Friday, June 24, 2011

Tradisi Dolob Simbol Kebenaran dan Pertobatan dalam Adat Dayak Agabag



Suatu hari bu Pagayu pulang dari acara perkawinan saudaranya di Pulau Keras. Sudah 2 hari dia mengikuti acara itu. Begitulah adat di sini, pesta perkawinan dirayakan sampai beberapa hari. Ketika pulang ke rumah, suaminya, Pak Pagayu marah-marah dan menuduh isterinya selingkuh di tempat pesta perkawinan dengan Pak Sio. Istrinya kaget dan bingung karena dia tidak merasa selingkuh dengan Pak Sio. Pak Pagayu tetap bersikeras bahwa isterinya selingkuh dengan Pak Sio. Kemudian Pak Pagayu melaporkan ke dewan adat untuk menyelesaikan persoalan rumah tangganya. Dewan adat mencoba menyelesaikan persoalan ini secara damai. Tetapi Pak Pagayu tetap bersikeras, maka dia mengajukan Dolob. Pak Pagayu menantang Pak Sio untuk melakukan dolob untuk membuktikan apakah Pak Sio benar-benar selingkuh atau tidak dengan istrinya. Pak Sio pun siap menerima tantangan Pak Pagayu. Maka, pada hari selasa, 15 Maret 2011, pukul 14.00 dolob dilaksanakan di desa Intin Kalimantan TImur
Tradisi dolob adalah sebuah tradisi yang sudah lama hidup dan berkembang di daerah lumbis – sembakung Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur. Tradisi dolob hanya ada di daerah lumbis dan sembakung ini. Daerah lain tidak ada. Sejak kapan tradisi ini di mulai tidak ada yang tahu. Menurut para sesepuh adat dolob sudah mulai dari nenek moyang dulu. Kapan dan siapa yang memulainya tidak diketahui. Namun semua orang mempercayai tradisi dolob. Dolob dapat menentukan siapa yang salah dan benar. Dalam bahasa dayak Agabag dolob berarti menyelam. Orang yang melakukan dolob harus menyelam di dalam air. Orang yang muncul pertama  dari air berarti dia salah, dan orang yang bertahan lama di dalam air berarti orang yang benar. 
Dolob dilaksanakan ketika persoalan tidak dapat diselesaikan secara damai. Syarat untuk melakukan dolob adalah kedua belah pihak harus menyiapkan “taruhan”. Taruhan ini sebagai denda yang harus dibayarkan kepada pihak yang menang, biasanya satu sapi dan tempayan merah, kalau diuangkan kurang lebih 6 juta rupiah. Dolob dilakukan di pinggir sungai yang  kedalamannya kurang lebih 1,5 meter. Ada dua kayu yang di tancapkan dipinggir sungai. Kayu itu berfungsi untuk pegangan orang yang menyelam supaya tidak terbawa arus air. Kayu harus dipilih dari pohon yang tidak bercabang dan lurus (vertikal). Kedua orang akan berpegangan kayu dan menyelam ke dasar sungai.
Sebelum menyelam, ketua adat akan membacakan doa terlebih dahulu. Sambil berteriak-teriak ketua adat berdoa memanggil Mangun…Mangun…Mangun…. (Artinya Tuhan dalam bahasa Dayak Agabag), roh-roh penguasa sungai dan hutan, memukul tanah dengan anak pohon pisang, menaburkan beras kuning, dan melempar telur ayam ke dalam sungai. Ketika ketua adat berdoa suasana menjadi sangat tenang-hening-mistis. Tiba-tiba suasana ramai dan gemuruh dari ratusan orang yang hadir menjadi tenang dan sunyi. Kemudian, ketua adat menghitung 3 kali dan mereka mulai menyelam dengan di damping satu orang berdiri di sebelahnya. Bagi orang yang memang salah, dia akan lebih dahulu muncul kepermukaan air. Bagi orang yang memang benar, dia akan bertahan lama di dalam air, bisa beberapa jam dan menurut sesepuh adat bisa bertahan berhari-hari. Ketika satu orang sudah ada yang muncul berarti dolob sudah selesai karena sudah diketahui siapa yang salah. Menurut kesaksian dari peserta dolob yang menang karena benar, dia merasa tenang di dalam air karena dia bisa bernafas bebas seperti ketika di darat. Sedangkan, bagi yang kalah karena salah, dia tidak nyaman di dalam air karena banyak sekali gerombolan ikan, ular, buaya, dan binatang-binatang sungai lainnya yang mengroyok menggigit tubuhnya.Tidak hanya binatang-binatang sungai yang mengganggu, tetapi air dan pasir menjadi hidup dan menyerang masuk ke dalam mata, hidung, dan telinga. Kalau dia memaksakan diri bertahan, maka hidung dan telinga dapat mengeluarkan darah dan bisa lemas. Walaupun dia jago menyelam atau mempunyai ilmu yang tinggi, tetapi dengan dolob  semuanya tidak artinya apa-apa. Kalau orang itu salah maka akan tetap salah dan tidak akan bertahan lama di dalam air.

Itulah kehebatan tradisi dolob. Sebuah tradisi yang masih tetap bertahan di tengah sistem peradilan modern yang justru mereduksi kebenaran. Tradisi dolob menjadi simbol kekuatan budaya lokal yang menempatkan keadilan dan kebenaran pada tempatnya. Keadilan dan kebenaran tidak dapat diintervensi oleh kekuatan uang atau kekuasaan manapun. Tradisi dolob menjadi simbol kebenaran “absolut”, di tengah kebenaran yang semakin “relatif”.

Tadisi Dolob dan Tadisi Iman Katolik?

Ketika hadir dan menyaksikan tradisi dolob itu, saya tertegun diam dan heran.   Saya diam-hening karena ketika ketua adat mendaraskan doa-doa, saya merasa mrinding karena suasana berubah menjadi sakral-mistis, sama ketika saya merayakan Ekaristi, khususnya ketika saya membacakan  Doa Syukur Agung. Saya heran karena kedua orang yang melakukan dolob adalah umat Katolik. Spontan, saya bertanya dalam hati, bagaimana ini dijelaskan dalam konteks tradisi iman katolik? Apalagi ketika seorang kepala desa bertanya kepada saya, apakah tradisi dolob ini bertentangan dengan Agama Katolik?
Ketika itu, spontan saya menjawab bahwa ini menjadi bukti bahwa kekuatan baik, yaitu Tuhan akan melindungi dan berpihak kepada orang yang benar. Tidak hanya Tuhan, tetapi roh-roh penguasa air dan hutan juga akan melindungi dan tidak berani menganggu orang yang benar. Seperti yang dikatakan oleh pemazmur,” ….siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya” (Mazmur 50: 23b). Sedangkan kepada orang salah, Tuhan akan membiarkan dia berjuang sendiri dan roh-roh penguasa sungai dan hutan akan mengganggu sebagai hukuman atas kesalahannya. Tuhan justru menunjukkan bahwa orang yang salah harus mengakui kesalahannya dan memberi kesempatan untuk memperbaiki hidupnya (bertobat). “….Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yesaya 1:18). Buktinya orang yang salah tetap masih hidup dan tidak mati. Roh-roh penguasa sungai dan hutan juga hanya “menganggu” atau memberi peringatan kepada yang salah. Maka, proses pertobatan menjadi penting. Bukan proses yang sekali jadi, tetapi menjadi proses yang terus-menerus diperjuangkan dalam diri manusia yang rapuh. Bukan hanya dalam diri manusia yang salah dan berdosa, tetapi juga bagi orang yang merasa benar. Hal ini juga ditunjukkan ketika orang yang menang dalam dolob dilarang untuk berteriak gembira, tetapi harus tetap tenang. Begitu juga orang-orang yang menyaksikan dolob di larang berteriak sebagai ungkapan kemenangan. Tentu ini menjadi simbol adat kerendahan hati bagi orang yang merasa benar.
Tradisi dolob sangat menarik untuk dikaji lebih dalam dan tajam. Tradisi ini bisa menjadi pengembangan katekese katolik yang inkulturatif dalam pengembangan iman Gereja, khususnya Keuskupan Tanjung Selor. Ada banyak unsur yang bisa dikembangkan lebih lanjut, yaitu bagaimana kekuatan doa di hadapan Tuhan (Mangun) sungguh menjadi tanda kehadiran Tuhan. Tuhan sungguh hadir memberi petunjuk dan melindungi orang benar dan memberi kesempatan kepada orang yang salah untuk hidup benar. Namun tetap berhati-hati merumuskan keberadaan roh-roh penguasa air, hutan, dan gunung dalam konteks iman Katolik.
Akhirnya hanya 22 detik Pak Pagayu bertahan di dalam air. Nafasnya ngos-ngosan, seperti sedang mengikuti lomba lari. Wajah dan matanya memerah dan seorang lelaki yang mendampingi langsung merangkulnya karena terlihat lemas. Padahal menurut warga, Pak Pagayu adalah orang yang sakti, berilmu tinggi, dan juga jago menyelam. Ketua adat langsung berteriak untuk mengangkat Pak Sio karena dolob sudah selesai. Karena kalau tidak diangkat pak sio akan bertahan lama di dalam air. Serentak, seluruh warga langsung berteriak dan bertepuk tangan melihat bahwa Pak sio yang menang atau yang benar dalam kasus ini. Spontan, para sesepuh adat mengajak semua warga tetap tenang.
Dolob kali ini dimenangkan oleh Pak Sio. Ini berarti, Pak Sio tidak berselingkuh dengan bu Pagayu seperti yang dituduhkan Pak Pagayu. Maka pak Pagayu harus membayar denda kepada Pak Sio dan Bu Pagayu karena keduanya sebagai pihak yang dituduh dan dirugikan. Dendanya sesuai dengan kesepakatan, yaitu satu ekor sapi dan tempayan merah (dalam tradisi dayak agabag tempayan merah adalah barang yang mahal dan langka).
Salam,
Mo’wah
Mansalong

No comments:

Post a Comment