Wednesday, January 5, 2011

olah Rohani: Ayem Tentrem, Nrima ing Pandum, Tulung Tinulung


Ayem tentrem, narimo ing pandum, tulung tinulung ?
( ia melahirkan anak laki-laki……lalu dibungkusnya dengan lampin
dan dibaringkannya di palungan…… Luk 2, 7 ;
 sebuah coretan singkat  makna Kelahiran Baru)

Stress setelah lahir……
Dalam menghadapi kelahiran akan banyak macam tanggapan, yang jelas tidak semuanya akan mampu mengatakan syukur. Bagi pasangan suami isteri yang sedangan menantikan kehadiran sang buah hati kelahiran menjadi ungkapan syukur yang mendalam. Sebaliknya bila kelahiran itu tidak diingginkan atau diharapkan maka bukan syukur yang akan terucap mungkin juga penyesalan bahkan kesedihan. Maka tidak heran sering kita baca koran-koran dan kita lihat di layar TV ditemukan bayi yang dibuang di tenmpat sampah atau diletakan di depan pintu suatu rumah.

            Kegembiraan dan rasa syukur karena kelahiran seorang bayi di dunia akan terasa lengkap, jika saat bayi lahir juga terdengan tangisan sang bayi dari mulutnya yang mungil.  Konon katanya menurut seorang bidan atau orang yang membantu proses kelahiran, bila seorang bayi lahir harus dipukul pantatnya agar sang bayi menangis. Kalau sang bayi tidak menanggis, bayi itu dicelupkan pada air dingin. Kalau bayi itu masih tidak menanggis, dicelupkan lagi ke dalam air hangat, supaya menangis. Sebab kalau si jabang bayi tidak menangis yang menunggu tidak senang, suara tangisan sanga bayi itu memecah waktu kesunyiaan saat menunggu dan menjawab harapan yang dinanti. Dengan kata lain dapat saya katakan bahwa, si jabang bayi harus dibuat stress, supaya menangis. Kalau sudah menangis si jabang bayi itu sudah stress dan yang menunggu menjadi senang. Jadi bayi harus dibuat stress dan orang-orang akan senang melihat bayi stress. Kalau si jabang bayi tidak stress maka yang menunggui yang menjadi stress (karena pasti ada sesuatu yang tidak beres pada si jabang bayi). Dibalik itu bukan berarti memang sengaja menbuat si jabang bayi stress, namun untuk meunjukan apakah bayi yang dilahirkan memang sehat atau tidak.
Gambaran yang singkat mengenai kelahiran bayi ini menyimbulkan bahwa untuk memasuki tatanan baru memang bukan merupakan sesuatu yang mudah. Kehidupan baru memang menarik bagi manusia karena memberikan sesuatu yang baru sekaligus memberikan tantangan yang baru bagi manusia yang menyukai tantangan. Perkembangan tekhnologi memdorong manusia untuk tidak tinggal diam, tetapi sebaliknya memacu andrenalin manusia untuk berusaha memguasainya. Biar tidak ditakan sebagai kelompok yang gaptek (gagap tekhnologi), kaum muda mengatakan kurang “gaul”. Orang akan merasakan senang dan bahkan ada kepuasan tersendiri bila ia mampu mengikuti perkembangan tekhnologi. Dengan kata orang jaman sekarang lebih cenderung mengejar kemajuan tekhnologi dan berusaha untuk dapat mengikutinya dengan baik dan benar. “ Supaya jangan ketinggalan kereta “, katanya. Hal ini memang memberikan sesuatu yang baik dan positif dalam kehidupan manusia. Kecangihan tekhnologi memang banyak memberikan kemudahan bagi manusia dalam menjalani aktifitas kehidupan. Tanpa harus berpergian manusia dapat berkomunikasi dengan lancer (adanya telepon), jarak antar daerah yang cukup jauh sekarang dapat ditempuh dengan waktu yang begitu singkat (adanya alat trasportasi), dll.

Kearifan budaya luhur telah luntur……
Kata orang bijak “ kalau ingin maju dalam hidup orang harus berani untuk selalu menatap ke depan dan meninggalkan masa yang sudah lalu. Masa lalu jadikan sebagai pijakan atau pondasi bagi masa depan . Orang bijak lain mengataka “ masa lalu adalah kehidupan yang tidak dapat diulang kembal, jadi tingalakan masa lalu dan masuki serta raihlah masa depan “. Orang bijak lain berkata “ orang yang akan berhasil dalam meraih kesuksesan adalah orang yang mempu menghadapi jaman dan siap menghadapi persaingan “.
Kalimat-kalimat yang (mungkin) dapat dikatakan kalimat bijak itu, sadar tidak sadar telah memasuki dan memotivasi kehidupan masyarakat kita. Maka tidak heran keberhasilan seseorang diukur atau dinilai dari pprestasi yang mereka dapatkan. Sebagai akibat seseorang menjadi mudah putus bahkan stress kalau tidak mampu atau gagal untuk meraih prestasi. Inggat beberapa bulan yang lalu berita tetang seorang pelajar yang bunuh diri karena gagal lulus ujian. Dalam menghadapi tantang baru, bial orang sungguh tidak siap akan mudah putus asa.
Maka tidak mengherankan kalau banyak keluarga yang sungguh mempersiapkan anak-anaknya untuk menghadapi kemajuan jaman. Memang baik kalau anak-anak disiapkan menjadi orang yang memang siap menghadapai jaman dan persaingan  dalam meraih kesukesan hidup. Nanum kadang kita lupa bahwa yang perlu disipkan dalam diri anak bukan hanya kemapuan secara intelektual, ada sisi lain dari kehidupan anak untuk juga perlu untuk diperhatikan; pertumbuhan dan kewasaan pribadi dan kehidupan spiritual (rohani) anak. Dua bagian ini yang sering kali dilupakan dalam kehidupan kita, terutama pada anak-anak. Kita sering mengatakan bahwa kehidupan iman hanyalah urusan agama. Kita bisa meneladan Keluarga Kudus, dimana Maria dan Yosef memperkenalkan tradisi leluhur mereka ketika datang ke Bait Allah (Yerusalem) sebagai ungkapan perjiaran iman mereka kepada Allah ( Lih. Luk 2, 41-52; perikopa Yesus umur dua belas tahun dalam Bait Allah).
Dengan kemajuan jaman dan kemajuan tekhnologi yang tidak dapat terbendung, cepat atau lambat telah mengikis kearifan budaya nenek moyang yang luhur. Nilai-nilai kearifan dalam masyarakat kita sudah tidak lagi dihidupi oleh anak-anak generasi kita. Jangan kan dihidupi dan dihayati, mereka mengenal saja tidak. Sebagai missal falsafah jawa yang cukup sederhana “ Ayem tentrem narimo ing pandum, tulung tinulung “. (damai sejahtera meneriman apa adanya, saling tolong menolong). Kalimat yang sederhana ini memuat makna kehidupan yang sungguh mendalam. Makna yang membuat orang berusaha menciptakan suasana kedamaian atau kesejahteraan bersama dengan menerima apa adanya, saling tolong menolong. Dulu para leluhur kita dengan mudah mengulurkan tangan dan melipat lengan baju untuk saling membantu dalam bergorong royong bersama. Kebanyakan orang sekarang (meskipun tidak semua orang) lebih mementingkan kepentingan sendiri dan cukup menyuruh orang dengan memberikan upah (bagi mereka yang mampu). Meskipun sisi baiknya hal seperti ini menjadi lahan penghasilan bagi mereka yang mampu dengan memjual jasa tenaga. Keadaan dan suasana seperti ini sangat begitu mudah kita jumpai di dalam masyarakat perkotaan. Orang tidak lagi peduli dengan orang dan lingkungan sekitar. Dulu ketentraman dan keamanan lingkungan menjadi tanggung jawab bersama, sekarang hanya menjadi tanggung jawab segelintir orang (hansip, satpam atau apapun sebutannya). Maka dapat dikatakan bahwa kita telah lahir dalam dunia baru dengan meninggalkan kearifan lelulur. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yesus (kalau kita mau bercermin dari Dia). Dia memang membawa ajaran baru, yaitu Cinta Kasih, tetapi kearifan leluhur (Hukum Taurat) tidak dihilangkan, tetapi Dia sungguh menghidupi dan melaksanakannya ( Lih. Mat 5, 18 ; Perikopa tentang Yesus dan Hukum Taurat). Kita keluar dari rahim kearifan budaya leluhur dan masuk dalam dunia moderent yang penuh dengan persaingan, gaya hidup konsumerisme, mencari kesenangan sendiri dan memanfaatkan kesempatan semaksimal mungkin (aji mumpung), tanpa memperhatikan dan peduli dengan yang lain.
Situasi jaman ini juga mempengaruhi hidup beriman kita. Kehidupan imanpun dapat dikatakan mulai luntur. Iman hanya dipahami sebagai perilaku formal dalam masyarakat. Artinya orang beriman bukan karena dorongan hati manusia untuk mengarahkan hidup kepada Allah, tetapi sebatas karena keterikatan kita terhadap struktur sosial yang ada. Artinya dalam kehidupan sosial orang harus mempunyai agama. Kalau orang mempunyai agama, maka ia akan mendapatkan pelayanan dalam kehidupan social (meskipun tidak semua orang beragama seperti ini ). Hal ini dapat kita lihat dari perilaku kehidupan orang beriman. Sering kali kita berujar dalam hati kita sendiri “  katanya orang beriman tetapi kok perilakunya tidak seperi orang yang mengenal Tuhan “.  Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat bagaimana orang yang beragama tindakan dan perilaku hidupnya tidak mencerinkan sebagai orang yang beragama. Maka tidak heran bahwa sekarang untuk membangun kerukunan hidup beragama bukanlah perkara yang gampang (mudah). Keberadaan  agama lain bukan lagi dipahami dan diterima sebagai bagian dari warna hidup bermasyarakat, tetapi sebagai “hambatan atau mungkin juga ancaman ” yang harus disingkirkan. Kita dapat bertanya ” mengapa hal itu bisa terjadi? ”. Pertanyaan ini memang sulit untuk dijawab, tetapi paling tidak kita sadar akan ketidak beresan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat kita. Mau ada perubahan dan perbaikan atau tidak semua tergantung dari diri kita masing-masing, “ semoga “.

No comments:

Post a Comment