Saturday, April 3, 2010

Tahbisan Pastor SIlverter Wengi Laxar, Pr


“Celakalah Aku Jika Aku Tidak Memberitakan Injil”
(I Kor: 9:16c)

                Minggu tanggal 24 Oktober 2010 merupakan hari bersejarah bagi umat Keuskupan Tanjung Selor, terlebih khusus umat Paroki St. Carolus Sekatak, dimana seorang putera Katolik mengucapkan janji setianya di hadapan Tuhan, Uskup, para Imam dan seluruh umat yang hadir menjadi seorang diakon. Dia adalah Diakon SILVERTER WENGI LAXAR, Pr. Putra kedua dari lima bersaudara anak dari pasangan bapak Agustinus dan Ibu Veronika.

                Puncak perayaan dimulai pukul 09.00 s/d selesai. Tempat Gereja St. Carolus Sekatak dan yang menjadi Conselebran utama adalah Yang Mulia Bapak Uskup, didampingi oleh para imam. Dihadiri para suster, pihak pemerintah Bapak Wakil Bupati beserta stafnya, para tokoh masyarakat, beberapa utusan mat paroki umat paroki Katedral dan seluruh umat paroki Sekatak. Upacara ini sangat meriah apalagi baru terjadi pertama kali di paroki Sekatak, sungguh peristiwa yang sangat menggembirakan dan membahagiakan bagi kita semua. Apalagi diiringi lagu dan tarian yang meriah yang dibawakan oleh siswa-siswi SMU  Negeri 1 dan Putra-putri Cilik Sekatak. Saudara/I ketahui bahwa Tarian ini ada 2 motif yakni Tarian Timur (Flores) dan Tarian Dayak. Inilah anugerah istimewa yang diberikan Tuhan kepada kita secara khusus kepada Sang Yubilaris.
                Adapun dalam khotbahnya Bapak Uskup mengatakan bahwa menjadi seorang Diakon siap untuk melayani dimana saja ditempatkan. Seperti para murid yang begitu setia mengikuti Yesus atau Sang Gurunya. Kalimat ini diperkuat oleh firman Tuhan yang terdapat pada Injil Yohanes 12:26a sabda Tuhan, Barang siapa melayani Aku, ia harus mengikuti Aku dan dimanda Aku berada di situpun pelayananKu berada. Diakon adalah pelayan Yesus Kristus dan sesamanya, ia harus hidup selaras dengan kehendak Allah, melayani Allah dan sesamanya dengan penuh kasih dan kegembiraan. Segala bentuk ketidaksucian dan ketamakan hendaknya di hindari. Manusia tidak bisa mengabdi dua tuan. Diakon tidak hanya menjadi pendengar sabda, tetapi juga mewartakan lewat mulut, hendaknya juga dilakasanakan dalam perbuatan. Bawalah setiap orang kepada Allah, semoga nanti Allah akan bersabda kepada Diakon: :Engkau hamba yang setia, masuklah dalam kegembiraan Tuhanmu.
                Dalam sambutannya, Sang Yubilaris mengatakan bahwa ditahbiskan menjadi Diakon bukan sekedar pilihan hidup, tetapi sebuah anugerah Cuma-Cuma dari Tuhan yang melampaui keterbatasan dan kelamahan saya. Tuhan juga membekali dengan anugerah-anugerah lain agar mampu dalam menjalankan perutusan ini. Dan semuanya itu, Ia tetap berikan dengan Cuma-Cuma. Apalagi yang mesti dikawatirkan? Maka, Celakalah aku jika tidak memberitakan injil. Karena itu telah mengangkat aku dari debu yang fana dan kelemahan menjdai berguna bagi semua orang. hanya ini ucapan terima kasih yang dapat aku berkan kepada Tuhan, akni menyerahkan diri secara total untuk mengabdi-Nya sebagai seorang Diakon.

                Acara tahbisan adalah sebagai berikut:
-          Upacara pentahbisan
-          Sambutan-sambutan:
o   Ketua panitia
o   Keluarga Diakon Silverter Wengi lazar
o   Diakon Siverter Wengi Lazar
o   Pator paroki
o   Camat Sekatak
o   Wakil Bupatin
o   Bapak uskup
-          Acara Resepsi diselingi dengan lagi dan tarian

No comments:

Post a Comment