Sunday, January 13, 2019

Pentahbisan Gereja Katolik Santo Gabriel Nunukan

Pentahbisan Gereja Katolik Santo Gabriel Nunukan
“Tempat ini telah Kupilih dan Kukuduskan, supaya nama-Ku tinggal di sini sepanjang masa “ (2 Taw.7:16)

Hari minggu tanggal 07 Oktober 2018 menjadi hari bersejarah bagi  umat katolik di Nunukan, kota perbatasan di Kalimantan Utara. Harapan dan semangat memiliki gedung gereja baru sudah terwujud. Semangat itu nampak terlihat dua minggu menjelang acara pentahbisan. Semua umat baik tua dan muda berbondong-bondong, bahu membahu membantu panitia mempersiapkan segala sesuatu untuk acara tersebut, mulai dari membersihkan dan meratakan jalan dan halaman gereja; mendirikan tenda, memasang sound system gereja, lampu dalam gereja sampai persiapan liturgis pentahbisan (koor dan petugas lainnya). Semuanya serba sibuk dan antusias mempersiapkan acara ini.
Hari minggu pagi tepat pkl.07.30 wita Uskup Tanjung Selor, Mgr. Dr.Paulinus Yan Olla,MFS tiba bersama rombongan para pastor didampingi Pastor Paroki Nunukan, Pastor Antonio M. Razolli,OFMConv di pintu gerbang gereja katolik. Bapak Uskup dan rombongan di sambut oleh perwakilan umat yang mengenahkan pakaian adat beberapa etnis sabagai symbol kebhinekaan dan kemajemukan umat yang ada di paroki St.Gabriel Nunukan. Bapak uskup langsung dikalungkan bunga dan kalung khas dayak sebagai symbol kekuatan dan pemersatu bagi semua umat di wilayah perbatasan Kalimantan utara. Rombongan Uskup diarak menunju rumah pastoran untuk persiapan misa pentahbisan. Semua umat terlihat riang gembira, suka cita menyambut kehadiran uskup yang pertama kali datang di Nunukan setelah ditahbiskan menjadi uskup.

MisaPentahbisan dimulai tepat pkl.08.00 wita. Dimulai dengan perarakan dari rumah pastoran, tarian perarakan oleh  anak-anak komuni pertama yang mengenahkan kostum serba putih, mengiringi rombongan Uskup, para pastor, misdinar, lektor dan petugas lainnya menuju pintu utama gereja. Awal dari prosesi pentahbisan dimulai. Di depan pintu utama gereja, Pastor paroki Santo Gabriel Nunukan, yang didampingi Ketua Panitia Pembangunan dan Kontraktor bangunan gereja, mewakili semua umat katolik Nunukan memohon kepada Uskup agar mentahbiskan gereja katolik agar bisa digunakan untuk tempat memuliahkan Tuhan. “Dengan ini saya atas nama umat katolik Paroki Santo Gabriel Nunukan, panitia pembangunan dan bapa kontraktor, saya serahkan gereja ini agar bapa uskup mentahbiskannya dan menambah sedikt berkat untuk kita umat semua supaya dalam memuliahkan Allah kita menemukan kesatuan yang oke punya dengan Kristus. Sekian.” ungkap Pastor Antonio dalam kata pembukaannya. Kunci pintu gereja utama diserahkan ke tangan bapa uskup oleh kontraktor gereja, Bapa Sundi Sinar Agung. Bapa Uskup mengunting pita dan sambil memberi tanda kemenangan Kristus bapa uskup berkata,”saudara-saudari terkasih, kita berkumpul di sini untuk mempersembahkan gedung gereja katolik Santo Gabriel Nunukan Keuskupan Tanjung Selor ini, secara meriah kita persembahkan kepada Tuhan, maka marilah kita memohon kepada Allah Tuhan kita agar kita berkenan memberkati gedung ini. Tuhan sendiri membantu kita dengan rahmat-Nya agar kita tetap setia dalam iman kita dalam gereja-Nya sesuai dengan bimbingan Roh-Nya yang sudah kita terima. Marilah umat silakan untuk masuk di gereja kita ini”. Bapa uskup membuka pintu utama dan mengajak semua umat masuk ke dalam gereja. Umat bertepuk tangan riang gembira dan suka cita. Dalam homilinya, bapa uskup menyampaikan ungkapan rasa kegembiraan Umat paroki santo Gabriel Nunukan “pada hari ini kita melihat suasana yang penuh kegembiraan. Kegembiraan yang diungkapkan dengan berbagai cara yang berbeda-beda”. Lebih lanjut bapa uskup menyatakan bahwa tradisi gereja katolik menegaskan gereja memiliki makna yang lebih dalam, tidak hanya sekedar satu bangunan fisik tetapi kesatuan orang-orang beriman. Arti gereja sendiri Ecslesia adalah orang-orang yang mendengar suara Tuhan. Diakhir Homilinya,Bapa uskup menegaskan bahwa Gereja katolik menjadi Eclesia Domestica (Gereja Rumah Tangga) maka sekalipun gedung gereja ini roboh, tetapi keluarga katolik kuat, tidak akan menangisinya karena imannya sangat kuat. “Batu-batu ini tersusun atas dasar iman umat katolik di Nunukan ini” pungkas bapa uskup. Setelah homily, Bapa uskup memberkati Altar, Tabernakel, mimbar bacaan dan 12 tiang penyangga utama gereja.

Acara selanjutnya setelah perayaan misa yaitu penandatanganan prasasti. Didamping oleh Pastor Paroki, Ketua Panitia Pembangunan, Bapa andreas Pendai dan Kontraktor bangunan, Bapa Sundi Sinar Agung, bapa uskup menandatangani prasasti. Setelah penandatanganan prasasti, bapa uskup menutup dengan berkat meriah. Umat pun bersuka cita dengan selasainya upacara misa pentahbisan tersebut. Ungkapan kegembiraan umat dipadukan dalam acara resepsi bersama yang dihadiri oleh semua lapisan masyarakat dan instansi pemerintah Kabupaten Nunukan. Bupati Nunukan, Hj.Asmin Laura Hafid langsung menghadiri acara ini. Dalam sambutannya Bupati Nunukan sangat berharap agar suasan kehidupan antar umat beragam tetap terjaga dan terjalin dengan baik. “Mari saling menghargai perbedaan itu” kata Ibu Laura. Kemeriahan acara ini tidak berhenti sampai siang itu. Pada malam hari, pesta dilanjutkan dengan hiburan umat/rakyat yang dimerihkan oleh artis local bertarif nasional. Mereka adalah Mario G.Klau, finalis Voice of Indonesia, Babo dan Rif Fals, ketiganya putra asli NTT yang diundang langsung oleh Takimaka Entertain.

Perjuangan untuk membangun gereja katolik baru membutuhkan energy, waktu dan dana yang tidak sedikt. Butuh waktu enam tahun untuk mewujudkan mimpi itu. Berawal dari peletakan batu pertama pada tanggal 24 maret 2012 oleh Bupati Nunukan saat itu, Drs.Basri dan Uskup Tanjung Selor, Mgr. Yustinus Hardjosusanto,MSF, umat paroki santo Gabriel Nunukan mulai membangun gereja katolik yang baru. Hanya modal semangat gotong royong dengan partisipasi iuran pembangunan setiap keluarga 1000 rupiah setiap hari, kami dapat mendirikan bangunan megah dengan struktur bangunan yang unik dan gereja terbesar di Kalimantan Utara dengan luas bangunan 1.500 M2 dan menampung umat sebanyak 2000 umat. Semangat yang sangat luar biasa datang dari Pastor Antonio M. Razzoli, seorang pastor dari ordo Fransiskan Conventual (OFMConv) yang menjadi pastor paroki Santo Gabriel Nunukan sejak tahun 2012. Struktur bangunan unik dan menggunakan batu alam adalah hasil karya Pastor Antonio. Dalam wawancara khusus dengan pastor berbadan tinggi besar ini, kami mendapatkan cerita tentang nilai filosofis dari bangunan gereja ini. Kalau kita melihat dari luar, bangunan gereja ini berbentuk bundar/bulat. Pastor Antoni menjelaskan bahwa itu sebenarnya adalah sebuah titik awal membentuk lingkaran dan lingkaran awal adalah di panti imam. Kemudian membentuk 7 lingkaran tangga koor dan diding jendela yang melambangkan 7 sakramen suci dalam gereja katolik. Kemudian di atas altar itu terpancar cahaya matahari dari atas melambangkan bahwa cahaya kehidupan yang kita butuhkan untuk menerangi kehidupan kita itu datang dari langit, datang dari surga dan datang dari Allah sendiri. Inspirasi Pastor paroki menggunakan batu alam untuk dinding bangunan karena batu itu melambangkan keabadian. Altar dan mimbar bacaan juga dari batu alam menyatakan bahwa ungkapan iman kita menghargai hasil karya ciptaan Allah untuk  kita gunakan sebagai saran memuliahkan Allah sendiri. Di Indonesia, baru dua bangunan gereja dengan model seperti ini yaitu di Kefamenanu, NTT dan Nunukan, Kalimantan Utara. Diakhir wawancara Pastor Antonio menyatakan kesan dan harapan untuk umat katolik yang ada di Nunukan. “Partisipasi dan suasana menunjukan kegembiraan umat. Maka saya mengajak umat semua untuk semakin hari semakin menghormati gereja ini sebagai 100 % Rumah Doa. Bagaimana umat beriman bertemu memuliahkan Allah di dalam kebersamaanpesan Pastor. Kado istimewa juga buat umat paroki Santo Gabriel Nunukan karena pada tahun ini merayahkan Hari Ulang Tahun Paroki ke-34 pada tanggal 29 September 2018 yang lalu.

Penulis: Arsenius Sele,S.Pd
Ketua DPP St.Gabriel Nunukan
Sumber:File dokomentasi Panitia Pentahbisan Gereja

No comments:

Post a Comment