Sunday, October 3, 2010

Kemartiran dan Doa


Kemartiran dan Doa
Relasi Pastor Stanley Rother, Pr dan Pastor John Vesey, Pr

                Berikut akan saya paparkan kisah perwartaan iman dari Pastor Stanley Rother dan Pastor John Vesey. Kisah ini saya ambil dari tulisan Henri Nouwen Love in Fearful Land. Kisah ini memberi inspirasi kepada kita bagaimana menghayati iman kepada Kristus dalam tantangan situasi jaman.  Pastor Stanley Rother (Stan) adalah seorang imam misionaris dari keuskupan Agung Oklahoma City yang melayani di Santiago selama 13 tahun, sampai kematiannya di tangan satuan pasukan pembunuh Guatemala pada tahun 1981. Sedangkan, Pastor John Vesey (John) adalah seorang imam dari Broklyn, New York yang menggantikan Stan sebagai gembala umat.
                Kisah ini merupakan hasil refleksi dan sharing rohani dengan John Vesey saat Henri Nouwen berkunjung ke Gautemala City (1984). Ketertarikan awal saya pada cerita Nouwen saat mengunjungi kamar Stan, dimana Stan dibunuh. Saat itu John menuturkan bahwa:
Karena beberapa alasan menjadi jelas bagi kami bahwa ruangan ini harus menjadi tempat kami memuji Allah atas karya-karya-Nya yang telah dan sedang Ia kerjakan di dalam umat-Nya, bersyukur atas kehidupan dan kematian Stan, dan memohon dari Dia kekuatan dan keberanian untuk melanjutkan pelayanan cinta kasih dan rekonsiliasi yang telah dijalankan Stan di antara umat-Nya.
Relasi persahabatan dan keterkaitan dengan estafet pelayanan cinta kasih inilah yang mewarnai kisah kemartiran Stan. Stan adalah pastor bonus yang mencurahkan waktunya untuk pelayanan. Nouwen mengisahkan bahwa:
Dengan begitu banyak tugas yang harus dikerjakan, begitu banyak orang yang harus dilayani, begitu banyak tempat yang harus dikunjungi, tak seorangpun yang bekerja di sana bisa merasakan kalau pekerjaan sudah beres. Selalu tersisa sebuah perasaan akan adanya akar-akar permasalahan yang sulit disentuh, waktu yang tidak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan sulitnya mendapat kesempatan untuk merefleksikan kerumitan situasi yang ada. Hidup seorang imam di Santiago Atitlan sering kali selalu diusik masalah-masalah yang hampir seluruhnya genting dan penting..
Stan tidak pernah kelihatan bingung dan kewalahan dalam menghadapi situasi itu. karakternya yang kuat dan mantap mendorongnya bekrja seharian penuh dengan ketangguhan yang tenang dan komitmen yang kuat bagi umatnya. Dia tidak mengharapkan perubahan cepat. Dia hanya berada di sana bersama umatnya dan mengerjakan apa yang dia bisa kerjakan. Setalah tiga tahun berada di paroki tersebut, dia menulis laporan bagi dewan personalia keuskupan agung asalnya, di bawah kop surat “perihal: Berencana tinggal di sini selama beberapa waktu. Pernyataan kiring itu menampakkan sebuah sifat yang tidak menyukai dramatisasi dan sadar bahwa kesabaran adalah kunci pemecahan masalah-malah yang mereka hadapi.
Digambarkan juga bagaimana Stan menghadapi situasi mencekam di Gautemala:
Ketika tanda-tanda awal bahaya muncul, gembala tidak boleh kabur dan membiarkan kawanan dombanya berjuang sendirian mempertahankan diri mereka..aku mendengar berita tentang dua orang suster di Nikaragua yang pergi selama perjuangan umatnya dan kemudian hendak kembali ke sana. Masyarakat di sana bertanya pada mereka, “Dimana kalia saat kami membutuhkan kalian?” mereka tidak bisa menjawab dan diusir pergi. Aku tidak ingin hal itu terjadi padaku. Sebagaian besar hidupku kuhabiskan di sini dan aku tidak mau kabur begitu saja.
Begitulah Stan dengan kemantaban menghadapi bahaya. Akhirnya, bahaya yang telah didengar dan diisukan beberapa orang di sekitarnya datang juga. Pada suatu malam, satuan pasukan pembunuh mendatangi tempat tinggal Stan dan masuk kamar tidurnya. Bukti-bukti yang ada (kulit terkelupas dari buku-buku jari kaki dan percikan darah di dinding ruang tidur itu) menandakan Stan telah melakukan perlawanan sengit terhadap para penyusup. Stan tidak berteriak minta tolong. Dia tahu itu percuma karena dia tidak punya peluang selamat. Harapan satu-satunya adalah mati di tempat itu dan mencegah dirinya diculik. Ketika para penculik akhirnya menyadari merka tidak bisa membawanya hidup-hidup, mereka menembak kepalanya dua kali lalu kabur, meninggalkan tubuhnya yang berlumur darah.
                Perjuangan Stan ini ternyata tidak berakhir. Sepeninggalan Stan, pelayanan rohani di Santiago Atitlan dijalankan oleh para suster. Situasi ini berlangsung selama tiga tahun. Imam baru yang melanjutkan karya Stan adalah Pastor John Vesey, Pr. John menghidupi buah kemartiran Stan dan terus mengobarkan semangat Stan. Bahkan John memperjuangkan agar para martir dikenang dan diperingati Gereja. 4 suster yang dibunuh di El Salvador (Ita Ford, Muara Clarke, Jean Donovan dan Dorothy Kazel) juga dikenang dan diceritakan oleh John. Bahkan dia menyerukan:
Bagaimana bisa kita melupakan para wanita ini yang telah  memberikan hidup mereka bagi tugas yang kita, Gereja tanggungkan kepada mereka? Apakah kematian merka bukan sebuah panggilan bagi kita untuk melanjutkan karya yang telah merekan kerjakan? Merka dibunuh karena iman mereka! Mereka menanggapi Injil dengan serius. Mereka menolong yang miskin, memberi makan yang lapar, mengobati yang sakit. Mereka merawat para pengungsi dan mereka yang tidak punya rumah. Sering kali terlihat kalau kita di Gereja Amerika Serikat ini merasa malu dan menjauhkan diri dari mereka seolah-olah mreka suatu hinaan bagi kita. Seharusnya ada kesetiakawanan ang kuat di antara para misionaris. Kita harus menghormati para martir kita dan mengangkat merka sebagai tanda-tanda harapan bagi Gereja karena mereka adalah pengingat akan kehadiran Allah yang mengasihi.
                Meskipun John sangat berkobar-kobar mewartakan pengenangan dan pewartaan kemartiran, namun pada saat ditawari untuk menggantikan Stan, dia tidak serta merta mengiyakan. Ada pergulatan dalam dirinya: “Namun, masih tersisa sebuah pertanyaan yang mengganjal. Stan adalah martir dan John sedang menempatkan dirinya sendiri di posisi yang sama berbahayanya. Tertantang oleh para sahabat, keluarga dan kolega yang mecemaskan hidupnya, John meluangkan waktu berjam-jam untuk berdoa, berusaha untuk memastikan diri: seberapa dalam keteguhannya. Menempatkan diri Anda dalam sebuah situasi bahaya yang di dalamnya hampir pasti Anda akan terbunuh adalah bentuk tak langsung dari bunuh diri. Mungkinkah dia sengaja mencari bahaya karena mengidap semacam harapan bawah sadar untuk mati atau memiliki sindrom ingin menjadi martir (martyr-complex)?”
                Pergulatan ini memurnikan panggilan John untuk melanjutkan pelayanan kasih. Dia merasakan panggilan yang kuat untuk berdoa dengan umatnya dan menjadi setia dalam perjuangan mengatasi kekerasan dan menemukan sebauah kebebasan baru untuk mencintai. Dia meyakini bahwa doa merupakan perwujudan kemartiran. Dia menegaskan bahwa “Berseru kepada Tuhan Sang Pemberi hidup di tengah-tengah kegelapan, berusaha tetap bergembira ketika berjalan melintasi lembah air mata, untuk tetap berbicara tentang perdamain ketika suara seruan perang memenuhi udara-itulah doa. Doa sungguh-sungguh adalah tindakan bergantung kepada Allah ketika semua hal dirobek-robek oleh keserakahan, kebencian, kekerasan, dan perang. John melandasi penghayatan imannya tersebut dengan seruan Santo Paulus kepada jemaat di Korentus: “Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina (I Kor 4:9-10)

               
Refleksi Nouwen pun menegaskan relasi erat doa dan kemartiran: “Dalam bentuknya yang murni, doa adalah napas ilahi dari orang-orang yang di dunia ini hendak dicekik dengan teror. Doa adalah kemartiran bagi mereka yang hidup.”


 

No comments:

Post a Comment