Sunday, May 1, 2016

Uskup Menyapa: MEMBANGUN DAN MENGEMBANGKAN KELUARGA KATOLIK YANG TAQWA DAN PEDULI


Segenap umat Katolik di wilayah Keuskupan Tanjung Selor yang terkasih dan dikasihi Tuhan
Hari Rabu, tanggal 10 Februari 2016 adalah hari Rabu Abu, saat semua orang Katolik memasuki masa Pra-Paska, yaitu masa persiapan menyambut Hari Raya Paska. Abu yang kita terima menandakan bahwa kita berasal dari tanah yang bisa hidup hanya karena karya Tuhan, kitapun lemah dan sering jatuh, karena itu perlu terus bertobat dan mesti mengandalkan Tuhan. Pertobatan itu perlu dilakukan sepanjang hidup, namun selama masa pra-paska itu setiap orang Katolik melakukannya secara khusus. Tobat berarti mengarahkan kembali dan mendekatkan hidup kepada Allah, dan karena itu mesti meninggalkan sikap, sifat, sikap dan perilaku yang menghambat kita makin dekat denganNya.

Betapa besar kerahiman Allah telah kita terima selama ini karena setiap kali kita jatuh dan bertobat, Allah mengampuni. Allah itu Maharahim dan suka mengampuni bahkan bersukacita ketika ada orang berdosa yang bertobat (Luk 15,17), seperti digambarkan oleh Yesus melalui perumpamaan Bapa yang penuh belas kasih (Lukas 15,11-32).


Saudara-saudari terkasih,
Setiap orang Katolik mesti percaya bahwa menjadi katolik bukan pilihan semata, melainkan panggilan yang diterima dari Tuhan. Berpegang teguh pada keyakinan itu merupakan salah satu ungkapan kepercayaan itu. Selain itu, keyakinan bahwa jalan yang ditunjukkan Tuhan itu, membawa sukacita dan kebahagiaan sejati mesti kita hidupi.  Kitapun percaya akan janji Tuhan akan memberi kehidupan kekal setelah peziarahan hidup kita di dunia ini berakhir. Kalau keyakinan itu ada orang Katolik tetap teguh dan tidak goyah sekalipun mengalami banyak tantangan dan godaan. Keyakinan bahwa hidup berkeluarga adalah panggian dan pasangan bukan pilihan semata, melainkan anugerah Tuhan mesti dihayati. Pasangan suami istri mesti percaya bahwa Allah menghendaki pasangan itu membangun keluarga. Karenanya Ia akan memberkati, tetap menyertai dan mencintainya.
Pada tanggal 2-6 November 2015, Gereja Katolik di Indonesia menyelenggarakan Sidang Agung yang mengangkat tema “Keluarga Katolik: Sukacita Injil, Panggilan dan Perutusan Keluarga dalam Gereja dan Masyarakat indonesia yang Majemuk”. Sidang itu menghasilkan banyak hal yang perlu dijadikan pedoman demi perkembangan hidup berkeluarga katolik dan sekaligus pesan untuk para pelayan pastoral dalam reksa pastoral keluarga. Para Waligereja meneguhkan hasil Sidang Agung Gereja Katolik melalui pesan sidang KWI 2015. Keluarga Katolik mesti percaya akan rahmat sukacita dan kebahagiaan yang diberikan Tuhan bagi keluarga beriman. Karena itu, kesetiaan dalam hidup berkeluarga mesti dipegang teguh kendati ada masalah yang menghimpit dan tantangan yang menghadang. Masalah dan tantangan dan bahkan kejatuhan sekaligus, tidak mesti menyuramkan nilai-nilai perkawinan dan hidup berkeluarga. Datangnya masalah dan tantangan bahkan sering menjadi kesempatan untuk bertumbuh dalam kepribadian,iman, dan kasih disertai keyakinan bahwa Tuhan tidak meninggalkan, melainkan tetap memberi kekuatan, menyertai, dan menolong.

Peran penting keluarga sebagai pusat iman, pewartaan iman dan pembinaan kebajikan serta kasih kristiani bagi seluruh anggota keluarga perlu dihidupi oleh setiap keluarga Katolik. Dengan kesadaran itu, keluarga diharapkan mengambil siap dan langkah agar nilai-niai manusiawi dan kehiduan iman berkembang subur dalam keluarga. Memudarnya sikap dan rasa tanggung jawab untuk perkembangan dalam hal ini akan berdampak buruk bagi keluarga. Masing-masing anggota keluarga membiarkan diri dikuasai oleh keinginan-keinginan pribadi dan tidak peduli terhadap anggota keluarga. Dengan demikian anggota keluarga berkembang sendiri-sendiri sesuai dengan keinginannya. Oleh karena itu, keluarga-keluarga katolik perlu bangkit dan berbenah menuju keluarga yang setia kepada Tuhan dan menjalankan tanggung jawabnya seraya percaya akan kerahiman Allah yang tanpa batas.

Saudara-saudari terkasih

Melihat perlunya memandang dan merenungkan dengan lebih baik kerahiman Allah itu, Paus Fransiskus mencanangkan Tahun Yubelium Agung Kerahiman Ilahi yang berlangsung mulai tanggal 8 Desember 2015 sampai tanggal 20 Nvember 2016. Bagi umat Kristiani, kerahiman Allah itu nyata dalam karya dan ajaran Yesus Kristus. Kita diajak bersyukur atas kerahiman  Allah yang tanpa batas, dan mengembangkan sikap rahim seperti Bapa. Salah satu tanda kerahian Allah diterima secara nyata oleh umat Katolik adalah dalam penerimaan sakramen rekonsiliasi atau pengampunan dosa. Pada tahun Yubelium Kerahiman Ilahi ini umat Katolik didorong untuk menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya, khususnya mensyukuri kerahiman Allah dan menerima sakramen itu. Menerima sakramen rekonsiliasi itu bukan hanya menerima pengampunan atas dosa, tetapi menerima rahmat kekuatan baru untuk meningkatkan kehidupan iman di masa selanjutnya. Seperti Tuhan meminta kita yang telah menerima pengampunanNya, mesti mengampuni sesama tanpa batas,sampai tujuhpuluh kali tujuh kali (Mat 18,22).

Saudara-saudari yang terkasih,

Aksi Puasa Pembangunan tahun 2016 mengajak kita untuk bangkit dan berjuang membangun Kalimantan Baru. Segala usaha dan perjuangan itu mesti bermuara kepada kebahagiaan dan kesejahteraan bersama. Keberhasilan hanya mungkin bila diusahakan dalam kebersamaan. Saling meneguhkan, mendukung, dan membantu mesti menjadi semangatnya. Sikap peduli dan mau membantu itu mesti dilandasi iman akan perutusan Tuhan yang telah memanggil kita. Maka, setiap orang Katolik dan juga keluarga Katolik diutus untuk ikut bertanggungjawab atas hidup dan berkembangnya iman sesamanya dan kesejahteraan bersama. Perhatian dan kepedulian terhadap sesama khususnya yang menderita dan mengalami kesulitan mesti ditingkatkan. Tindakan itu mesti dilandasi oleh kerahiman dan belas kasih Allah yang telah kita terima. Sikap tidak menghakimi dan menyingkirkan sebaliknya merangkul mereka yang mengalami kesulitan, merupakan salah satu bentuk sikap rahim dan belas kasih itu.

Para pelayan pastoral juga diharapkan memiliki sikap yang menunjukkan kemurahan dan kerahiman Allah itu bagi mereka yang dilayani dan siapapun. Dengan demikian, Gereja  mesti menampulkan wajah kerahiman Allah dan bisa dirasakan oleh semua warganya. Kerahiman dan belas kasih Allah itu tidak mengenal batas. Oleh karena itu, tahun Yubelium Kerahiman Ilahi itu mesti menjadi kesempatan bagi Gereja melalui sikap dan tindakan warganya untuk menampilkan kerahiman Allah yang rahim dan penuh belas kasih bagi siapapun tanpa pandang suku, golongan agama dan latar belakangnya.

Kita serahkan segala usaha kita ke dalam karya penyelenggaraaan Tuhan disertai doa restu Ibu Maria, Bunda Kerahiman.

       + Mgr. Yustinus Harjosuanto MSF
   Administrator Keuskupan Tanjung Selor


No comments:

Post a Comment