Wednesday, July 13, 2011

Seminari St. Yosep Keuskupan Tanjung Selor





Pada tanggal 8 Juli 2011, Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF, Uskup Keuskupan Tanjung Selor, meresmikan berdirinya Seminari Menengah di Keuskupan Tanjung Selor. Seminari Menengah berada di Paroki Santa Maria Imakulata Tarakan. Peresmian ini dilaksana-kan dalam misa syukur yang dihadiri umat lingkungan setempat, dewan Paroki, para bruder, Suster dan beberapa pastor.

Dalam persiapan ekaristi peres-mian seminari, umat lingkungan dengan semangat mempersiapkan-nya. Umat lingkungan mengadakan rapat supaya perismian berjalan dengan lancar. Dari tempat sampai konsumsi untuk lancar dan kon-sumsi untuk meriahnya peresmian dipersiapkan dengan baik. Ibu-ibu lingkungan dan juga dewan paroki bahu membahu dan saling men-dukung dalam persiapan. Hal ini dijalankan dengan gembira oleh umat lingkungan. Umat lingkungan merasa sangat bersyukur bisa ambil bagian dalam pendidikan calon gembala. Keberadaan seminari di lingkungan mereka dianggap se-bagai rahmat. Dalam sambutannya, Ketua Lingkungan berharap keber-adaan seminari bisa menyemangati umat lingkungan lebih giat dalam hidup menggereja. Di samping itu diharapkan seminari juga mem-bantu dalam mengembangkan hi-dup rohani umat lingkungan.
Ekaristi peresmian seminari ber-jalan dengan lancar dan semangat. Sua-sana ini dimeriahkan oleh koor dari paroki St. Maria Imaculata Tarakan. Kelompok pemazmur secara khusus mempersiapkan koor untuk ekaristi peresmian semi-nari ini. Kelom-pok koor ini u-mumnya terdiri dari orang-orang muda bahkan ma-sih ada yang duduk di kelas Sekolah Dasar. Semangat mereka mencer-minkan kegembiraan dan dukungan pada hadirnya semi-nari di Keuskupan Tanjung Selor.
Pada tahun per-dana berdirinya se-minari ini, seminaris-nya ada 13 siswa. 11 orang siswa ke-las SMA dan 2 o-rang siswa kelas KPA. Sebenarnya, Seminari Menengah St. Yosef di awal berdirinya ini mene-rima 16 siswa. Tetapi, 3 orang lain yang diterima tidak hadir karena ada yang tidak diijinkan orang tuanya dan ada juga telah mendapat sekolah yang lain. Jumlah siswa per-tama ini sung-guh di luar dugaan. Selama ini, para calon imam tingkat seminari menengah dari Keuskupan Tanjung Selor disekolah-kan di Seminari Menengah Keuskupan Agung Samarianda. Tidak banyak orang muda dari keuskupan Tanjung Selor ini yang mendaftarkan diri masuk seminari. Maka ketika mulai membuka seminari, masih terbayang pertanyaan: apakah ada anak muda yang mau mendaftar seminari di Keuskupan Tanjung Selor apalagi ini baru. Tetapi kenyataannya, antusias orang muda yang mau menjadi imam di Keuskupan Tanjung Selor cukup besar.
Staff Seminari Menengah St. Yosef ada 2 orang pastor. Pastor Yulius Dainang Waja, Pr adalah rektor seminari. Pastor Yulius panggilannya. Keuskupan sudah mempersiapkan Pastor Yulius untuk tugas ini. Kursus dan pendidikan diri dijalani Pastor Yulius untuk tanggungjawab ini. Pastor satunya adalah Pastor Basilius Edy Wiyanto, Pr (pastor diosesan untuk keuskupan Agung Semarang yang bertugas di Keuskupan Tanjung Selor). Pastor Edy bertugas membantu pastor Yulius dalam mendampingi seminaris. Tugas utama pastor Edy di paroki St. Maria Assumpta Tanjung Selor.
Dalam kotbahnya Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF menyatakan kegembiraan dan optimis untuk pendidikan calon imam. Optimisme Bapak Uskup ini berdasarkan catatan sejarah yang pernah beliuan baca. Saat memulai pendidikan calon imam, Seminari Menengah Keuskupan Samarinda hanya memiliki 3 orang siswa. Sedangkan, di Keuskupan Tanjung Selor dengan 13 siswa. Angka yang lumayan besar ini menunjukan ada harapan besar akan ada banyak peminat di keuskupan ini akan panggilan imam. Di awal kotbahnya, Mgr. Harjosusanto mengungkapkan te-rima kasih kepada seluruh umat yang ha-dir mendukung peres-mian seminari, juga ber-terima kasih pada paroki tarakan yang di-koordinir oleh Pas-tor Rajabana, OMI se-bagai pastor paroki telah berkorban dan mendukung adanya se-minari, secara khusus berterima kasih kepa-da umat lingkungan yang telah mene-rima dan mendukung hadirnya semi-nari ini.
Lebih lanjut, Mgr Harjo menjelaskan apa itu seminari. Se-minari berasal bahasa latin yang kata dasarnya seminarium yang berarti tempat penyemaian benih. Seminari merupa-kan tempat pendidikan calon imam yang memupuk dan menum-buhkembangkan benih panggilan.
Mgr. Harjosusanto, MSF juga mengungkap-kan harapannya dengan adanya seminari. Berdiri-nya seminari diharap-kan semakin memicu minat orang muda (umat) untuk berminat pada panggilan menjadi imam. Berdasarkan pengalaman, Bapak Uskup mencermat-i bahwa umat Keuskupan Tanjung Selor akan semakin terbuka dan tergerak bila ada contoh konkrit. Men-dirikan seminari merupa-kan katekese kepada umat untuk pilihan hidup menjadi imam. Mereka semakin tahu bagaimana hidup menjadi imam de-ngan adanya semi-nari.
Seminari diharapkan menjadi tempat pembenihan para calon imam yang kelak bisa meneruskaan karya pewarta-an Kerajaan Allah di Keuskup-an Tanjung Selor. Adanya seminari diharapkan bisa mempersiapkan anak-anak keuskup-an untuk mencintai Gereja. Tujuan utama mereka disiapkan menjadi imam-imam yang siap diutus dalam karya pelayanan Gereja. Tetapi, tidak dipungkiri bahwa para seminaris tidak semua bisa lolos menjadi imam. Maka, diharapkan seminari juga menjadi tempat penyemaian benih orang-orang yang mencintai dan mengembangkan Gerejanya.
Perayaaan Peresmian Seminari diakhiri dengan makan bersama. suasana makan bersama dipenuhi suasana persaudaraan. Makanan yang  telah disediakan ibu-ibu ling-kungan dinikmati bersama. Ada juga spontanitas dari para seminaris dan Pastor Suharyanto, Pr yang melantunkan tembang-tembang kenangan. Makan bersama pun terasa hangat dengan rasa persaudaraan.
Allah telah memulai karya baik di antara kita akan menyelesaikan-nya juga. (Filp 1:6)
MoEd




No comments:

Post a Comment