Monday, January 11, 2016

January 11, 2016

Keluarga  sebagai sel pertama  sangat penting bagi masyarakat dan menjadi sekolah kemanusiaan. Keluarga menjadi tempat pertama seseorang belajar hidup bersama orang lain serta menerima nilai-nilai luhur dan warisan iman.   SAGKI 2015 mendalami kehidupan keluarga melalui kesaksian beberapa keluarga tentang buah-buah suka cita Injil dalam keluarga dan tantangan keluarga ketika memperjuangkan suka cita  Injil serta melalui paparan tentang membangun wajah Ecclesia domestica di Indonesia.
Selama SAGKI 2015, dialami rasa syukur dan gembira serta rasa haru dan air mata saat mendengarkan dan menyaksikan suka cita dan pengalaman jatuh bangun keluarga-keluarga katolik dalam memperjuangkan kekudusan perkawinan dan keutuhan keluarga.
Buah-buah suka cita Injil dalam keluarga. Dengan penuh iman, Gereja mensyukuri perkawinan katolik sebagai sakramen, yaitu tanda kehadiran Allah Tritunggal dalam hidup berkeluarga. Perjumpaan dengan Kristus membawa suka cita Injil ( bdk. Evangelii Gaudium No. 1). Pasangan suami istri percaya bahwa Allah menghendaki, memberkati dan mencintai keluarganya. Keyakinan ini meneguhkan suami istri untuk setia dalam untung dan malang serta menambah suka cita dalam keluarga baik secara spiritual, relasional, maupun sosial.
Bercermin dari hidup Keluarga  Kudus Nazaret, keluarga katolik dihayati sebagai ladang suka cita Injil yang paling subur, tempat Allah menabur, menyemai, dan mengembangkan benih-benih suka cita Injil. Kasih yang dibagikan tidak pernah habis, tetapi justru meningkatkan suka cita dalam keluarga. Oleh karena itu, ketika para anggota keluarga terpaksa terpisah dari pasangan atau dari anak karena alasan pekerjaan atau sekolah, mereka berusaha mencari cara bagaimana kasih satu sama lain tetap dapat terjalin dan keutuhan keluarga dapat diwujudkan.
Suka cita keluarga dialami secara spiritual dalam hubungan dengan Allah melalui kegiatan rohani sehingga kerinduan akan Sabda Allah tumbuh, iman makin tanggguh, kepasrahan meningkat, dan pengalaman dicintai Allah dirasakan. Suka cita keluarga dialami secara relasional saat menjalin perjumpaan dan kebersamaan hidup yang bermutu mempererat relasi kasih, saling memaafkan, menunjukkan sikap tenggang-rasa dan keberanian berkorban, serta sadar akan tangggungjawab pada generasi selanjutnya.
Suka cita keluarga dialami secara sosial melalui kepedulian terhadap orang lain, pelayanan tulus terhadap sesama, pekerjaan sesuai panggilan, dan keteladanan hidup. Suka cita makin sempurna saat keluarga disapa dan diteguhkan oleh Gereja dalam pelayanannya. Suka cita yang dinikmati di dalam keluarga juga menjadi kekuatan untuk mengasihi Allah dan sesama melalui pelayanan di Gereja dan masyarakat tanpa memperhitungkan perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan serta kepentingan material. Keyakinan ini diteruskan kepada anak-anak lewat pendidikan iman yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan agar mereka mencintai Allah dan sesama.
TANTANGAN KELUARGA DALAM MEMPERJUANGKAN SUKA CITA INJIL
Suka cita dialami oleh keluarga yang mewujudkan rencana Allah atas perkawinan dan keluarganya. Sebagian keluarga membutuhkan perjuangan lebih karena menghadapi aneka tantangan dan kelemahan.
Tantangan itu antara lain: kesulitan ekonomi, situasi sosial, budaya, agama, dan kepercayaan yang tidak selaras dengan nilai-nilai perkawinan katolik seperti poligami, mahalnya mas kawin, dan kuatnya tuntutan pernikahan adat, hidup sebagai keluarga migran, atau rantau, perkembangan media informasi yang menggantikan perjumpaam pribadi, dan pemujaan kebebasan serta kenikmatan pribadi.
Kelemahan itu antara lain: kekurang dewasaan pribadi dan kepicikan wawasan, penyakit, dan meninggalnya pasangan, keterbatasan kemampuan orang tua untuk mengikuti perkembangan dan pendidikan anak-anak.
Ketidaktauan tentang makna dan tujuan perkawinan katolik. Kesulitan dan ketidakmampuan hidup bersama karena perbedaan agama dan budaya, hidup dalam perkawinan tidak sah, ketida setiaan dalam perkawinan, Hadirnya orang ketiga  ( idaman lain atau keluarga besar pasangan ), dan perpisahan yang tidak terelakkan.
Tantangan dan kelemahan ini menyebabkan perasaan terbeban, bingung, sedih, sepi, dan bahkan putus asa bagi anggota keluarga. Tantangan dan kelemahan itu bisa membawa keluarga pada krisis iman yang merintangi, membatasi dan bahkan menghalangi keluarga untuk setia kepada iman katolik dan untuk menghidupi nilai-nilai luhur perkawinan.
Ditengah pergumulan memperjuangkan suka cita Injil, keluarga mesti datang penuh kerendahan hati untuk dikuduskan oleh Allah yang berbelas kasih yang melampaui kelemahan dan kedosaan manusia. Pembelaan Allah yang begitu besar ini merupakan cuka cita yang patut disadari dan disyukuri. Kekudusan keluarga merupakan rahmat sekaligus tugas bagi keluarga untuk dipertahankan. Oleh karenanya keluarga diundang untuk bersikap dewasa bertindak bijaksana dan tetap beriman dengan tidak menyalahkan situasi tetapi setia mencari kehendak Allah melalui doa dan Sabda Allah, mengutamakan pengampunan dan peneguhan di antara anggota keluarga, serta pergi menjumpai pribadi atau komunitas beriman yang mampu membangkitkan harapan.
Keluarga yang mengandalkan Allah percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya. Selalu ada jalan keluar. Tantangan tidak harus menyuramkan nilai-nilai perkawinan dan hidup berkeluarga. Melalui tantangan itu, Allah mengerjakan karya keselaman-NYA di dalam dan melalui keluarga. Gereja terpanggil untuk bersama-sama mencari, menyapa, mendengarkan dan bersehati dengan keluarga yang sedang menghadapi tantangan,  termasuk mereka yang tidak sanggup mempertahankan nili-nilai hidup perkawinan dan keluarga. Disinilah  Gereja hadir untuk menampilkan wajah Allah yang murah hati dan berbelas kasih, terutama bagi keluarga yang berada dalam situasi sulit. Dalam kemurahan dan belas kasih Allah, keluarga-keluarga tidak akan mengalami kebuntuan dalam perjalanannya meraih kebahagiaan.
GERAK BERSAMA MEMBANGUN ECCLESIA DOMESTICA DI INDONESIA
Keluarga merupakan buah dan sekaligus tanda kesuburan adikodrati Gereja serta memiliki ikatan mendalam, sehingga keluarga disebut sebagai Gereja Rumah-Tangga (ecclesia domestica). Sebutan ini sudah pasti memperlihatkan eratnya pertalian  antara Gereja dan keluarga, tetapi juga menegaskan fungsi keluarga  sebagai bentuk terkecil dari Gereja. Dengan caranya yang khas keluarga mengambil bagian dalam tugas perutusan Gereja, yaitu karya keselatan Allah.
Pedoman Pastoral Keluarga KWI 2010, no 6. Sebagai Gereja Rumah Tangga, keluarga menjadi pusat iman, pewartaan iman, pembinaan kebajikan, dan kasih kristiani  de ngan mengikuti cara hidup Gereja perdana ( Kis 2, 41-47; 4,32-37). Gereja Rumah Tangga mengammbil 3 bagian dalam fungsi imamat umum Yesus Kristus, yaitu guru untuk mengajar,  imam untuk menguduskan, dan gembala untuk memimpin. Gereja Rumah Tangga di Indonesia di bangun berdasarkan nilai-nilai kristiani yang diwujudkan dalam masyarakat yng majemuk.
Dalam reksa pastoral keluarga, Gereja mesti berangkat dari keprihatinan dan tantangan keluarga zaman ini yang semuanya membutuhkan kerahiman Allah. Gereja dipanggil untuk menunjukkan wajah Allah yang murah hati dan berbelas kasih melalui pelayanan , terutama kepada mereka yang paling lemah, rapuh, terluka dan menderita. Kerahiman tidak pernah bertentangan dengan kadilan dan kebenaran, tetapi bergerak melampauinya karena Allah adalah kasih.( 1Yoh 4:8).
Demi menggiatkan pastoral keluarga yang berbelas kasih dan penuh kerahiman, Gereja dipanggil melakukan pertobatan pastoral secara menyeluruh. Pertobatan dimulai dari pelayan-pelayan pastoral yang berkarya dalam pelbagai lembaga pelayanan. Dengan demikian, pastoral keluarga dapat menanggapi persoalan keluarga secara tepat.   Untuk itu satu, Pedoman Pastoral Keluarga KWI yang diterbitkan tahun 2010 harus duperhatikan dan dilaksanakan; dua, Reksa Pastoral keluarga terpadu dan berjenjang mulai dari persiapan perkawinan sampai pada pendampingan keluarga pasca nikah, termasuk pertolongan pada keluarga dalam situasi khusus harus dibentuk dan dihidupkan kembali; tiga, Katekese keluarga harus dikembangkan; empat Kebijakan dan koordinasi  perangkat pastoral keluarga baik di tingkat KWI, regio, keuskupan, maupun paroki harus ditegaskan dan disosialisasikan; lima, Keuskupan-keuskupan se Indonesia harus bekerjasama dan solider  dalam sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan tehnologi, serta keuangan; enam, Pelayanan perangkat pastoral seperti Komisi Keluarga dan Tribunal Gerejawi harus mendapat perhatian dan diberdayakan. Lembaga dan pelayanan pastoral keluarga, termasuk kelompok-kelompok kategorial  dan pemerhati keluarga serta para ahli harus diikutsertakan. Komunitas basis keluarga dan institusi pendidikan katolik harus dilibatkan. Ekonomi keluarga harus ditingkatkan  melalui lembaga-lembaga ekonomi dan keuangan. Data-data yang berkaitan dengan kepentingan pastoral keluarga  harus dimanfaatkan. Lembaga hidup bakti harus diikutsertakan dalam pastoral keluarga dengan tetap menghormati kekhasan karismanya.
Dalam gerak bersama tersebut, kita perlu juga terbuka untuk bekerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat, lembaga adat, lembaga keagamaan, dan bahkan pemerintah.
Kekayaan pengalaman dan aneka diskusi selama  SAGKI 2015 tak mungkin dirangkum seluruhnya  dalam rumusan hasil sidang ini. Namun, kesaksian keluarga, diskusi kelompok, peneguhan dari ahli, kebersamaan, dinamika kerja panitia, dan kreasi bersama tim animasi dalam SAGKI tetap dan terdokumentasikan dalam bentuk buku, video, dan foto. Pada akhir Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia ini, kita percaya bahwa Allah menjumpai para anggotanya untuk membimbingnya menuju kesempurnaan kasih dan kepenuhan hidup kristiani.
Kita bersyukur kepada Allah karena keluarga katolik mengalami suka cita baik dalam kesetiaan perkawinannya maupun dalam perjuangan  menghadapi tantangan. Kita percaya bahwa  Roh Kudus menyertai keluarga memelihara dan merawat kesuciannya. Kita turut prihatin bersama keluarga  yang berada dalam situasi sulit. Gereja sebagai sumber air hidup dapat menjadi Guru bijaksana dan Ibu pemberi harapan bagi keluarga.
Keluarga Kudus Nasaret, doakanlah kami untuk mewujudkan keluarga katolik yang memancarkan suka cita Injil.

Komisi Keluarga – Peserta SAGKI Keuskupan Tanjung Selor