kalah oleh orang yang benar. Orang yang benar bahkan yang tidak tahu cara menyelam pun bisa bertahan. Seakan ada jarak antara hidungnya dengan air di dalam air sehingga dia bisa bernafas dengan lancar saja.
Acara seperti itu digelar di sungai dan disaksikan oleh seluruh warga yang ada di pinggir-pinggir sungai bahkan Rm. Wahyu pun sempat mengabadikan peristiwa ini dengan handy cam – nya ketika ada acara Dolob untuk kasus perselingkuhan antara seorang bapak melawan keponakannya sendiri. Bapak ini seorang yang punya ilmu tinggi menurut suku Dayak. Semula akan diselesaikan dengan pembunuhan karena bapak ini berselingkuh dengan isteri keponakannya. Namun karena bapak ini memiliki ilmu tersebut, pihak keponakan merasa bahwa pasti kalah. Oleh karena itu dia minta untuk melakukan Dolob. Dalam Dolob semua ilmu tidak berguna. Akhirnya bapak ini kalah dalam Dolob dan dia harus membayar semua hal yang telah disepakati sebelum melakukan Dolob.
Air menjadi alat untuk memastikan kebenaran dan keadilan. Air menjadi tanda orang diselamatkan dari kesalahan dan dibawa kepada hidup baru sebab terjadi relasi baru ketika orang terbukti secara meyakinkan bahwa yang salah mesti memenuhi apa yang perlu untuk membangun hidup baru. Kita bisa mengingat sejenak pemahaman bagaimana Allah menggunakan air untuk tahap demi tahap memperkenalkan keselamatan yang datang daripadaNya kepada bangsa Israel. Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel diselamatkan oleh Allah melalui air laut Merah yang dikeringkan (Kitab Keluaran). Mereka mengalami bahwa Allah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir melalui air Laut Merah. Yesus menggunakan air sungai Yordan untuk membaptis, bahkan diriNya meminta Yohanes Pembaptis untuk membaptis. Yesus membenamkan diri di sungai Yordan dan ketika keluar dari sungai Yordan terdengar suara dari surga: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan” (Mat 3:17). Yesus menyucikan air sungai Yordan sebagai sarana keselamatan. Ia membenamkan diri dalam sungai Yordan dan memberikan hidup baru. Demikian pula ketika sida-sida dibaptis oleh Filipus. Dia pun menggunakan air sungai untuk membaptis sida-sida itu dengan membenamkan diri di sungai setelah mengadakan pembacaan sabda Tuhan (bdk. Kis 8:26-40)).  Air menjadi sarana penyucian dan memberikan hidup baru kepada orang yang percaya kepada Kristus.
Mungkinkah air yang menjadi sarana penyucian dalam budaya Dayak di Kalimantan menjadi sarana katekese untuk melahirkan kehidupan baru, hidup baru dalam Kristus, mengingat budaya ini telah mengakar dalam mentalitas suku Dayak.
Air sebagai Sarana Kehidupan
Stasi-stasi berkembang di sepanjang sungai. Air hujan menjadi sumber yang menggerakkan kehidupan. Kebudayaan berkembang dengan berorientasi pada air.
Paroki Tarakan sedikit lain, karena paroki yang umatnya lebih dari 9.000 jiwa ini merupakan pulau tersendiri dan dapat disebut pulau minyak. Air yang digunakan untuk menjalankan kehidupan sebagian besar didapat dari hujan. Air tanah sudah tercampur dengan minyak. Di ladang minyak terdapat pompa-pompa minyak yang siang malam tiada hentinya memompa minyak dari perut bumi. Dan itu sudah berlangsung sejak jaman Belanda.
Air sungai telah menjadi sumber kehidupan bagi orang Dayak. Kehidupan desa-desa dibangun di sepanjang sungai.
Kelimpahan air di Pulau Kalimantan telah membuat suku-suku yang hidup di dalamnya mengandalkan kekuatan pada alam. Alam telah menyediakan segala keperluan untuk hidup. Budaya peramu telah menjadi bagian tak terpisahkan bagi suku-suku Dayak. Setiap desa memiliki beberapa hektar hutan yang digarap dengan sistem meramu. Satu bagian ditanami sayur mayur, lalu pindah ke bagian lain tanaman ketela pohon yang diolah menjadi elui, makanan pokok suku Dayak. Cara pengolahan ketela pohon menjadi elui adalah pertama-tama memarut ketelah pohon; dilanjutkan dengan memeras hasil parutan ketela tersebut dan diendapkan. Endapan itulah yang diambil untuk dijadikan elui. Biasanya elui dikeringkan dan kalau diperlukan untuk dihidangkan, tinggal menambahkan air panas.
Selain mengolah ketela pohon sebagai makanan pokok, suku-suku Daya juga mencari madu hutan yang terdapat pada pohon madu atau pohon raja. Pohon madu dikelola oleh kepala desa dan diperuntukkan bagi kesejahteraan seluruh desa. Setiap pohon madu bisa menghasilkan madu hutan sebanyak 50-100 liter. Pohon madu bisa mencapai ketinggian 50 meter dan batangnya lurus bahkan terlihat licin sehingga kelihatan sulit untuk dipanjat. Ternyata untuk menjadi pemanjat pohon madu, tidak bisa sembarang orang karena bukan sekedar memanjat melainkan juga menaksir apakah pohon itu menghasilkan madu atau tidak. Kalau ditaksir tidak akan mendapatkan madu 50 liter ke atas, pohon itu tidak akan dipanjat. Selain itu untuk memanjat pohon madu ada waktu khusus.
Selain pohon madu, di Kalimantan ada pohon tanaman keras yang sangat unik yakni kayu ulin. Kayu ini tumbuh liar di hutan dan mudah ditemukan bahkan di pekarangan dekat perumahan penduduk. Kayu ulin adalah bahan utama untuk  Pohon madu adalah pohon yang dilindungi oleh pemerintah. Di beberapa tempat yang telah ditebangi pohonnya untuk dijadikan kebun sawit, pohon madu tetap dibiarkan tumbuh dengan bebas. Karena itu di sepanjang jalan setelah Paroki Sekatak ke arah Malinau terbentang ladang luas yang hampir gundul karena disiapkan untuk tanaman sawit tetapi di sela-sela kegundulan itu terlihat pohon madu menjulang tinggi. Tampak kesepian tak ada tanaman lain yang ada di sekitarnya.
pondasi rumah panggung atau rumah panjang atau rumah adat. Rumah adat digunakan untuk pertemuan umum desa atau kalau di stasi untuk misa. Keunikan kayu ulin adalah makin kena air makin keras. Pepatah orang Kalimantan mengatakan bahwa kayu ulin akan tumbuh bila ditanam sekalipun sudah dipotong-potong. Itulah keunikan sekaligus kekuasan Tuhan. Rumah-rumah yang dibangun mesti dibangun di atas tanah karena menghindari air dan banjir. Tanah di Kalimantan adalah tanah yang selalu berair. Kayu ulin makin kena air makin kuat. Maka cocoklah kayu ulin menjadi pondasi yang kuat, bahkan digunakan untuk menutup saluran air di sepanjang gorong-gorong di jalan raya. Kalau menginjak kayu ulin terasa sekali kekuatannya.
Keunikan lain yang dilakukan oleh suku Dayak adalah mencari gaharu. Gaharu adalah sejenis pohon tanaman keras yang tumbuh di hutan bahkan juga di pekarangan rumah. Dalam usia tertentu pohon itu bisa mengeluarkan getah yang sangat harum dan getah itu menjadi bahan utama pembuat kosmetik. Namun tidak setiap pohon gaharu bisa menghasilkan getah dengan tingkat kerahuman yang sama. Ada beberapa tingkat kualitas gaharu. Menurut pasaran saat ini, harga satu kilo gaharu bisa  

juta. Itu yang berkualitas A, sedangkan yang berkualitas lain di bawahnya. Kalau sudah mencari gaharu, orang Dayak bisa berbulan-bulan berada di hutan. Modal yang dibawa adalah modal yang seringkali hutang uang pada bank. Mereka belum akan pulang kalau belum mendapat gaharu atau kehabisan bekal. Usaha pencarian gaharu ini dapat diibaratkan gambling. Tidak ada kepastian kapan dapat dan berapa yang akan didapat, bahkan kemungkinan juga tidak mendapatkan.
Dengan maraknya pengubahan hutan dan hutan olahan suku menjadi kebun sawit, makin marak pula perubahan gaya hidup orang Dayak. Ada dua sisi perubahan yang cukup mencolok yakni yang pertama adalah hidup dalam mimpi dan yang kedua adalah kerusakan lingkungan hidup.
Yang pertama berkaitan dengan mimpi. Orang-orang suku Dayak kurang mendapatkan sosialisasi mengenai pengubahan hutan olahan menjadi kebun sawit. Biasanya dalam sosialisasi mereka diiming-imingi akan mendapatkan satu juta setiap bulan. Hal itu bisa terjadi karena dua alasan: mereka mendapatkan hak sewa atas hutan oleh perusahan dan mendapatkan gaji karena mereka akan ditampung bekerja di perusahaan sawit. Namun perubahan itu tidak disertai dengan landasan mental yang kuat.  Penggunaan uang yang begitu besar dalam waktu yang singkat membuat mereka
Ada semacam schok culture. Belum lagi ditambah dengan etos kerja. Sebagai peramu, mentalitas kerja dengan waktu yang ditetapkan, kualitas yang dikontrol dan ada target menjadi sesuatu yang sangat asing bagi mereka. Bisa dibandingkan dengan model pencarian gaharu misalnya. Tidak bisa mencari gaharu ditarget, apalagi dalam waktu tertentu. Hal-hal ini membuat mimpi mereka untuk hidup semakin baik menjadi kacau karena tidak ada landasan yang kuat pada ritme hidup dan mentalitas budaya harian. Akibatnya banyak orang lokal yang semula dijanjikan pekerja perusahaan adalah ¾ orang lokal menjadi terbalik: ¾ orang luar yang mampu memenuhi tuntutan kerja dan bisa ditarget dengan kualitas yang stabil. Tetapi tidak ada kata kembali ke asal karena hutan sudah gundul dan sungai mulai keruh karena longsoran tanah akibat peresapan oleh tanaman makin berkurang.
Bercermin pada pengalaman orang Israel ketika berhadapan dengan alam, mereka pun menghadapi orang-orang asli yang memiliki dewa kesuburan. Dalam Perjanjian Lama banyak kisah yang mengetengahkan perjuangan untuk membela kehadiran Allah dalam memberi kesuburan. Kisah-kisah perumpamaan yang digunakan oleh Yesus selalu mengacu pada penghormatan kepada alam. Kisah kebun anggur, kisah pohon ara yang tidak berbuah, kisah para rasul yang diutus menjadi penjalan manusia dan seterusnya.
Mungkinkah mengembangkan ekologi pastoral di Kalimantan dengan mengambil budaya air sebagai entry point: budaya kehidupan bersumber pada air sang pemberi hidup.
Air sebagai Sarana Kemajuan
Hari itu tanggal 26 Mei 2011 jam 08.00 pagi kami mulai mengadakan turne ke Sumentobol, salah satu stasi dari Mansalong. Diperkirakan waktu perjalan adalah 3 jam dengan perahu tempel. Rombongan berjumlah 10 orang: Rm. Wahyu, Rm. Suharyanto, Rm Edy, Rm, Riana, Bp. Sidung, Bp. Mosa, Bp. Juru Batu, Bp. Motorist, Frater, Mas Handaka, dan Primus (anak 5 tahun yang sangat berani). Perjalanan menyusur sungai ke hulu melewati beberapa stasi yang dapat dilihat dari tengah sungai yang lebarnya sekitar 50-100 meter di bagian hilir dan 30-50 meter di bagian hulu. Kedalamannya sungai sekitar 10 meter. Sang Juru Batu menjadi pengarah bagi motoris untuk memilih jalur yang tidak berbatu dan cukup dalam untuk bisa dilalui oleh perahu. Kalau lengah sedikit atau tidak menuruti pengarahan Juru Batu perahu bisa menabrak batu atau pohon yang tumbang. Di beberapa bagian sungai, arus terasa deras dan gelombang cukup tinggi, kendati tidak bisa dikatakan setinggi di laut. Pada sisi arus deras, rasanya seperti mengikuti arung jeram. Goyangan sesekali terjadi mengikuti arus air yang seakan memandu perahu untuk mengikuti jalur yang semestinya. Sesekali pula air menerpa wajah kami saat berbenturan dengan badan perahu.
Kalau pandangan diarahkan ke pinggiran sungai, terlihat pandangan yang asri, hijau dan segar. Sejauh mata memandang ke arah hulu terbentang kelokan aliran sungai berpagar batu padas yang basah oleh embun dan air terjun kecil serta lumut yang menghijau. Ke atas sedikit terlihat hijau pepohonan. Beberapa pohon tumbang karena terkikis oleh airan sungai yang cukup tenang tetapi mengalirkan air terus menerus sehingga menggerus tanah di sekitarnya. Lengkungan pohon menjulang ke tengah sungai dengan dedahanan yang menjulang menggapai sinar matahari, membuat lukisan alamiah asli bentukan alami. Terlihat pula beberapa pondok rumah panggung dari kejauhan di tengah kerimbunan pohon hijau, menyatu dengan alami. Tak terlihat cerobong asap atau pun asap dapur. Semua itu memberi rasa dan kesan bersih terhadap udara yang kami hirup. Percikan air yang terbelah oleh perahu memberi musik alami nan indah ditambah suara deru motor yang mendorong kami maju ke hulu.
Warna air kecoklatan menandakan bahwa sungai itu berhulu di daerah Malaysia yang hutannya sudah diubah menjadi hutan sawit sehingga sebagian tanahnya mudah terbawa arus. Konon kabarnya tanaman sawit tidak bisa menyimpan air bahkan menyerap air banyak dan menyebabkan banjir pada musim penghujan. Menurut kesaksian beberapa orang, belakangan ini air makin coklat karena kandungan tanah makin tinggi. Sementara air yang berasal dari sungi di bagian Indonesia, masih cukup jernih. Ini kelihatan dari pertempuan dua sungai di sekitar hulu; kelihatan sekali beda warnanya: coklat dan jernih kehijauan.
Kisah itu memperlihatkan bahwa air menjadi pintu gerbang yang menghubungkan suku-suku yang tinggal di daerah aliran sungai dengan dunia luar. Aliran agama pun bergerak mengikuti aliran sungai.
Satu hal yang unik di Tarakan adalah penangkaran buaya. Awalnya penangkaran itu berasal dari seorang peternak ayam yang kebingungan membuang ayam-ayam yang mati. Mau dibuang ke kebun bisa menggangg lingkungan, mau di sungai mengotori air. Akhirnya terpikir untuk menjadikan ayam-ayam mati itu sebagai makanan buaya. Lama-kelamaan buayanya makin berkembang dan akhirnya harus pindah tempat yang lebih luas. Kini di tempat yang baru terdapat lebih dari 10.000 buaya. Setiap bulan Agustus sang pemiliki peternakan itu memanen kulit buaya untuk dijual ke luar negeri, sedangkan dagingnya disimpan dan dijual bilamana ada yang membutuhkan untuk makanan. Lagi-lagi air menjadi faktor utama dalam penangkaran budidaya buaya yang menghasilkan yang milyaran rupiah.
Mungkinkah air yang telah menjadi sarana kemajuan di Kalimantan baik dalam industri minyak maupun ternah, juga mampu menjadi sarana kemajuan penyebaran iman. Lebih-lebih bila hal ini dikaitkan dengan budaya Dayak?
Pastor Riana Prapdi, Pr
Vikjen Keuskupan Agung Semarang


No comments:

Post a Comment