Wednesday, February 2, 2011

Pesan Bapa Suci Paus Benedictus XVI untuk Hari Perdamaian Sedunia 1 Januari 2011 KEBEBASAN BERAGAMA, JALAN MENUJU PERDAMAIAN




Di awal tahun ini saya memiliki harapan baik untuk ketenangan dan kemakmuran, dan terutama perdamaian. Tahun yang berlalu ditandai oleh penyiksaan, deskriminasi, perilaku kekerasan dan ketidak toleransian agama.

Secara khusus saya prihatin terhadap Irak, yang terus menjadi tempat pertunjukan kekerasan. Saya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah setempat yang telah bekerja untuk mengurangi kesengsaraan saudara-saudari kita ini, dan saya minta agar umat Katholik berdoa dan mendukung nafas iman saudara-saudari kita yang menjadi korban kekerasan dan ketidak toleransian ini. Di beberapa tempat di dunia ada kondisi di mana mustahil memeluk agama secara bebas tanpa mempertaruhkan hidup dan kebebasan. Di daerah lain bentuk prasangka dan permusuhan terhadap simbol agama dan kepercayaan  tampak lebih halus dan canggih. Banyak orang Kristen yang kehidupan hariannya mengalami penghinaan dan kadang hidup dalam ketakutan karena tujuan kebenaran, iman akan Kristus.

Hak kebebasan beragama berakar pada martabat manusia. Tuhan menciptakan manusia secitra dengan-Nya. Untuk itu setiap orang diberkati dengan hak suci untuk hidup sepenuhnya, termasuk dalam hal spiritual. Tanpa spiritualitasnya, tanpa keterbukaan terhadap yang transenden, manusia gagal mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang paling dalam mengenai makna kehidupan, gagal mendapatkan nilai dan prinsip yang kekal, dan gagal mendapatkan kebebasan sejati dan membangun komunitas.

Kebebasan yang bertentangan dengan Tuhan menjadi penyangkalan diri dan tidak menjamin penghormatan penuh terhadap sesama. Kemauan yang berakar pada kepercayaan diri sendiri secara radikal takkan mampu menemukan kebenaran dan kebaikan. Jika kebebasan beragama merupakan jalan menuju perdamaian, pendidikan agama merupakan jalan yang menuntun generasi baru untuk melihat sesama sebagai saudara-saudarinya, yang mana mereka dipanggil untuk bertualang dan bekerja sehingga semua akan merasa bahwa mereka hidup sebagai anggota keluarga manusia, dimana tak seorangpun akan dikecualikan.

Keluarga, sel pertama komunitas manusia, masih menjadi tempat latihan utama untuk mengharmoniskan hubungan pada semua tingkat kehidupan yang berdampingan, manusia, bangsa dan internasional. Kebijaksanaan menyarankan bahwa ini merupakan jalan jalan untuk membangun jalinan persaudaraan sosial, dimana orang-orang muda bisa dipersiapkan untuk memikul tanggung jawab yang layak dalam kehidupan, dalam komunitas bebas dan dalam semangat saling memahami dan perdamaian.

Di antara hak dan kebebasan dasar yang berakar pada martabat manusia, kebebasan beragama mendapatkan status khusus. Ketika kebebasan beragama diakui, martabat agama dihargai secara mendasar. Dan jiwa dan institusi manusia dikuatkan. Di sisi lain, ketika kebebasan beragama ditolak, dan usaha dilakukan untuk menghalangi orang untuk memeluk agama atau kepercayaannya dan hidup dengan cara itu, martabat manusia diserang, yang menghasilkan gangguan terhadap keadilan dan perdamaian yang didasari oleh aturan hak sosial yang ada dalam terang Kebenaran dan Keadilan Tertinggi.

Kebebasan beragama juga merupakan pencapaian budaya politik dan hukum. Ini merupakan sebuah kebaikan yang esensial: setiap orang harus mampu secara bebas melatih hak untuk menyatakan dan menjelma, dalam individu maupun komunitas, agama atau kepercayaannya, dalam pribadi maupun masyarakat, dalam pengajaran, dalam praktek, dalam publikasi, dalam peribadatan dan dalam ketaatan ritual. Kebebasan beragama bukan merupakan bentuk eksklusif dari kebebasan beragama, namun merupakan milik seluruh manusia di bumi.

Kebebasan beragama, seperti kebebasan lainnya, diproses dari lapisan personal dan terwujud dalam hubungan dengan orang lain. Kebebasan tanpa hubungan bukanlah kebebasan penuh. Kebebasan beragama tidaklah terbatas pada dimensi personal saja, namun juga masuk dalam komunitas seseorang dan dalam masyarakat.

Fanatisme, fundamentalisme dan praktek yang bertentangan dengan martabat manusia, tak bisa dijastifikasi dalam nama agama. Negara dan beragam komunitas manusia tak boleh lupa bahwa kebebasan beragama merupakan kondisi menuju kebenaran, dan kebenaran tak boleh dipaksakan dengan kekerasan namun “oleh kekuatan kebenaran.” Saat ini, dalam peningkatan komunitas globalisasi, orang-orang Kristen dipanggil tak hanya melalui tanggung jawab keterlibatan dalam masyarakat, ekonomi dan kehidupan politik, namun juga melalui derma dan kesaksian iman, untuk memberikan kontribusi berharga terhadap kurangnya tenaga dan menstimulasi pengejaran kebenaran, perkembangan manusia yang integral dan arah hubungan manusia yang benar. Fundamentalisme dan sekulerisme mirip dalam hal mewakili bentuk ekstrim penolakan terhadap legitimasi pluralisme dan prinsip sekularisme. Masyarakat, sebagai ekspresi perseorangan, harus hidup dan mengorganisasikan dirinya sehingga terbuka terhadap yang transenden.

Prinsip dan nilai warisan yang diekspresikan oleh kerohanian merupakan sumber pengayaan bagi masyarakat dan jiwa mereka. Ini berbicara secara langsung kepada nurani dan pikiran laki-laki dan perempuan, meminta kembali perubahan moral, dan ini mendorong praktek kebaikan dan pendekatan cinta kepada sesama sebagai saudara, sebagai anggota keluarga manusia. Dalam globalisasi yang ditandai oleh komunitas multi etnik dan multi agama, agama yang besar bisa berfungsi sebagai faktor penting kesatuan dan perdamaian manusia. Para pengikut mereka dipanggil untuk ikut memberikan ekspresi yang bertanggung jawab dalkam konteks kebebasan beragama.

Bagi Gereja, dialog diantara pengikut agama yang berbeda menyatakan pentingnya kerjasama di antara semua komunitas agama untuk kebaikan bersama. Jalan yang dilalui bukanlah jalan relativisme atau sinkritisme agama. Gereja, faktanya, “menyatakan, dan ini merupakan kewajiban untuk menyatakan tanpa gagal, Kristus yaitu jalan, kebenaran dan hidup.”

Politik dan diplomasi seharusnya mencari warisan moral dan spiritual yang ditawarkan oleh agama-agama besar di dunia. Ini berarti bertindak secara bertanggung jawab berdasar tujuan dan pengetahuan integral terhadap fakta, ini berarti bahwa dekonstruksi ideologi politik yang menggantikan kebenaran dan martabat manusia dalam rangka mempromosikan nilai-nilai palsu dengan dalih perdamaian, pembangunan dan hak asasi; ini berarti mengembangkan komitmen berdasar hukum positif dan prinsip hukum alam.

Dalam menghadapi kesulitan dunia dewasa ini, pengikut Kristus tak boleh kehilangan hati, menjadi saksi Injil, dan selalu menjadi, tanda penyangkalan terhadap ketidak benaran.

Dunia membutuhkan Tuhan. Dunia membutuhkan nilai-nilai universal, etikal dan spiritual, dan agama menawarkan kontribusi yang sesuai untuk membangun aturan sosial yang sesuai pada tingkat nasional dan internasional. Perdamaian adalah karunia Tuhan dan pada saat bersamaan merupakan tugas yang tak pernah usai.

Kebebasan beragama merupakan senjata ampuh untuk mewujudkan perdamaian, dengan misi sejarah dan kenabian. Perdamaian memberikan buah kualitas terdalam dan potensi manusia, kualitas yang bisa mengubah dunia dan menjadikannya lebih baik. Perdamaian memberikan harapan untuk keadilan dan perdamaian masa depan, meski berhadapan dengan kuburan ketidak adilan dan kemiskinan materi dan moral. Semua laki-laki dan perempuan, dan masyarakat di semua tingkatan dan di semua bagian dunia akan mampu mengalami kebebasan beragama, jalan menuju perdamaian.

Vatican, 8 Desember 2010
Benedictus PP XVI.


No comments:

Post a Comment